Terlalu Mahal, Nelayan Keberatan

Wajib Gunakan Radio Maritim

171
GRAFIS: DEKA/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: DEKA/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Pemilik kapal nelayan berukuran 10-30 GT diwajibkan mengganti alat komunikasinya dengan perangkat radio maritim. Sebab, gelombang frekuensi dari alat komunikasi yang usang milik nelayan dinilai mengganggu penerbangan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah, Lalu Syafriadi mengatakan bahwa selama ini masih banyak kapal nelayan yang menggunakan frekuensi tidak sebagaimana mestinya. Sehingga, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan hal ini membahayakan keselamatan, termasuk penerbangan. ”Sudah banyak nelayan yang menggunakan radio. Namun perangkat radio all ban yang frekuensinya mengganggu penerbangan,” kata dia.

Dalam pengoperasionalan radio maritim ini, dikatakan Lalu, akan ada sejumlah pelatihan. Dengan demikian, nahkoda dapat menggunakan gelombang radio dengan baik dan tepat sasaran. Ia contohkan, frekuensi panggilan SOS tidak digunakan untuk mengobrol. ”Ini akan ada jeda waktu penggunaannya sembari kita lakukan sosialisasi,” jelasnya.

Data DKP Jawa Tengah, saat ini ada sekitar 24 ribu lebih kapal nelayan dengan berbagai ukuran. Sementara yang terdata ukuran 30 GT mencapai 2.000 lebih kapal. Sebagai langkah awal, pihaknya segera menyalurkan 143 unit radio maritim berstandar internasional kepada kapal nelayang berukuran 10–30 GT.

Di lain pihak, sejumlah nelayan merasa keberatan dengan kebijakan penggantian alat komunikasi. Mereka merasa harga radio yang ditawarkan Kominfo terlalu mahal sehingga dirasa membebani. ”Harga radionya saja Rp 25 juta. Tentunya sangat membebani kami, karena biaya pembelian radio dari Kominfo harus dimasukkan dalam ongkos perbekalan ABK,” kata Kamari, nahkoda dari Paguyuban Rukun Santoso Pati.

Ia menambahkan, sejak tahun 1998 hingga saat ini berlayar di lautan lepas, dirinya belum pernah mendapatkan peringatan dari syahbandar terkait frekuensi alat komunikasinya. ”Artinya ini tidak ada masalah. Kalaupun ada keluhan, pasti sudah diperingatkan sejak dulu kan/” ujarnya sembari mempertanyakan kenapa baru dipermasalahkan sekarang. (sga/ida)