17 Kasus Kekerasan Perempuan Anak

1182
GRAFIS: TIO/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: TIO/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Pemkot Magelang terus mendorong warganya tak segan melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pun kepada orang tua, diminta untuk meningkatkan pengawasan, agar anak tidak menjadi pelaku maupun korban kasus pelecehan seksual.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP4KB) Kota Magelang, Wulandari berharap orang tua tidak cuek terhadap pergaulan anak. Termasuk dalam cara berpakaian anaknya di rumah, maupun saat melakukan aktivitas di luar rumah.

Ia menyebutkan, hingga awal Agustus 2018 sudah menerima 17 aduan masalah. Sebanyak 11 kasus di antaranya menyangkut kekerasan terhadap perempuan, dan 6 kasus kekerasan terhadap anak. Sedangkan sepanjang tahun 2017, terdapat 21 kasus yang dilaporkan.

Masih menurut Wulan, jenis laporan yang ditangani cukup beragam. Mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan dalam pacaran (KDP), pemerkosaan, pelecehan seksual, penelantaran, dan kekerasan verbal yang berupa perkataan cabul atau mengarah ke seksual. Faktor ekonomi dan lingkungan menjadi penyebab terbesar.

“Tahun ini belum ada kasus yang pelakunya sampai dipidana,” tutur Wulandari.

Kendati demikian, kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus sudah terbilang tinggi. Hal ini karena terobosan pelayanan yang ia berikan, berupa penerjunan petugas khusus yang menggunakan mobil dan motor keliling untuk menjangkau masyarakat agar mudah dalam melaporkan suatu kejadian.

Selain itu juga dilakukan pelatihan dalam forum anak dan gender champion. Yakni menjadi anak dan perempuan yang berani menjadi pelapor.

Ia juga menargetkan zero kekerasan di Kota Magelang. Untuk mewujudkan itu, pihaknya telah melaksanakan beberapa program seperti Sekolah Layak Anak, RW Layak Anak, dan RT Layak Anak. Upaya lain, pemerintah menyiapkan perda tentang perlindungan anak, gender, serta tentang penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Cara paling efektif untuk menekan kekerasan adalah dengan konsep “pengepungan” yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya. (mg24/mg22/put/lis)