PTPN 9 Pastikan Jualan Hingga Hilir

351
BAGI HADIAH : Direksi PTPN 9 membagikan hadiah kepada peserta lomba inovasi kebun, di sela launching Budaya JTI, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAGI HADIAH : Direksi PTPN 9 membagikan hadiah kepada peserta lomba inovasi kebun, di sela launching Budaya JTI, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN–Struktur jaringan bisnis milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 9 akan dibenahi menyesuaikan perkembangan zaman dam kebutuhan pasar. Penjualan produk seperti gula, karet, kopi, dan teh, akan dilakukan hingga hilir.

“Pembenahan tersebut, dalam rangka mempersiapkan portofolio bisnis perusahaan milik pemerintah. Karena itu, akan dilakukan pembangunan beberapa pabrik untuk mengolah produk-produk,” kata Direktur Utama (Dirut) PTPN 9, Iryanto Hutagaol usai launching Budaya JTI (Jujur Tulus Ikhlas) di Kampung Kopi Banaran Kecamatan Bawen, Jumat (24/8).

Sebelum realisasi program tersebut, jelasnya, diawali pembangunan budaya di dalam perusahaan. Yakni, budaya Jujur Tulus Ikhlas (JTI) yang diterapkan pada semua level sistem di dalam perusahaan. “Zaman sudah berubah dan perusahaan harus beradaptasi. Namun nilai-nilai yang kita pegang yaitu tetap pada tiga komponen yaitu jujur tulus dan ikhlas,” tuturnya.

Iryanto menjelaskan bahwa ketiga hal tersebut dapat menumbuhkan integritas serta dapat berdampak kepada prestasi perusahaan. “Jujur, tidak hanya pada Sumber Daya Manusia (SDM), namun pada sistem yang dibangun dan terintegrasi mulai accounting sampai proses di komputer,” ujarnya.

Budaya tersebut, lanjutnya, sudah diterapkan di semua holding group milik PTPN 9. Mulai dari keuangan, proses SDM, maupun produksi. “Reporting system jadi lebih pasti, akurat, dan realtime, bisa online dari seluruh kebun. Sehingga kita bisa mendapatkan data yang lebih akurat,” katanya.

Selama ini, jelasnya, produk PTPN 9 yang diketahui oleh masyarakat luas yaitu kopi. Namun belum bisa memenuhi semua kebutuhan kopi di Jawa Tengah. Hal itu karena hasil produksi belum mampu mengikuti perkembangan budaya masyarakat Jateng. “Saat ini, budaya minum kopi di masyarakat Jawa Tengah cenderung semakin meningkat. Khususnya kelas kopi premium. Untuk melayani kebutuhan tinggi, kami harus meningkatkan proses mulai dari menata

pembibitan kopi arabika, robusta hingga pendirian pabrik pengolahan. Hal itu penting supaya bisa meningkatkan kualitas kopi,” tandasnya. (ewb/ida)