PENDAMPINGAN : Theodorus Yosep Parera bersama jajaran tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, didampingi Anton Tobing, berbincang-bincang bersama anak yatim di Yayasan Panti Asuhan Tunas Rajawali. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
PENDAMPINGAN : Theodorus Yosep Parera bersama jajaran tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, didampingi Anton Tobing, berbincang-bincang bersama anak yatim di Yayasan Panti Asuhan Tunas Rajawali. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Yayasan Panti Asuhan Tunas Rajawali menggandeng kantor Law Office Yosep Parera And Partners sebagai tim hukum untuk memperkuat dan melindungi yayasan dari gangguan dari orang-orang tak bertanggungjawab. Menariknya, panti asuhan yang terletak di Taman Adenia Raya Blok N1-N2, Perum Graha Padma, Kelurahan Tambakrejo, Semarang Barat tersebut, memiliki 59 anak yatim dan kurang mampu dari seluruh pelosok wilayah Indonesia.

“Kami memberikan perlindungan hukum agar yayasan panti asuhan ini tidak diganggu orang-orang yang tidak suka. Atau ada pihak yang ingin merusak panti asuhan ini. Di samping itu, kami juga memberikan perlindungan hukum agar yayasan terus eksis,”kata Theodorus Yosep Parera saat mendatangi panti asuhan bersama seluruh stafnya dan tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Selasa (28/8).

Yosep menyebutkan, keberadaan panti asuhan Tunas Rajawali merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan dan memberikan pendidikan menuju kehidupan ke arah yang lebih baik, sebagaimana makna Pancasila.

“Ini merupakan praktik Pancasila dalam kehidupan nyata tanpa memandang suku, agama, dan ras (SARA). Semua, dari berbagai wilayah Indonesia, menjadi satu di sini untuk kepentingan indonesia ke depan. Mereka dididik dan diberi pendidikan untuk menerima kemajemukan,” jelasnya.

Panti asuhan Tunas Rajawali berdiri di atas lahan seluas 7.132 meter persegi. Berdirinya yayasan ini memiliki sejarah yang panjang dengan berpindah-pindah tempat dimulai tahun 1993 karena belum memiliki tanah dan rumah sendiri. Baru pada Oktober 2014 panti asuhan menetap di Perum Graha Padma sampai sekarang. Ketua Yayasan Panti Asuhan Tunas Rajawali, Anton Tobing mengatakan, berdirinya panti asuhan Tunas Rajawali berawal dari kerinduan De La Croix Edith Ellen, untuk melayani dan memperhatikan anak-anak. Lantas, pada 2013, Ellen mengambil beberapa anak untuk dibina dan dididik.

“Saat ini kami kami memiliki 59 anak asuh dari berbagai daerah di Indonesia yang kami bina dengan perincian 52 anak tinggal bersama kami di asrama panti asuhan dan 7 anak yang tinggal bersama keluarga mereka. Mereka semua bersekolah dari tingkat TK sampai universitas,” jelas Anton Tobing.

Dikatakannya, saat pertama kali, panti asuhan Tunas Rajawali menempati sebuah rumah di Jalan Kenanga nomor 17, Semarang, dengan status kontrak selama 1 tahun dan 3 tahun kemudian dipinjamkan secara cuma-cuma.

“Pada saat itu kami belum memiliki badan hukum, tetapi hanya ijin dari RT/RW dan Kelurahan setempat. Saat itu, kami hanya membantu untuk kalangan terbatas saja,” kenangnya.

Pada awal pelayanan, panti asuhan ini hanya berbentuk keluarga besar dengan 6 staff dengan 9 anak asuh. Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mengetahui keberadaan panti asuhan Tunas Rajawali, dan banyak yang datang dan meminta bantuan pendidikan dan keuangan.

Jumlah anak asuh semakin banyak pada 1997 sehingga memaksa pengelola harus mencari tempat baru. Pada akhir 1997 itu panti asuhan Tunas Rajawali akhirnya pindah dengan mengontrak rumah yang cukup besar di Jalan Sinabung V/ 9 Semarang.

Pada Oktober 2000, panti asuhan pindah lagi ke sebuah rumah kontrakan di Jalan Gajah Mungkur Selatan nomor 9 Semarang karena rumah yang lama akan dipakai pemiliknya.

“Karena jumlah anak yang semakin banyak, kami berinisiatif untuk melembagakan keluarga besar ini menjadi Yayasan Panti Asuhan sehingga kami berbadan hukum tetap. Akhirnya kami resmi menjadi bdan hukum pada Maret 2012 dengan turunnya SK Menkumham,” ungkapnya.

Persoalan tidak berhenti di situ saja. Persoalan baru muncul karena rumah kontrakan yang 14 telah ditempati sudah rapuh dan hampir roboh karena berusia lebih dari 100 tahun. Panti asuhan kemudian memperoleh sebidang tanah di perumahan Graha Padma seluas 7.132 meter persegi. Saat itu juga dimulai pembangunan. Pada Oktober 2014, panti asuhan resmi pindah dan menempati rumah baru kami dengan status milik sendiri.

“Saat ini kami kami memiliki 59 anak asuh yang kami bina dengan perincian 52 anak tinggal bersama kami di asrama panti asuhan dan 7 anak yang tinggal bersama keluarga mereka. Mereka semua bersekolah dari tingkat TK sampai Universitas,”katanya.

Setiap anak yang berada di panti asuhan tersebut bersal dari keluarga yang benar-benar tidak mampu. Mereka diambil dari informasi para pendeta di seluruh Indonesia dan setelah dilakukan survei untuk memastikan status ekonomi mereka. Sejumlah daerah tersebut, dikatakannya ada yang berasal dari Jateng, Sumatera, NTT, Kalimantan, Papua dan banyak lagi, yang semuanya dari pelosok Indonesia.

Seorang anak penghuni panti asuhan, Revalia Ancita Maulet, mengaku senang berada di panti asuhan tersebut. Gadis kelas VIII SMP Maria Goretti tersebut sebenarnya bukan warga asli Kota Semarang melainkan berasal dari Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Reva sendiri merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Cita-citanya menjadi seorang dokter, pendeta sekaligus guru, mengharuskannya bertahan di panti asuhan agar bisa mendapat pendidikan yang lebih tinggi.

“Saya sudah 1,5 tahun di sini. Dulu awalnya nangis terus karena jauh dari orang tua. Tapi karena orang tua sudah pisah dan mama tidak punya apa-apa, saya akhirnya dititipkan di panti asuhan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti mengatakan, Yayasan Panti Asuhan Tunas Rajawali menjadi contoh kemajemukan Indonesia seharusnya. Yang mana mereka mengorbankan waktu dan materi untuk mendirikan yayasan yang begitu bersih agar anak-anak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih bagus.

“Mereka memberikan tempat yang layak ditempati, tidak asal ada tempat tinggal. Padahal anak-anak itu berasal daei berbagai wilayah Indonesia,” kata Ignatia Sulistya Hartanti, didampingi Ketua Umum Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Michael Aditya.

Visi dan misi yang dijalankan panti asuhan Tunas Rajawali sejalan dengan misi Rumah Pancasila. Oleh karenanya, tidak menutup kemungkinan jika pengurus Rumah Pancasila kemudian menitipkan anak dari kelurga yang benar-benar tidak mampu ke panti asuhan tersebut.

“Harapannya dari satu yang kita buat akan mampu berbuah lebih banyak kepada orang lain. Sehingga kita berupaya berbuat baik dan mengajak orang lain untuk berbuat baik kepada sesama,”sebutnya. (jks/zal)