Akan Buka Lagi setiap Minggu Pagi

662
MANGKRAK: Empat pengunjung berfoto selfie di antara lapak Pasar Semarangan Tinjomoyo yang sudah tidak buka lagi sejak 30 Juni 2018 lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANGKRAK: Empat pengunjung berfoto selfie di antara lapak Pasar Semarangan Tinjomoyo yang sudah tidak buka lagi sejak 30 Juni 2018 lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – KOMUNITAS Generasi Pesona Indonesia (GenPI) membantah jika Pasar Semarangan Tinjomoyo disebut mangkrak. Pasar ini tidak buka sementara lantaran sedang dilakukan evaluasi dan pembenahan manajemen secara internal. Evaluasi ini menyusul sistem pembayaran secara nontuani yang diterapkan di Pasar Semarangan dinilai tidak maksimal.

Juragan Pasar Semarangan yang juga anggota GenPI, Mei Kristanti, menyebutkan, evaluasi ini dilakukan lantaran pihaknya menilai masyarakat Kota Semarang ternyata belum siap dalam penerapan pembayaran digital melalui Tap Cash Semarang Hebat. Ketidaksiapan masyarakat ini berdampak pada penurunan drastis pengunjung Pasar Semarangan.

“Setelah kita evaluasi, ternyata transaksi nontunai belum cocok bagi masyarakat Semarang. Lapaknya juga sedang kita evaluasi. Jadi, tidak benar kalau tutup,” tegas Mei saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (1/9).

Di sisi lain, Mei menyayangkan adanya pihak-pihak yang justru menyudutkan komunitasnya sebagai pengelola dan menyebut jika Pasar Semarangan ditutup. Pasalnya, evaluasi yang dilakukan pihaknya merupakan bagian dari peningkatan bagi Pasar Semarangan.

“Pasar Semarangan ini kan tujuannya untuk bisa meramaikan kawasan Hutan Wisata Tinjomoyo, dan ini dari komunitas tidak menggunakan APBD Kota Semarang. Pasar Semarangan ini kan bentuk kepedulian kita ke Semarang juga,” terangnya.

Mei menjelaskan, terdapat sejumlah kendala yang telah dievaluasi oleh pihaknya usai berjalannya kegiatan di Pasar Semarangan. Terutama adalah kendala metode pembayaran yang belum bisa diterima masyarakat Kota Semarang. Namun pihaknya memastikan dalam waktu dekat akan segera memulai operasional Pasar Semarangan.

“Nanti tanggal 14 -16 September, operasionalnya berjalan lagi, dengan dua sistem pembayaran, yakni digital dan nontunai dalam bentuk uang pengganti,” jelas Mei.

Operasional Pasar Semarangan akan dimulai berbarengan dengan salah satu kegiatan yang juga digelar oleh pihak ketiga di Kawasan Tinjomoyo bertajuk Festival Land. Ke depannya Pasar Semarangan akan beroperasi setiap hari Minggu mulai pukul 06.00 hingga 10.00.

“Beberapa waktu lalu kan momennya juga masih lebaran, jadi kita gunakan untuk mematangkan evaluasi. Ke depan akan beroperasi setiap Minggu pagi, karena banyak juga yang datang kesana hari minggu,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Litani Satyawati, membenarkan jika saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan GenPI untuk mengevaluasi operasional Pasar Semarangan. Disebutkan, kendala cuaca, waktu dan metode pembayaran di pasar tersebut.

Lita menjelaskan, kendala cuaca dialami Pasar Semarangan saat memasuki musim penghujan. Hal itu lantaran pasar tersebut terletak di lahan terbuka Kawasan Hutan Wisata Tinjomoyo. Kemudian, saat memasuki bulan Ramadan, hal itu berbenturan dengan jam operasional Pasar Semarangan di hari Sabtu yang buka mulai sore hingga malam hari.

“Jam operasional malam itu karena konsepnya ingin berbeda dari pasar tradisional lainnya, tetapi waktu itu musim hujan dan ketemu bulan puasa, jadi dari vendor yang mengisi lapak itu juga ada saja alasannya untuk tidak buka,” ungkap Lita didampingi Kepala Bidang Kelembagaan Disbudpar, Giarsito Sapto Putratmo, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, kendala yang dihadapi pengelola Pasar Semarangan juga terkait kurangnya komitmen dari pengisi lapak. Dalam perjalanannya, pemilik lapak tak jarang mengajukan izin dengan alasan tertentu, sehingga tidak membuka lapaknya. Kondisi ini terjadi secara kontinyu dan berdampak pada turunnya pengunjung.

Terkait dengan kendala metode pembayaran, Lita juga mengamini ketidaksiapan masyarakat Kota Semarang menggunakan pembayaran digital. Namun demikian, Lita meyakini pihak pengelola telah menjalankan evaluasi, dan akan segera menerapkan metode pembayaran yang lebih bisa diterima masyarakat.

“Nanti ada dua metode, kalau yang punya Tap Cash Semarang Hebat bisa tetap digunakan sebagai pembayaran digital, yang tidak punya nanti pembayarannya dengan uang pengganti. Hal itu juga untuk memudahkan penghitungan pendapatan per lapaknya,” jelasnya.

Kemudahan penghitungan ini nantinya juga akan bisa digunakan untuk modal evaluasi, sehingga pengelola atau juragan lebih tahu lapak mana saja yang sepi dan tidak laris. Kemudian, lapak tersebut akan dievaluasi apa yang menjadi penyebab kurangnya pembeli.

“Apakah karena makanannya yang kurang menunjukkan khas Semarang? Apakah dia menjual dagangannya terlalu mahal? Kita harapkan dari hasil evaluasi ini Pasar Semarangan akan lebih baik ke depannya. Terlebih lagi ke depan hanya buka Minggu, karena hasil survei banyak masyarakat yang ke sana,” katanya. (tsa/den/aro)