Dua Jam Curigai Bom, Ternyata Alat Listrik

Menelisik Kisah Para Polwan di Jawa Tengah

139
AKP Ryke Rhima Dila, SH SIK (DOKUMEN PRIBADI)
AKP Ryke Rhima Dila, SH SIK (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Memiliki kematangan yang luar biasa dengan segudang prestasi. Adalah Kanit Pendidikan Masyarakat dan Rekayasa (Dikyasa) Satlantas Polrestabes Semarang, AKP Ryke Rhima Dila, SH SIK. Wanita Kelahiran Jember, 31 Mei 1984 ini, tak hanya memiliki pengalaman dalam menjinakkan bom, tapi juga piawai terjun payung dan menembak.

AKP Ryke mengaku semula ditugaskan di Korps Brigade Mobil (Brimob) Kelapa Dua Satuan Satu Gegana Detasemen Penjinak Bom. Dirinya terus mengembangkan dan meningkatkan kemampuan terjun payung sehingga bergabung ke dalam Persatuan Terjun Payung (PTP) Polri. Selain itu di tahun 2010, ia juga memiliki kemampuan menembak dan tercatat pernah meraih juara 1 Lomba Menembak jarak 300 meter dengan senapan panjang dalam ajang Piala Kapolri Cup.

“Di Kelapa Dua harus memiliki kemampuan khusus, terutama Polwan. Apalagi saya tipe orang yang tidak suka berdiam diri,” kata AKP Ryke Rhima Dila, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya Satlantas Polrestabes Semarang, Jumat (31/8).

Ryke sendiri mengawali karir sebagai polisi wanita, pertama kali tahun 2009. Ia mengawalinya dari Akademi Kepolisian (Akpol), kemudian 2010 hingga 2013 ditempatkan di Brimob Kelapa Dua, selanjutnya 2013 hingga 2015 melanjutkan pendidikan pengembangan di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) Jakarta. Berlanjut lagi 2015 hingga 2017 menjadi pengasuh calon-calon perwira remaja di Akpol Semarang. Tahun 2017 hingga sekarang ditempatkan di Polrestabes Semarang bagian Satlantas.

Alumni Sarjana Ilmu Hukum pada Universitas Negeri Jember (UNEJ) tahun 2006 ini mengaku memiliki pengalaman paling tak terlupakan. Yakni, ketika menangani benda yang dicurigai sebagai bom yang diinformasikan oleh Security Pacific Place Mall Jakarta. Kecurigaan itu, muncul karena barang terduga bom, sudah beberapa hari tak diambil dan ditaruh di sepeda motor. Setelah diterjunkan tim anjing pelacak, semakin kuat dugaan adanya bom. Anjing trsebut setelah mengendus, langsung menggonggong. Akhirnya tim gegana dihubungi dan diterjunkan 1 unit sebanyak 10 orang.

“Dugaan bomnya ada di lokasi parkir mal, di atas sepeda motor. Saat itu, benar-benar menegangkan. Waktu yang kami butuhkan sampai 2 jam dari awal penanganan sampai akhir. Tapi begitu terbuka, ternyata bukan bom, melainkan ala-alat bengkel dan perlatan listrik,” kenangnya.

Istri dari atlet voli nasional, Bagus Wahyu Ardiyanto ini, mengatakan bahwa kala itu memang banyak informasi adanya teror bom. Ia pun memaklumi apabila anjing pelacak yang mengendus, bisa menjauh karena di dalam tas berisi peralatan bengkel dan alat listrik. Selain itu, di dalamnya memang ada bahan-bahan yang mengarah pada material pembuatan bom.

Tak dipungkiri, butuh kesiapan mental dan latihan maksimal dalam menjinakkan bom. Ia mengaku, ada semboyan khusus yang digaungkan di Brimob, sehingga jadi penyemangat dan terpatri dalam dirinya. Yakni, lebih baik mandi keringat di tempat latihan, daripada mandi darah di medan pertempuran. “Karena sudah dilatih, sehingga sudah terbiasa dalam menangani permasalahan. Sehingga sudah tidak ada rasa takut lagi. Apalagi dalam agama, diajarkan berpasrah diri kepada Allah SWT, hidup mati dan rezeki ada di tangan Allah SWT,” katanya.

Ryke mengaku tak melulu jadi penjinak bom. Tapi lebih banyak di terjun payung dan menembak. Namun ketiga hal itu, menjadi agenda rutin, menembak, menjinakkan bom dan terjun payung. “Kalau ditanya suka duka, dukanya jauh dari orang tua. Sukanya, punya banyak pengalaman baru, teman baru dan tantangan baru,” ujarnya.

Ia juga selalu ingat akan pesan bijak seniornya. Bahwa, setiap manusia harus berguru kepada banyak orang dan memberi manfaat kepada diri sendiri dan banyak orang serta menghormati antar sesama. “Dari situ, saya juga bisa dapat cerita bagaimana cara menangani bom Bali 1 dan 2 maupun di Hotel JW Marriott. Saya selalu mengistilahkan sebagai pendatang baru, dengan harapan agar bisa menganalisa dan mengevaluasi setiap kejadian bom,” kenangnya.

Ia berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia apabila menemui kasus teror agar tidak takut melaporkan kepada pihak berwajib. Apabila menemui benda yang mencurigakan, tidak usah mendekat, mengangkat, menyentuh ataupun mengotak-atiknya.

“Setiap lokasi tempat kejadian perkara (TKP) adanya dugaan bom, memang ada jarak aman. Tapi kalau masyarakat paham adanya dugaan bom, lebih baik menjauh, jangan mendekat,” pesannya.

Terkait Hari Ulang Tahun Polwan ke-70, Ryke menegaskan bahwa setiap pekerjaan terutama di Kepolisian memiliki risiko. “Tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan latihan dan ketekunan serta pengetahuan yang diserap. Kita bisa melakukan semua pekerjaan dan kesuksesan akan menyertai setiap orang yang mencintai pekerjaannya,” katanya. (jks/ida)