Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban?

114

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Bapak DR KH Ahmad Izzuddin MAg di Jawa Pos Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan oleh  Allah SWT. Saya mau bertanya, di tempat kami biasanya setelah daging kurbannya dibagikan, panitia kurban menjual kulit hewan kurbannya. Apakah yang dilakukan panitia tersebut dibenarkan? Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas penjelasan dan jawaban bapak. Wassalamu’alaikum Warahmatullah

Musri’ah, di Ungaran 085764245xxx

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Ibu Musri’ah di Ungaran yang saya hormati dan juga dirahmati Allah SWT. Terima kasih atas pertanyaannya. Terkait yang Anda tanyakan sebenarnya sudah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka. Salah satunya apa yang dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibn Qosim, bahwa semua yang terkait dengan hewan kurban mulai dari daging, tanduk, kulit bahkan bulunya tidak boleh dijual, baik itu kurban wajib maupun sunnah.

Keharaman ini diperkuat dengan hadis Nabi sallahu alaihi wa salam yang diriwayatkan Imam Hakim sebagaimana dikutip Syaikh Ibrahim Al Bajuri dalam kitabnya sebagaimana berikut, yang artinya “Barangsiapa menjual kulit hewan kurbannya maka tidak sah kurbannya,” (HR: Imam Hakim).”

Nabi menerangkan hal ini dikarenakan anggapan sebagian orang bahwa kulit kurban tidak termasuk bagian dari kurban yang wajib dibagikan. Jadi hukumnya tidak boleh menjual daging, kulit, bulu begitu juga dengan tanduknya, hal ini disamakan dengan barang wakaf yang mana tidak boleh diperjual-belikan.

Tak hanya menjual, menjadikan kulit kurban sebagai upah orang yang menyembelih pun dilarang dikarenakan hal itu serupa dengan jual beli. Namun jika orang yang berkurban memberikan kulit tersebut pada penyembelih/penjagal dengan niatan sedekah bukan sebagai ongkos penyembelihan, maka hal itu diperbolehkan.

Boleh memanfaatkan kulit kurban untuk diri sendiri, seperti dijadikan sandal, timba, pakaian, dan dipinjamkan kepada orang lain. Yang tidak boleh adalah menjual atau menyewakannya. Kecuali menurut pengarang At Taqrib, yang berpendapat bahwa boleh menjual kulit kurban dan mendistribusikan uang hasil penjualannya sebagaimana kurban, namun ini pendapat gharib (aneh). Menurut al Auza’i, boleh menjual kulit kurban dengan alat-alat rumah tangga, seperti ayakan, timbangan, panci, pisau, dan lain-lain. Sependapat pula dengan Al Auza’i, Abu Tsaur dan an Nakha’i serta menganggapnya sebagai rukhshah (keringanan hukum). (Raudlatut Thalibin I/361, al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab VIII/420)

Diceritakan dari Abu Hanifah, ia berkata bahwa boleh menjual hewan kurban sebelum disembelih, maupun setelah disembelih, lalu menyedekahkan hasil penjualannya. Jika menjual kulitnya dengan alat rumah tangga, maka hukumnya boleh. Karena itu sama saja dengan memanfaatkan kulit itu. Hukum badal (alat rumah tangga) sama dengan hukum mubdal (kulit kurban). Yang tidak boleh adalah menjual dengan barang-barang yang cepat habis (istihlakiyah), seperti uang dirham, makanan, atau minuman. (al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab VIII/420, al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu IV/280)

Menjadikan kulit kurban sebagai upah penjagal disepakati ulama bahwa hukumnya haram. Namun dalam menjual kulitnya, Syafi’i, Maliki, dan Hanbali mengharamkan, sedangkan Hanafi memperbolehkan dengan syarat tertentu di atas. Namun jika orang yang berkurban memberikan kulit tersebut kepada penyembelih/penjagal dengan niatan sedekah bukan sebagai ongkos penyembelihan, maka hal itu diperbolehkan. Demikian jawaban dan penjelasan dari saya, semoga ada manfaatnya dan barokah. Amiin  (*)