Pengunjung Keluhkan Transaksi Nontunai Dinilai Ribet

Di Balik Pasar Semarangan Tinjomoyo Tutup

283
MANGKRAK: Empat pengunjung berfoto selfie di antara lapak Pasar Semarangan Tinjomoyo yang sudah tidak buka lagi sejak 30 Juni 2018 lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANGKRAK: Empat pengunjung berfoto selfie di antara lapak Pasar Semarangan Tinjomoyo yang sudah tidak buka lagi sejak 30 Juni 2018 lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Pasar Semarangan di Hutan Wisata Tinjomoyo, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang diresmikan pada 7 April 2018 lalu. Pasar yang diandalkan menjadi wisata digital baru untuk meramaikan dunia pariwisata ini nyatanya hanya seumur jagung. Sejak 30 Juni 2018, Pasar Semarangan sudah tidak buka.

SABTU sore, 1 September 2018, suasana  Hutan Wisata Tinjomoyo tampak lengang.  Hanya terlihat beberapa pasang muda-mudi yang duduk di lapak kosong yang seharusnya difungsikan sebagai tempat berjualan Pasar Semarangan. Tidak satupun penjual mengisi lapak yang disediakan tersebut. Hanya terdapat saung-saung yang mulai rusak dengan atap yang mulai berlubang seperti tak terawat.

Beberapa hiasan papan nama di setiap lapak tersebut pun mulai terlepas dan berjatuhan dengan cat yang mulai mbladus. Sampah-sampah plastik berserakan di lorong  lapak. Jalan berpaving juga penuh sampah daun kering. Bahkan di beberapa titik, sampah daun kering tampak menggunung.

Sampai saat ini, tidak jelas kapan pasar yang sempat Instagramable tersebut akan dibuka lagi. “Sudah sejak lebaran Idul Fitri lalu tidak buka lagi. Saya sendiri tidak tahu alasannya kenapa kok tutup,” ungkap Didit, penjaga loket dan tukang kebun di Pasar Semarangan Tinjomoyo.

Didit mengungkapkan, sebetulnya tak sedikit pengunjung yang datang selama ditutupnya pasar tersebut. Begitu tahu Pasar Semarang tutup, para pengunjung merasa kecewa. Bahkan ada yang menyampaikan keluhan ke pengelola hutan wisata Tinjomoyo.

“Banyak yang kesini, tapi pada kecele. Terus banyak yang nanya ke saya, saya sampai bingung mau jawab apa. Lha wong saya juga tidak tahu,” katanya.

Berdasarkan informasi yang Didit dapatkan, pasar tersebut akan kembali beroperasi pada minggu kedua September mendatang. Namun ia tidak berani memastikannya apakah benar akan berjalan seperti konsep awalnya. “Kalau menurut informasi yang saya  dengar, minggu kedua bulan September ini bakal dibuka lagi. Tapi saya tidak berani memastikan. Soalnya itu masih dengar-dengar aja,” ujarnya.

Zahra, salah satu pengunjung Hutan Wisata Tinjomoyo mengaku kecewa karena Pasar Semarangan ternyata tutup. “Niatnya mau lihat-lihat karena penasaran sama pasarnya. Tidak tahunya malah  sudah tutup,” ucapnya kecewa.

Meskipun demikian, Zahra merasa terobati dengan adanya pemandangan dan desain Pasar Semarangan yang klasik modern dan Instagramable. “Daripada jauh-jauh tapi gak dapat apa-apa karena tutup, ya sudah kita memanfaatkan buat nyari spot foto-foto saja seperti di pasar, di jembatan, dan di hutan,” katanya mengobati kekecewaan.

Pengunjung lainnya, Indah Fitria, juga kecewa dengan tutupnya Pasar Semarangan. “Baru tujuh kali buka, kok udah tutup. Penginnya sih dibuka lagi,” ujar Indah Fitria.

Penjaga loket Hutan Wisata Tinjomoyo lainnya, Agus, memperkirakan penyebab tutupnya Pasar Semarangan karena sepi pengunjung. Hal itu dikarenakan masyarakat tidak terbiasa dengan perangkat digital dalam transaksi di pasar ini. “Sepengetahuan saya alasan pengunjung sepi karena mereka tidak terbiasa menggunakan transaksi uang nontunai,” katanya.

Didukung oleh BNI, seluruh transaksi yang dilakukan pembeli dan penjual manggunakan transaksi digital. Meski pengunjung BNI tidak memiliki rekening BNI, transaksi nontunai tetap dapat dilakukan menggunakan Tap Cash dan Yap! Cukup berikan deposit pada akun Yap!

Ketua RT 1 RW 8 Sukorejo, Slamet, mengakui kendala pengunjung sepi karena tidak terbiasa menggunakan perangkat digital. “Pengunjung soalnya banyak orang desa dan menengah ke bawah, jadi ya gak terbiasa pakai begituan. Meskipun ada yang jualan kartu, tapi tetap sepi sebab dinilai ribet, tidak terbiasa menggunakan digital,” tuturnya.

Saat pertama kali buka, pengunjung pasar bisa mencapai ribuan orang, sedangkan ketika tutup pengunjung hanya berkisar puluhan saja. “Waktu awal buka, pengunjung bisa mencapai seribu orang lebih. Kalau hari biasa hanya berkisar lima puluhan. Pas ada komunitas kumpul di sini, pengunjungnya lumyaan, biasanya setiap hari Sabtu-Minggu bisa mencapai ratusan orang,” ujar Kepala UPTD Wisata Tinjomoyo, Bambang Hadi Pramono.

Bambang mengakui, pasar tersebut tutup karena pengunjung banyak yang mengeluhkan sistem yang diterapkan.  Mereka harus registrasi online dan memiliki kartu elektronik untuk dapat membeli jajanan di vendor. Selain itu, harga mahal juga menjadi penyebab utama pengunjung engan untuk membeli di vendor yang tergabung dalam Pokdarwis.

“Misalnya beli kartu Rp 50 ribu, tapi isinya Rp 30 ribu. Kan kalau beli makanan di luar sudah dapat banyak, tuh. Sedangkan kalau beli di sini cuma dapat sedikit. Berdasarkan dari pengamatan saya, sepinya pengunjung juga disebabkan karena para vendor yang kurang serius. Karena tergabung Pokdarwis, jadi mereka ya terkadang enggan jualan, banyak yang izin rewang-lah, dan sebagainya. Akibatnya vendor lain pada ikut-ikutan izin. Kalau mereka berjualan karena sebagai mata pencaharian, pasti rajin dalam berjualannya,” paparnya.

Bambang menambahkan, pemerintah kota dan pihak terkait berencana akan membuka kembali pasar pada pertengahan September.  Kali ini, akan dibuka hanya Minggu pagi saja. “Nanti dibuka lagi berbarengan dengan Festivaland pada tanggal 14-16 Sepetember. Tapi, rencananya mau dibuat dengan sistem yang lebih luwes, biar pengunjung lebih mudah menggunakan transaksi,” ujarnya.

Ketua Pokdarwis setempat Widodo menjelaskan, vendor yang tergabung di dalam Pokdarwis di Pasar Semarangan berasal dari Mijen, Semarang dan sekitarnya. Penghasilan yang mereka dapat tidak menentu, karena jumlah pembeli yang tidak pasti juga. Setidaknya ada 25 outlet kuliner yang disediakan dalam setiap penyelenggaraan Pasar Semarangan setiap Sabtu malam.

“Sebenarnya kuliner di sini sangat menjual. Ada makanan tradisional dari empat etnis, yakni Arab, Jawa, China, dan Belanda. Ini melambangkan etnis yang mendiami Kota Semarang. Misalnya, kuliner dari Arab yang dijajakan seperti Nasi Kebuli Khoja dan Kubz Khoja. Jawa menjajakan Sego Kethek, Nasi Sambel Uleg. China menjajakan Siomay, pangsit Mayosan. dan Belanda menjajakan burger,” tuturnya.  (mg9/mg12/mg10/mg8/mg7/mg11/mg13/mg14/aro)