Kisah Empat Perempuan Wujudkan Air Bersih di Sumba Timur

365

JawaPos.com – Tak dipungkiri ketersediaan sumber air bersih belum sepenuhnya dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat Indonesia. Bahkan sebuah data statistik menyebut satu dari tiga orang kekurangan air bersih. Salah satu wilayah minim air bersih terdapat di wilayah Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Di balik keindahan alam yang menawan serta potensi pariwisata yang menjanjikan dari tanah Sumba, namun nyatanya akses air bersih di wilayah timur Indonesia ini masih sangat buruk. Setiap pagi ibu-ibu dan anak-anak harus menempuh perjalanan hingga empat jam untuk mengambil air bersih di dasar sumber.

Berangkat dari kondisi tersebut, empat srikandi cantik yang terdiri dari Priska Ponggawa, Thanya Ponggawa, Cindy Angelina, dan Eunice Salim tercetus membuat gerakan bernama Water House Project. Gerakan non profit ini mulai dirintis tahun 2016 untuk memberikan kemudahan akses air bersih di berbagai wilayah Indonesia.

“Berawal di tahun 2016 kita berempat kita pergi ke Sumba ternyata akses air bersih disana susah banget. Akhirnya tahun lalu kita bekerja sama dengan UNDP (United Nations Development Programme) Indonesia udah berhasil membuat sumber air dua desa Napu dan Pambuatanjara, Sumba Timur,” tutur Priska Ponggawa, co-founder Water House Project usai menghadiri acara Wardah di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (15/8).

Selama dua tahun terakhir gerakan ini, pihaknya menjelaskan sudah berhasil membantu ketersediaan air bersih di dua wilayah. Masing-masing menjangkau 500 kepala keluarga yang tersebar di empat titik. Saat memulai gerakan ini, ia bersama tim berdiskusi dengan pemangku adat setempat untuk turut mendukung upaya ini.

Kendala yang dihadapi gerakan ini, menurutnya adalah faktor alam. Pasalnya tanah Sumba cenderung berkarang sehingga cenderung sulit untyk digali sumber airnya. Belum lagi kondisi jarak antar kepala keluarga letaknya sangat berjauhan sehingga cukup menyulitkan proses distribusi air.

“Jadi pulau Sumba itu tanahnya karang dan ada kandungan kapur makanya gak bisa digali dibawah aja. Harus cari sumber air dari dasar bumi dengan pengeboran. Dan di desa Pambuatanjara kita sedot air pake pompa hidrolik,” tambah Priska.

Untuk melancarkan upaya penggalian sumber air bersih ini, pihaknya sangat beruntung sebab mendapat dukungan dan respon positif dari berbagai kalangan, termasuk Wardah dan Yayasan Dian Sastro Wardoyo

Dengan adanya Water House Project ini, pihaknya berharap agar masalah air bersih ini semakin teratasi, dan kedepannya bisa menjangkau daerah lain secara lebih luas. Namun pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk rajin mewarat fasilitas ini mengingat air bersih tak mudah didapatkan.

“Karena sudah dibantu, mereka akhirnya merawat pipanya, kalo ada rusak jadi urunan. Jadi mereka tahu kalo air harus dihargai dan dijaga dengan sumber daya mereka. Kita gak mau manjain. Lewat ini kita juga kasih pembelajaran,” tutup perempuan lulusan Universitas California ini.

(fid/JPC)