Monyet Tidar Jarah Dagangan Warga

1269
TERLUKA : Seekor monyet di Gunung Tidar terlihat terluka usai berkelahi dengan monyet lainnya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
TERLUKA : Seekor monyet di Gunung Tidar terlihat terluka usai berkelahi dengan monyet lainnya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Keberadaan monyet-monyet di Gunung Tidar mulai meresahkan warga sekitar. Memasuki musim kemarau panjang ini, monyet turun ke rumah-rumah warga untuk menjarah makanan. Tidak hanya itu, spion mobil dan motor pun jadi sasaran, hingga merusak atap rumah warga.

Seorang warga yang juga membuka lapak jualan di sekitar area Gunung Tidar, Jumi mengeluhkan, tiap hari barang dagangan selalu dicuri primata tersebut. Mulai dari makanan ringan, hingga aneka minuman kemasan botol. Karena itu, ia harus ekstra menjaga warungnya, agar tidak mengalami kerugian yang lebih banyak.

“Yang diambil tidak hanya satu atau dua biji saja, tapi lima sekaligus. Dan monyet yang mengambil berkelompok, 5 sampai 6 ekor,” katanya, Kamis (30/8).

Pedagang lain, Wagiyah juga mengalami hal sama. Aneka sayuran yang ia jual kerap hilang dibawa kabur monyet naik ke gunung. Dalam sehari, kejadian ini setidaknya ia alami tiga hingga empat kali. “Mereka mengambil ketika lapar. Waktunya tidak pasti,” tuturnya.

Informasi yang dihimpun koran ini, warga menganggap monyet tersebut sebagai hama. Beberapa warga juga nekat menyimpan senapan angin untuk menghalau monyet masuk ke rumah. Tindakan ini dipilih karena monyet kerap melukai warga dengan cara mengigit dan menyerang ketika diusir.

Sementara itu, Kepala UPTD Kawasan Gunung Tidar, Widodo menjelaskan, pihaknya telah berupaya mencukupi kebutuhan makanan bagi populasi monyet yang kini jumlahnya mencapai 300-400 ekor itu. Sekitar 3 karung makanan tiap hari disediakan. Hal ini dilakukan agar monyet tidak mengganggu warga. Di sisi lain, karena kawasan Gunung Tidar ditumbuhi pohon pinus yang tidak cocok bagi habitat monyet. “Mereka butuh buah dan daun-daun muda yang segar,” tandasnya.

Pihaknya juga memiliki rencana relokasi. Namun, langkah ini dinilai tidak mudah. Sejauh ini, baru 10 ekor monyet yang berhasil direlokasi ke Kebun Binatang Gembira Loka. “Jujur relokasi ini tidak mudah. Beberapa tempat menolak karena sudah tersedianya primata dengan jenis sama. Ditambah, monyet berekor panjang ini kurang diminati, karena makannya banyak dan umurnya panjang,” urainya.

Saat ini, pihaknya sedang membangun komunikasi untuk bekerjasama dengan beberapa tempat konservasi. Seperti kawasan hutan lindung Merapi-Merbabu. Namun, langkah ini ditolak karena populasi di sana lebih banyak. Bahkan sampai menyerang daerah pertanian warga. “Rencana kita upayakan untuk relokasi ke Nusakambangan, karena di sana tidak ada penduduk. Sehingga tidak akan mengganggu, dan habitatnya pun sesuai,” ungkapnya. (mg26/mg22/put/ton)