Penembak Jitu yang Jadi Juri Asian Games

237
PENEMBAK JITU : Kepala Sekretariat Umum (Kasetum) Polda Jateng AKBP Sri Wahyuni di ruang kerjanya. (MUHAMMAD HARIYANTO)
PENEMBAK JITU : Kepala Sekretariat Umum (Kasetum) Polda Jateng AKBP Sri Wahyuni di ruang kerjanya. (MUHAMMAD HARIYANTO)
BIDIK SASARAN : AKBP Sri Wahyuni saat berlatih menembak. (DOK PRIBADI)
BIDIK SASARAN : AKBP Sri Wahyuni saat berlatih menembak. (DOK PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Menembak adalah salah satu keterampilan yang harus dimiliki anggota Polri. Kepiawaian dalam membidik sasaran membuat AKBP Sri Wahyuni terpilih menjadi salah satu juri olahraga menembak di Asian Games 2018.

Perempuan yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sekretariat Umum (Kasetum) Polda Jateng ini mengaku, tidak mudah untuk bisa masuk menjadi juri di Asian Games. Sebab, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Salah satu diantaranya sudah memiliki sertifikat International Shooting Sport Federation (ISSF).

“Salah satunya adalah memiliki level sertifikat ISSF. Pertama menjadi juri tahun 2010, kemudian mengulang lagi tahun 2017 untuk penyegaran. Syaratnya ya ujian. Ini level sertifikat ISSF saya di tahun 2010 sudah B,” ungkap perempuan yang akrab disapa Yuni ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selama Asian Games, Yuni berada di Palembang yang menjadi lokasi venue olahraga menembak. Ia mengaku bisa tukar banyak pengalaman dengan juri-juri dari negara lain. “Ketemu, saling kenal banyak orang penembak-penembak dari negara luar, Vietnam ada juga. Kita bisa sharing,” katanya.

Perempuan kelahiran Sragen, 17 November 1961 ini sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi polisi. “Cita-cita, awalnya sederhana pengen menjadi Pramugari. Waktu itu main di Semarang, di tempat kakak, saya lihat Polwan. Ya terus tertarik, akhirnya lulus SMA langsung daftar polisi. Sebenarnya kakek saya, orangtua saya, kakak saya polisi,” jelasnya.

Yuni mengawali tugas sebagai anggota Polri begitu lulus pendidikan bintara pada 1982. Pertama kali bertugas di Poltabes Semarang. Setahun kemudian, ia mulai sering berlatih menembak.

“Dulu bapak saya senang menembak juga, saya sering diajak. Kemudian dilatih sama seseorang, latihan di belakang rumah setelah bertugas. Sebenarnya awalnya memang hobi, seneng,” ujarnya.

Dari sini, bakat menembak Yuni terlihat. Semangatnya untuk menjadi seorang penembak terus membara. Ia juga sering mengikuti kejuaraan-kejuaraan dan memperoleh prestasi.

“Saat pertama ikut kejurnas menembak air pistol dan ladies sport pistol di Surabaya menjadi juara 1 perorangan dapat medali emas dan tim juga mendapat emas. Selanjutnya terpilih sebagai tim PON Provinsi Jateng cabor air pistol dan ladies sport pistol bersama petembak senior Jateng ibu Iin Evelin dan Weny,” bebernya.

Prestasi yang dicapai Yuni semakin gemilang. Tiap tahun ia terjun dalam berbagai kejuaraan dan memperoleh prestasi. Menurutnya, untuk meraih prestasi harus memiliki jiwa yang disiplin dan rajin berlatih.

“Seorang shooter harus disiplin dan safety. Tidak bosan untuk latihan. Selalu harus konsentrasi stabil. Karena menembak adalah lawannya diri sendiri. Kadang kalau konsen terpecah ya meleset,” tegasnya.

Ia mengakui, banyak anak muda yang memiliki bakat menembak. Namun, mereka kurang telaten dalam berlatih dan tidak fokus.

Selama di Poltabes Semarang, Yuni bertugas di sejumlah bidang. Yakni Opsnal, Satlantas dan Reskrim. Kemudian pada 1992 hingga 2004, ia pindah tugas di Polda Jateng. Mulai dari bagian Reserse Narkotika hingga Biro SDM Polda Jateng.

Pada 2004-2005 dimutasi menjadi Kasat Pam Obvit Polresta Surakarta. Tahun 2005 – 2010, bertugas di bidang Pembinaan sebagai Kabag Bin Polwil Surakarta. Tahun 2010 – 2014 sebagai Kabag Pal Biro Sarpras Polda Jateng, tahun 2014 – 1016 Kabag Ren Polrestabes Semarang dan 2016 sampai sekarang menjabat Kasetum Polda Jateng. (mha/ton)