Guru Jangan Hakimi Siswa

121
Oleh : Dwi Setiyowati SPd
Oleh : Dwi Setiyowati SPd

RADARSEMARANG.COM – SESUNGGUHNYA manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan suci. Namun setelah anak dewasa dan mengenal lingkungannya, terkadang perilaku atau sikap anak berubah drastis, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat. Pada masa sekolah atau mengenyam pendidikan khususnya, anak mulai mengenal diri sendiri dan berinteraksi dengan teman sebaya sebelum nantinya siap terjun ke masyarakat.

Pada masa transisi dari anak ke dewasa inilah terkadang anak perlu perhatian khusus dari orang tua, guru maupun lingkungan sekitar. Adakalanya pada saat  mengalami transisi dari anak ke dewasa, kerap muncul sifat ingin tahu anak. Kadang, rasa ingin tahunya cenderung menentang norma-norma yang berlaku di masyarakat. Di zaman sekarang atau Zaman Now, para orang tua atau pendidik harus lebih pandai dan bijaksana dalam membimbing anak-anak untuk dapat mengarahkan ke hal positif.

Sikap dan sifat yang sangat penting bagi guru adalah : Pertama, adil artinya guru harus dapat memperlakukan anak didiknya dengan cara yang sama. Kedua, percaya dan suka terhadap murid-muridnya artinya seorang guru harus percaya terhadap anak didiknya dan meyakini bahwa anak didiknya makhluk yang mempuyai kemauan. Ketiga, sabar dan rela berkorban artinya sikap sabar sangat diperlakukan apalagi pekerjaan guru sebagai pendidik. Keempat, memiliki perbawa (Gezeg) terhadap anak-anak artinya kewibaan tanpa adanya perbawa, tidak mungkin pendidik itu ke sanubari anak-anak. Tanpa adanya kewibawaan, murid-murid hanya akan menuruti kehendak karena paksaan bukan keinsafan atau kesadaran. Kelima, penggembira artinya seorang guru hendaklah memiliki sifat tertawa dan suka memberi kesempatan tertawa bagi murid-muridnya. Keenam, bersikap baik terhadap guru yang lain artinya suasana yang baik di lingkungan guru-guru akan memacu rasa semangat mengajar. Ketujuh, bersikap baik terhadap masyarakat artinya tugas dan kewajiban guru tidak terbatas pada sekolah atau madrasah, tetapi juga dengan masyarakat. Sekolah hendaknya menjadi cermin dalam masyarakat sekitar. Kedelapan, benar-benar menguasai mata pelajaran. Oleh karena itu, seyogyanya pendidik bisa menjadi orang yang bisa melindungi, menjaga, membimbing dan teman yang mengasyikkan bagi mereka.

Dengan begitu, siswa tidak merasa takut atau enggan untuk mencurahkan permasalahannya kepada pendidik. Dengan begitu, anak didik tidak canggung dan terbuka kepada para pendidiknya. Selama ini, banyak pandangan yang kurang pas di kalangan pendidik yang beranggapan bahwa yang wajib memberikan pengarahan dan menampung masalah siswa adalah Guru Bimbingan Konseling (BK). Padahal dalam salah satu kompetensi pendidik adalah pedagogik social artinya bahwa guru tidak hanya sebagai pengajar yang menyalurkan ilmu yang dimilikinya kepada anak didik, melainkan sebagai teman yang mengasyikkan yang mampu membantu permasalahan siswa. Dengan demikian, kalau ada julukan siswa nakal atau pembangkang bisa dihilangkan. Karena sejatinya, tidak ada anak yang nakal dan membangkang, apabila dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, mereka merasa aman.

Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat kepada semua pendidik di seluruh Nusantara, mari jadikan anak didik kita seperti anak sendiri bahkan teman yang mengasyikkan. Jangan hakimi siswa kita. (kpig2/ida)

*) Guru MTs Nurul Huda Banyuputih Batang