Kirab Budaya Meriahkan Hari Jadi ke 396 Kabupaten Pekalongan

215
KIRAB : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi bersama Ketua TP PKK Hj Munafah Asip Kholbihi, mengikuti kirab budaya. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
KIRAB : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi bersama Ketua TP PKK Hj Munafah Asip Kholbihi, mengikuti kirab budaya. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM – KIRAB budaya dengan tokoh Ki Ageng Cempaluk, pendiri Kabupaten Pekalongan, yang digelar Sabtu (25/8), semakin menyemarakkan Hari Jadi ke-396 Kabupaten Pekalongan.

Berbagai prosesi mewarnai kirab budaya ini, diantaranya penyerahan berbagai pusaka dan panji Cempaluk, penanaman pohon asam, memecahkan kendi berisi air tujuh sumur, hingga kirab kereta pataka dengan melibatkan 57 kereta kuda, yang berjalan iringan-iringan menuju pendapa rumah dinas Bupati Pekalongan di Kota Kajen.

Prosesi kirab diawali penyerahan mapanji Cempaluk, dari sesepuh Kabupaten Pekalongan KH Roziqin Daman, selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pekalongan. Kemudian penyerahan untuk galih asem kepada bupati, bendara pataka, bendera merah putih, kendi berisi air tujuh sumur untuk disiramkan saat penanaman pohon asam.

Selanjutnya, mapanji Cempaluk dan ombe rampenya dibawa ke kereta pataka, diawali di depannya ada senopati yang membawa bendera merah putih, dengan mengendarai kuda. Di belakangnya ada kereta Bupati Pekalongan, Wakil Bupati Pekalongan, Forkompinda, hingga camat.

Iring-iringan 57 kereta menjadi perhatian ribuan masyarakat Kabupaten Pekalongan, karena kirab budaya ini baru pertama kali dilakukan. Sepanjang rute kirab, mulai dari pendapa kantor Kecamatan Kesesi hingga menuju pendapa rumah dinas bupati di Kota Kajen. Ribuan masyarakat berjejer di tepi jalan menyambut jalannya kirab  budaya ini, dengan rasa senang dan bangga akan budayanya sendiri.

Kirab budaya ini rencananya akan menjadi agenda rutin untuk menciptakan sejarah Kabupaten Pekalongan dengan menghormati Ki Ageng Cempaluk.

Bupati Pekalongan KH Asip Kholbihi, SH MSi mengatakan bahwa kirab budaya ini untuk mengangkat ketokohan dan nilai-nilai spiritual Ki Ageng Cempaluk. Diantaranya, dengan menanam pohon asam yang merupakan simbol perjuangan.

“Asam ini pertama rasanya masam tapi membawa hikmah di badan segar dan kuat. Dengan memecahkan kendi bersama-sama memiliki filosofi jika ada masalah maka hal yang paling penting untuk diselesaikan bersama-sama. Membangun tidak bisa berdiri sendiri tapi harus bersama-sama, jika ada persoalan terutama berkaitan dengan tata kelola pemerintahan dan kondisi kemasyarakatan, maka sebagai pemangku kepentingan di pemerintahan harus bekerjasama dengan semua stakeholder. Inilah filosofi kirab budaya,” tutur Bupati Asip.

Dalam kirab budaya tersebut, pusaka Kabupaten Pekalongan Kiai Brojol, bendera pusaka dan pataka Kabupaten Pekalongan, serta dua tombak kekayaan pusaka Kabupaten Pekalongan, selanjutnya disimpan di pendapa.  (thd/adv/zal)