Reaktivasi Terkendala Review DED

Jalur Kereta Api Kedungjati - Tuntang

265

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Rencana pemerintah untuk melanjutkan proyek reaktivasi jalur kereta api (KA) Kedungjati-Tuntang sampai saat ini belum bisa dilaksanakan. Proyek tersebut tersendat karena adanya peninjauan ulang detail engineering design (DED) yang dilakukan Kementerian Perhubungan.

Kepala Seksi Perkeretaapian Dinas Perhubungan (Dishub) Jateng, Fajar Ahmad menjelaskan, proyek jalur rel sejauh 30 kilometer ini terhenti sejak 2015. “Saat ini belum bisa dilanjutkan, walaupun sudah dibangun, karena review DED. Sehingga masih butuh waktu untuk penyelesaian,” katanya Sabtu (1/9).

Menurutnya, proses peninjauan ulang DED dilakukan Kementerian Perhubungan lantaran menemukan sejumlah kendala di lapangan. Seperti kontur tanah yang tidak rata. “Bantalan relnya sudah ada, Tuntang-Ambarawa sudah ada (relnya), tinggal melanjutkan. Tapi Bedono belum nyambung. Setelah review ini pembangunannya dilanjutkan,” jelasnya.

Proyek reaktivasi ini rencananya akan tersambung sampai Bedono. Jalur tersebut akan menjadi penghubung lintasan jalur KA antara Ambarawa, Jogjakarta, dan Magelang. Jalur ini menjadi prioritas lantaran masuk dalam akses Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). “Daerah ini memang mejadi prioritas KSPN, selain ada jalur tol juga ada jalur kereta,” tambahnya.

Untuk wilayah Magelang, rencananya jalur KA dari Borobudur akan terkoneksi sampai bandara baru Kulon Progo. “Semua sudah masuk semua dalam rencana, tinggal nanti kebutuhan anggaran, prioritas itu yang menjadi pertimbangan waktu,” jelasnya.

Pakar transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno mendorong agar tahun depan proyek reaktivasi bisa dilanjutkan dan review DED bisa cepat selesai. Ia memprediksi pada 2019, minimal 50 persen reaktivasi jalur bisa terlaksana. “Ini ada beberapa titik yang memang perlu direvisi,” katanya.

Terkait masalah kontur tanah, lanjut Djoko, bisa diambil jalan keluar menggunakan lokomotif baru. Pasalnya jalur tersebut memang banyak tanjakan curam, jika menggunakan lokomotif lama dikhawatirkan tidak kuat menanjak. “Setelah sudah terkoneksi tinggal memikirkan jalur dari Magelang ke Jogjakarta agar bisa terkoneksi semua dan mengurangi beban jalan,” tambahnya. (den/ton)