Perlindungan Perempuan dan Anak Belum Maksimal

200
PAPARAN: Seknas PA Samsul Ridwan saat memberikan paparan mengenai perlindungan perempuan dan anak di depan peserta seminar yang digelar PD NA kota Salatiga. (ISTIMEWA)
PAPARAN: Seknas PA Samsul Ridwan saat memberikan paparan mengenai perlindungan perempuan dan anak di depan peserta seminar yang digelar PD NA kota Salatiga. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Kota Salatiga sebagai kota pelajar dinilai belum memberikan konstribusi cukup bagi peningkatan Perlindungan Perempuan dan Anak. Salah satu indikasinya adalah tidak ada inovasi  sehingga isu perlindungan perempuan dan anak menjadi stagnan. Hal itu diungkapkan Samsul Ridwan, Sekretariat Nasional Perlindungan Anak usai menjadi narasumber Seminar Advokasi Perempuan dan Anak yang diselenggarakan oleh PD Nasyiatul Aisyiyah (NA) Kota Salatiga, Sabtu (25/8) kemarin.

Seminar mengundang dua narasumber, yakni Samsul Ridwan, dari Seknas Perlindungan Anak dan Ipda Henri Widyoriani dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres salatiga. Acara ini dihadiri oleh  keluarga besar Nasyiatul Aisyiyah  dan  keluarga  besar organisasi masyarakat perempuan di kota Salatiga.“Kami sangat berharap banyak kepada kota Salatiga sebagai kota pelajar. Namun dalam urusan Perlindungan Perempuan dan Anak masih kurang greget,” urai Samsul.

Menurut dia, perlu energi yang besar untuk mendorong gerbong statis ini. Dirinya sangat berharap komunitas ormas dan organisasi mahasiswa mempunyai menjadi lokomotif. Mengenai kasus kekerasan, Samsul menuturkan, selama ini ketika berbicara mengenai kekerasan, khususnya pada anak biasanya diasumsikan anak perempuan paling banyak sebagai korban. Namun ini terbantahkan degan data survei kekerasan thdp anak th 2013 bahwa korban juga anak laki laki.

“Perlindungan perempuan dan anak sangat luas dan tanggung jawab tidak hanya di pundak pemerintah saja. Aturan sudah menempatkan masyarakat menjadi strategis. Selain itu, di Jateng shelter, rumah aman ata save house bagi korban sangat tidak mencukupi, bahkan di setiap Kabupaten/Kota tidak memiliki,” imbuh dia.

Sementara itu, ketua panitia seminar Fulatul Annisa menuturkan, tema Perempuan tanggap dan bijak dalam menyikapi era digital dipilih karena perkembangan tehnologi pada jaman ini terus berevolusi hingga semakin canggih dan mendunia. Di segenap lini kehidupan, masyarakat tidak tidak bisa lepas dari sentuhan teknologi, baik anak- anak, remaja hingga orang tua. “Melihat kenyataan tersebut , perempuan harus tampil, tanggap dan bijak dalam menyikapi tantangan dahsyat di era digital ini,” terang Fulatul. (sas/bas)