Lestarikan Tradisi Sembayang Rebutan

379
RITUAL : Warga Tionghoa mengikuti sembayang rebutan di Klenteng Hoo Hok Bio Jalan Gang Cilik Semarang, kemarin dilanjutkan dengan pembagian sembako. (Nur Wahidi/Jawa Pos Radar Semarang)
RITUAL : Warga Tionghoa mengikuti sembayang rebutan di Klenteng Hoo Hok Bio Jalan Gang Cilik Semarang, kemarin dilanjutkan dengan pembagian sembako. (Nur Wahidi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Bagi warga Tionghoa tradisi sembayang rebutan atau sembayang King Hoo Ping, untuk menghormati orang yang sudah meninggal dunia.

Tradisi tersebut setiap tahun selalu menarik antusiasme warga Tionghoa. Kamis (30/8) kemarin, ritual King Hoo Ping digelar di Klenteng Hoo Kok Bio dan dipimpin oleh Suhu Heng Tiong.

Dalam kegiatan tersebut umat melakukan sembayang dan dilanjutkan dengan pembacaan Liem King untuk arwah yang tidak ada ahli warisnya. Kemudian dilanjutkan dengan sembayang rebutan di bawah altar persembahan.

“Kalau ada ahli warisnya tentu bisa dilakukan tetapi bagi mereka itu tidak punya ahli waris, sehingga tidak ada yang mendoakan. Tetapi di klenteng ini selalu memperingatinya dan melakukan sembayang arwah,” kata wakil ketua yayasan Klenteng Hoo Hok Bio atau Budi Sejahtera, Chandra Wijaya.

Sembayang King Hoo Ping itu sendiri dilaksanakan setiap bulan 7 tanggal 20 penanggalan Imlek dan sembayang ini dilakukan untuk semua bangsa baik Jawa, Tionghoa, ataupaun dari bangsa Arab, tanpa membedakan ras. “Memang ada beberapa warga Jawa yang ikut ritual ini dan kami tidak membedakan ras,” tegasnya.

Sekretaris Yayasan, Lanita Yuwono menambahkan, tahun ini ada 6.000 paket yang dibagikan kepada warga yang kurang mampu. “Apabila masih sisa akan dibagikan kepada panti asuhan atau panti jompo,” katanya. (hid/zal)