Kekeringan dan Irigasi Buruk, Petani Panen Dini

258
PANEN DINI : Beberapa petani di Kecamatan Sragi melakukan panen dini karena sawahnya mengalami kekeringan. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
PANEN DINI : Beberapa petani di Kecamatan Sragi melakukan panen dini karena sawahnya mengalami kekeringan. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sejumlah petani di Desa Kedungjaran, Pododadi dan Swagi, Kecamatan Sragi, melakukan panen lebih awal. Langkah tersebut untuk mengantisipasi tanaman padi mati karena kekurangan air. Mengingat musim kemarau yang panjang sehingga debit air semakin menurun, ditambah buruknya sistem irigasi.

Meski sebagia padi belum matang secara maksimal, panen lebih awal dilakukan untuk mengurangi kerugian, serta harga gabah atau beras yang sedang membaik, mengingat banyak daerah yang mengalami gagal panen.

Kepala Desa Kedungjaran, Kecamatan Sragi, Saridjo, mengungkapkan bahwa banyak petani yang melakukan panen lebih awal atau panen dini karena khawatir tanamannya akan mati karena kekeringan dan diserang hama tikus.

Menurutnya, buruknya irigasi sawah yang ada di Kecamatan Sragi, banyak petani yang hanya menanam satu kali saja dalam setahun. “Jika menyewa pakai pompa air, untuk mengalirkan air selama 2 bulan, biaya yang diperlukan terlalu mahal, jadi dipanen lebih awal atau mati karena padinya tidak bisa tumbuh secara maksimal,” ungkap Saridjo.

Sementara itu, Kabid PSDA, Dinas Pekerjaan Umum dan Taru Kabupaten Pekalongan, Edi Setiawan, membenarkan adanya 41 hektare sawah di Kecamatan Sragi mengalami kekeringan dan berpotensi gagal panen, karena debit air yang terus menurun hingga mengalami kekeringan.

Menurutnya Daerah Irigasi Sragi faktor K-nya 1, tapi kenyataannya di bawah angka 0,49, sehingga mengalami kekurangan akan air yang mengalirinya. Faktor K ini perbandingan debit sungai dengan kebutuhan. Normalnya faktor k itu 1,untuk daerah irigasi (DI) yang faktor K di bawah 1, di antaranya DI Sudi Kampil, Rogoselo, Bandar Pekiringan, dan DI Kajen.

“Sedangkan, di DI Padurekso dan Simbang, faktor K masih lebih dari 1. Untuk Bendung Kletak, Kaliwadas, dan Asam Siketek bukan kewenangan kami, namun BPDAS Pemali Comal. Jadi banyak sawah yang mengalami kekeringan karena debit airnya terus menurun,” kata Edi. (thd/zal)