Dua Jam tanpa Televisi di Batang

110
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)

RADARSEMARANG.COM, JUMAT lalu saya sengaja salat maghrib di masjid Dukuh Bon Alas, Besito, Kudus. Masjidnya baru. Malah belum selesai seluruhnya. Atap bagian tengah masih sementara. Menggunakan asbes. Jemaahnya dua baris panjang. Imamnya dari kampung setempat. Bacaan suratnya menggunakan murottal (gaya membaca alquran) ala Abdul Rahman Al-Sudais). Kebetulan saya suka gaya itu.  Datar, tidak tergesa-gesa, dan tartilnya jelas.

Saya persis di belakang imam. Di kanan dan kiri saya bapak-bapak setengah tua dan para pemuda. Di baris belakang ada anak-anak. Tak terlihat bapak-bapak yang sudah sepuh. Jamaah dua baris itu sudah banyak. Maklum, kampung itu hanya terdiri atas dua RT (rukun tetangga). Sebagian besar penduduknya pendatang. Nyaris tinggal lima orang yang termasuk generasi asli kampung itu.

Usai salat saya menyempatkan masuk kampung. Suasana di gang-gang relatif sepi. Namun banyak pintu rumah terbuka. Dari jalan terlihat beberapa keluarga bercengkerama di ruang tamu. Ada yang di teras. Saya tak melihat TV menyala. TV itulah yang memang ingin saya amati selepas maghrib. Ada kesepakatan warga, mereka tidak menyalakan TV dua jam sejak maghrib.

Bagi dunia pertelevisian, dua jam sejak maghrib adalah jam yang paling disukai masyarakat untuk menonton televisi. Istilahnya prime time. Televisi berlomba menanyangkan siarannya yang paling banyak mendatangkan uang. Mereka tak peduli isi. Masyarakat terjebak. Warga Bon Alas kemudian sadar. Mereka membikin gerakan.

Keluarga yang sepakat tidak menyalakan TV setelah maghrib itu memasang stiker di kaca atau tembok depan rumah. “Itu stikernya,” ujar Kiai Imam Fathoni menunjuk stiker yang tertempel di kaca depan ruang tamu. Ustad Toni – panggilan lain Imam Fathoni – adalah salah seorang pemrakarsa pembatasan televisi.

Saya ke rumah Kiai Toni sekalian untuk mengundang beliau memimpin doa bersama di Jawa Pos Radar Kudus tanggal 2 Muharram nanti.  Rumahnya dipenuhi tanaman hidroponik. Bahkan lantai dua sengaja digunakan untuk itu. Banyak masyarakat, baik perorangan maupun lembaga, yang belajar ke rumahnya. Saat maghrib rumahnya dipergunakan untuk mengaji anak-anak.

Dari rumah Kiai Toni barulah saya melihat satu rumah yang TV-nya menyala. Tetapi, saya tidak melihat orang di depan televisi itu. Kiai Toni memaklumi. Memang tidak seluruh warga mematikan televisi. Hanya sekitar 80 persen. Itu sudah bagus.

Kampung Bon Alas tergolong kampung baru. Dulu hanya tempat pembuatan genting. Lama-lama pengrajinnya tinggal di situ. Penduduknya heterogen. Dulu banyak orang yang “minum.” “Sekarang tidak ada lagi,” ujar Kiai Toni.

Saya sangat tertarik akan perubahan Kampung Bon Alas itu. Khususnya komitmen warga untuk memajukan pendidikan anak-anak. Sangat tidak gampang. Di Kabupaten Batang, sampai harus dibikinkan peraturan daerah (perda). Sedangkan di Bon Alas hanya dengan kesepakatan warga.

Awalnya, kata Kiai Toni, warga makan-makan dengan mambakar ikan lele. Tentu sambil ngobrol ngalor-ngidul. Terlontarlah gagasan untuk memfokuskan perhatian anak-anak pada pendidikan, khususnya keagamaan. “Kalau maghrib anak-anak ke masjid (satu-satunya tempat ibadah di dukuh itu). Setelah itu mengaji atau belajar,” jelas ustad Toni.

Di Batang, gagasan untuk memajukan pendidikan itu diwacanakan sekitar delapan tahun lalu. Pada 2013 pemerintah menetapkan perda tentang Pengelolaan Pendidikan. Itupun belum bisa langsung terwujud. Minggu lalu baru dicanangkan gerakan mematikan televisi dan telepon seluler saat maghrib hingga dua jam kemudian. Bupati Wihaji sendiri yang mencanangkan.

Wihaji sudah lama mengamati kebiasaan warganya. Setiap kali melakukan kunjungan daerah dia mendapati kenyataan, komunikasi orang tua dengan anak-anak dilakukan dengan telepon seluler. Pertemuan langsung berkurang banyak. Padahal pendidikan adalah penularan. Wihaji ingin dua jam pukul 18.00 – 20.00 bisa digunakan untuk interaksi orang tua dengan anaknya secara langsung.

Wihaji memiliki banyak gagasan untuk memajukan masyarakatnya. Saya pernah bertemu beliau di kantornya. Ketika itu saya dipameri sistem online yang sedang dikembangkan. Dia cukup duduk di kursi melihat layar besar selebar tembok di ruang pertemuan. Ingin melhat angka kematian cukup menekan tombol. Demikian juga kelahiran, pembayaran santunan, pembayaran pajak, dan sebagainya.

Saya membayangkan kalau gerakan mematikan televisi dan telepon seluler di rumah bisa dipantau secara online, kemungkinan gerakan belajar anak-anak selepas maghrib akan berhasil. Sistem di Batang memungkinkan untuk itu. Aparatnya bisa memasukkan data warga yang telah mamatikan televisi dan telepon seluler saat maghrib. Bupati tinggal memantaunya.

Tentu gerakan pendidikan di Batang akan lebih berhasil manakala bisa diserap warganya dengan hati nurani. Kampung Bon Alas berhasil karena idenya murni dari warga. Pelaksanaannya atas dasar hati nurani. Tidak ada paksaan. Kampung-kampung lain bisa menirunya. Kalau kesulitan silakan berkonsultasi ke Kiai Toni, pemrakarsanya. (hq@jawapos.co.id)