RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Jumlah kasus kebakaran di Kota Semarang pada musim kemarau saat ini semakin meningkat. Sepanjang Januari hingga Agustus 2018 ini, setidaknya telah terjadi 226 kasus kebakaran.

Berdasarkan data Dinas Kebakaran Kota Semarang, tercatat pada Januari 2018 terjadi 11 kasus kebakaran. Bulan berikutnya, Febuari terjadi penurunan, yakni 9 kasus. Kemudian pada Maret, meningkat menjadi 14 kasus, April 16 kasus, Mei 30 kasus, Juni 41 kasus, Juli 59 kasus dan hingga tanggal 23 Agustus 2018 telah terjadi 46 kasus kebakaran.

Kabid Operasional dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Trijoto Poejo Sakti AP mengakui, jumlah kejadian kebakaran terbanyak adalah kasus kebakaran rumput ilalang sampah mencapai 98 kasus dalam kurun waktu Januari sampai 23 Agustus 2018. Kemudian, dalam kurun waktu yang sama, kasus kebakaran disebabkan korsleting listrik sebanyak 80 kejadian.

“Paling banyak ilalang (terbakar), faktor kemarau. Kadang juga budaya, membuang rokok dilempar begitu saja juga bisa. Kadang ada yang sengaja membakar tapi tidak ditunggui, ditinggal akhirnya membesar, kita yang memadamkan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (27/8) kemarin.

Terkait, kasus kebakaran disebabkan arus listrik, Trijoto mengimbau kepada masyarakat untuk selalu bijak. Menurutnya, jangan terlalu banyak memasang saklar, sambungan kabel dan jangan ditumpuk-tumpuk.

“Imbauan saya untuk masyarakat kalau misalkan api masih kecil bisa menggunakan karung goni dibasahi, handuk bisa, syukur-syukur punya Apar (alat pemadam kebakaran) sendiri. Kemudian kalau memasak, menyalakan api jangan ditinggal pergi,” ujarnya.

Lanjut Trijoto menjelaskan, jumlah kasus kebakaran sepanjang 2017 lalu mencapai 304 kejadian. Kasus terbanyak juga sama, ilalang 127 kejadian dan disebabkan korsleting listrik 112 kasus.

“Di tempat yang padat, itu biasanya bukan dari kompor meledak, tetapi malah dari arus listrik. Rata-rata tahun kemarin sehari terjadi kebakaran bisa sampai dua kejadian.  Kalau tahun ini, jumlah data itu bisa terus bertambah,” katanya.

Sedangkan jumlah korban jiwa, pada 2017 tercatat sebanyak 2 jiwa dan luka berat 1 orang, luka ringan 1 orang. Kemudian sepanjang 2018, tercatat 2 orang meninggal dunia di bulan Juli 2018. Lokasi kejadian berada di Semarang Tengah. “Itu karena terjebak di dalam, sebab bangunan (rumah) rapat semua,” jelasnya.

Menanggapi terkait adanya kendala anggotanya dalam menjalankan tugas melakukan pemadaman, Trijoto mengakui sampai detik ini tidak mengalami kendala. Menurutnya, kebutuhan air masih bisa diperoleh.

“Paling terkendala misalkan ada portal terlalu rendah, kemudian aliran listrik dari PLN yang belum dimatikan. Itu kita tidak bisa nyemprotkan air di lokasi kebakaran. SOP kita 15 menit harus nyampai TKP,” katanya.

Di Kota Semarang, Trijoto menyebutkan telah terdapat tujuh pos pangkalan pembantu pos induk pemadam kebakaran di Madukoro Semarang Barat. Berlokasi daerah Terboyo, Plamongan, Banyumanik, Gunungpati, Mijen, Barito, dan Tugu. Masing-masing pos terdapat ada yang masih satu unit kendaraan pemadam ada yang dua unit.

“Minimalnya ya dua unit, kita juga melihat kondisi posnya juga. Kita juga berharap adanya penambahan pos, yang perlu adanya pos ini di Tembalang, ini belum ada, masih bergabung dengan Sumurboto Banyumanik. Sumurboto ini mengampu Banyumanik, Tembalang, dan Gajahmungkur,” ujarnya. (mha/aro)