Warga Antusias Nikmati Wayangan

176
BUDAYA : Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto (baju batik), pemerhati budaya Sugiono (baju putih) dalam pagelaran wayang di Lapangan Wonolopo, Mijen, Sabtu malam (1/9) kemarin. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUDAYA : Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto (baju batik), pemerhati budaya Sugiono (baju putih) dalam pagelaran wayang di Lapangan Wonolopo, Mijen, Sabtu malam (1/9) kemarin. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Pemprov dan DPRD Jateng berusaha mempertahankan budaya lokal. Kali ini, menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Lapangan Dukuh Krajan Lor RT 4 RW 5 Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Semarang, Sabtu malam (1/9) kemarin.

Pagelaran wayang dengan lakon Gatutkaca Winisuda itu disambut antusias masyarakat Kota Semarang. Meski diguyur hujan, tidak menghilangkan semangat melekan dan menikmati pagelaran tersebut. Tidak hanya orangtua, kaum muda juga turut menikmatinya. “Antusiasme ini membuktikan masih banyak yang peduli dengan kebudayaan lokal. Sehingga perlu bareng-bareng nguri-nguri budaya,” kata anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto mengapresiasi kegiatan pegelaran wayang tersebut.

Pemerhati Budaya Sugiono dan Komisioner Komnas Perlindungan Anak Kota Semarang, Enar Ratriany Assa turut hadir. “Yang main wayang kebanyakan orang tua. Jika pagelaran wayang tidak sering-sering digelar, kalah dengan konser-konser musik atau budaya barat, lama-lama budaya asli Indonesia habis,” kata Sugiono.

Dalam kesempatan itu, sejumlah penonton termasuk anak-anak diajak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, menampilkan hafalan teks proklamasi, serta menyebutkan sila-sila Pancasila. Ada juga anak yang menampilkan hafalan surat-surat pendek dalam Alquran. “Kami berharap ini sebagai upaya menjaga nilai-nilai kebangsaan serta memupuk rasa cinta pada NKRI. Anak-anak harus terus dikenalkan sejak dini,” tambahnya.

Di tengah modernisasi seperti sekarang memang dibutuhkan inovasi agar pagelaran wayang atau kesenian tradisional bisa terus menarik. “Butuh inovasi agar kebudayaan tradisional tidak lekang oleh zaman dan anak-anak muda bisa terus tertarik melestarikannya,” tambah Enar Ratriany. (fth/ida)