Koleksi Buku Sendiri, Sudah Terdaftar di Portal Kemendikbud

Amarylisse Magnificia CG, Siswi SMPN 1 Magelang Kelola Rumah Baca

365
BACA BUKU: Pemilik Rumah Baca Mc.Ganz, Amarylisse Magnificia Cesari Ganz (paling kiri) sedang menemani teman-temannya membaca buku koleksinya. (Sri Ustadah/jawa pos radar kedu)
BACA BUKU: Pemilik Rumah Baca Mc.Ganz, Amarylisse Magnificia Cesari Ganz (paling kiri) sedang menemani teman-temannya membaca buku koleksinya. (Sri Ustadah/jawa pos radar kedu)

RADARSEMARANG.COM – Amarylisse Magnificia Cesari Ganz masih siswi kelas 8 SMP Negeri 1 Magelang. Namun ia sudah peduli dengan gerakan literasi. Ia mengelola Rumah Baca Mc.Ganz yang dibuka untuk umum. Seperti apa?

Itiqomah, Sri Ustadah, Agus Hadianto

TERDENGAR keriuhan anak-anak yang sedang mengeja cerita dengan suara lantang di sebuah rumah bercat krem yang berhimpitan dengan rumah lainnya. Ya, itulah rumah Amarylisse Magnificia Cesari Ganz, yang kini juga menjadi rumah baca. Hampir setiap hari, rumah itu tak pernah sepi dari anak-anak.

Di rumah yang terletak di Jalan Salak 3/22 Kampung Ngembik Kidul, Kramat Selatan, Magelang Utara, Kota Magelang ini, gadis yang akrab disapa Rere ini tinggal bersama kedua orang tuanya, Agus Budiono, 39, dan Wiwin Irawati, 38, serta seorang adiknya, Amar Magnificia Cesari Ganz. Ruang tamu rumah itu, kini disulap menjadi perpustakaan umum. Selain ada beberapa rak kayu tempat menyimpan ribuan koleksi buku, di ruang baca itu berderet meja belajar berukuran kecil dan besar serta kursi,. Selain itu, terdapat rak berisi piala hasil lomba dan globe. Di tembok ruangan itu tertulis ‘Rumah Baca Mc Ganz.

Di rumah baca inilah Rere menuangkan pemikirannya untuk masyarakat, terutama anak-anak seusianya agar dengan bebas bisa membaca secara gratis setiap hari. Rere sendiri memang sedari awal membolehkan anak-anak kampung sekitar untuk belajar bersama dan membaca koleksi bukunya di rumah baca yang dibuka sejak 7 Januari 2014 silam itu.

Rere menceritakan, awal mula berdirinya rumah baca tersebut lantaran ia bingung meletakkan koleksi buku-bukunya yang sangat banyak, sedangkan di kamarnya sudah penuh. Rere kemudian mempunyai ide untuk menaruh buku koleksinya di rak-rak yang tertata rapi di ruang tamu.

“Buku Rere banyak banget, sekarang hampir seribuan eksemplar. Lalu kepikiran sekalian aja jadi rumah baca, karena teman-teman juga banyak yang suka mampir pinjam buku,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kedu.

Rere mengaku, hingga kini, koleksi bukunya makin bertambah. Apalagi dirinya telah mendapat donasi buku dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta penerbit buku ternama yang lumayan banyak.

Rere menceritakan, dirinya mendapat donasi buku karena rumah bacanya sudah terdaftar di portal Donasi Buku milik Kemendikbud, dan menjadi satu-satunya rumah baca di Kota Magelang yang terdaftar di portal tersebut. “Koleksi buku paling banyak soal cerita, pengetahuan umum, kamus, majalah, pelajaran, komik, religi, dan lainnya. Termasuk buku tentang cara memasak,” tuturnya.

Rere mengaku, ke depan dirinya akan terus mengembangkan rumah bacanya agar lebih banyak memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ibunda Rere, Wiwin Irawati, mengaku, anaknya sejak kecil memang suka membaca buku. Wiwin sendiri sejak Rere masih balita, sering bercerita atau mendongeng, bahkan hampir setiap menjelang tidur malam selalu membacakan cerita atau dongeng.  “Saking seringnya, bahkan saya sampai kehabisan bahan cerita. Mau nggak mau, saya sering beli buku cerita, karena Rere nggak bisa tidur kalau nggak didongengin. Akhirnya, buku menumpuk banyak sekali dan dibuatlah rumah baca ini,” katanya.

Wiwin menuturkan, dirinya memang mendukung dan merelakan ruang tamu rumahnya dijadikan rumah baca. Meski akhirnya, menurut Wiwin, rumahnya selalu ramai oleh teman-teman anaknya bahkan masyarakat. Menurut dia, hampir setiap hari anak-anak datang dan berkunjung ke rumah baca itu mulai pukul 15.00 sampai malam hari pukul 21.00.

“Mereka di sini baca-baca buku, mengerjakan pekerjaan rumah (PR), dan terkadang nonton film. Sering pula mereka main dan olahraga bersama. Rumah baca ini malah seperti pusat kegiatan belajar dan bermain,” tutut Wiwin.

Ia mendukung penuh keberadaan rumah baca di rumahnya. Sebab, anaknya mampu mengatur dengan baik. Meski sekilas hanya rumah baca, namun dibentuk pengurus yang terdiri atas ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, seksi keamanan, dan seksi kebersihan serta anggota.

“Ketuanya Rere sendiri. Ada aturan mainnya juga, seperti kalau pinjam buku dibawa pulang maksimal 10 hari harus dikembalikan. Kalau tidak dikembalikan, nanti seksi keamanan yang mengambil. Anggotanya sekarang ada seratusan, tapi yang aktif sekitar 30-50 anak,” bebernya.

Wiwin mengaku, hingga kini sangat mendukung hobi dan aktivitas anaknya. Dirinya juga mendukung kegemaran Rere menulis cerita dan telah menghasilkan sejumlah buku cerita. Wiwin menyebutkan, anaknya telah menerbitkan empat buku kumpulan cerpennya, yakni Kasihan Rara, Surga di Tangan Ibu, Alquran Impian, dan Semangat Baru Lintang.

“Sekarang dia (Rere) sedang menyelesaikan novelnya, yang rencananya akan diterbitkan. Rere memang produktif menulis dan menerbitkan buku. Di rumah baca ini ia sering berbagi keahliannya ke teman-temannya. Semoga saja teman-temannya bisa mengikuti jejaknya menjadi penulis,” harapnya. (*/aro)