Beberapa Kali Ujicoba Sempat Gagal Menemukan Formula

Mahasiswa Undip Semarang Ciptakan Sabun Mandi Cair dari Pelepah Pisang

205
BERDAYAKAN MASYARAKAT : Mahasiswa Undip bersama warga Dukuh Muntuksari, Rowosari saat memanfaatkan limbah pelepah pisang menjadi sabun mandi cair. (ISTIMEWA)
BERDAYAKAN MASYARAKAT : Mahasiswa Undip bersama warga Dukuh Muntuksari, Rowosari saat memanfaatkan limbah pelepah pisang menjadi sabun mandi cair. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menciptakan sabun mandi cair dari bahan pelepah pisang. Selain memanfaatkan limbah pelepah pisang yang ada, upaya mereka juga dapat menambah penghasilan warga. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

AWALNYA sejumlah mahasiswa ini pergi ke Kelurahan Rowosari, Tembalang yang berada di pingiran Kota Semarang untuk  membeli pisang. Melihat banyaknya pelepah pisang yang berserakan, mereka berkeinginan untuk memanfaatkannya. ”Kami ingin memanfaatkannya, menjadi produk yang memiliki nilai jual. Tentu bersama masyarakat setempat,” ujar Werry Lisfani, ketua tim pembuatan sabun mewakili teman-temannya, Turmala Dewi, Anne Azkiya Nursya’bani, Lutfiatul Khusna, dan Wilda Asrofa.

Dia menjelaskan, Dukuh Muntuksari, Kelurahan Rowosari, merupakan sentra penghasil pisang terbesar ke-2 di Jawa Tengah. Seperti yang diketahui, pisang merupakan tanaman yang hanya sekali berbuah. Sehingga, ketika sudah berbuah, tentu pohon pisang tidak akan bermanfaat lagi.

Saat itulah muncul ide untuk memanfaatkan pelepah pisang tersebut. Dari penelitian, para mahasiswa dari Fakultas Kedokteran dan Teknik Kimia, pelepah piasang diketahui mengandung senyawa aktif saponin. Senyawa ini, dijelaskan Werry, merupakan senyawa yang bersifat antibakteri. Sehingga sangat cocok dimanfaatkan sebagai produk-produk kebersihan, termasuk disulap menjadi produk sabun mandi.  ”Kami lalu mengajak masyarakat sekitar untuk membuat sabun mandi. Terutama ibu-ibu yang terkumpul dalam Kelompok Dasa Wisma,” katanya.

Diakui, sebelum dipraktikkan bersama warga, pihaknya beberapa kali melakukan ujicoba. Werry dan teman-temannya harus menemukan formula yang tepat, sehingga sabun mandi dari pelepah pisang tersebut nyaman dipakai dan tidak menimbulkan efek buruk. “Beberapa kali kami sempat gagal menemukan formula yang tepat,” akunya.

Selain dalam hal pembuatan, para mahasiswa ini juga terus mendampingi hingga produk yang mereka hasilkan dapat dijual. Tujuannya, untuk membantu warga setempat mendapatkan tambahan penghasilan. Agar lebih menarik, sabun mandi cair itu dikemas dalam botol 100 ml. Pihaknya juga memasang label dengan nama “Sandi Papi.” “Sandi Papi itu artinya sabun mandi pelepah pisang,” jelasnya.

Anne, salah satu anggota kelompok ini menambahkan, proses pembuatan sabun dari pelepah pisang cukup mudah, karena hanya menggunakan peralatan rumah tangga. Kemudahan inilah yang membuat ibu-ibu Dasa Wisma dapat mengaplikasikannya tanpa mengalami kendala. “Pelepah pisang itu dibuat ekstrak, lalu diberikan pengharum alami,” katanya.

Ketua Dasa Wisma Dukuh Muntuksari, Maftukhah, mengaku sangat senang karena sempat diberikan pelatihan membuat sabun dari pelepah pisang. Bersama ibu-ibu lainnya, ia merasakan manfaat pelatihan ini. Selain mengisi waktu luang, mereka juga bisa menjadi produktif. ”Kami berharap, produk yang dihasilkan juga menjadi sumber tambahan pendapatan bagi warga sekitar,” harapnya. (*/aro)