Waspadai Sapi TPA Jatibarang

Diperjualbelikan sebagai Hewan Kurban

167
MAKAN SAMPAH: Sejumlah sapi memakan sampah sisa  makanan di TPA Jatibarang, kemarin. (Triawanda Tirta Aditya/Jawa Pos Radar Semarang)
MAKAN SAMPAH: Sejumlah sapi memakan sampah sisa  makanan di TPA Jatibarang, kemarin. (Triawanda Tirta Aditya/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Jelang Hari Idul Adha, keberadaan sapi-sapi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang kembali disorot. Sapi yang mengonsumsi sisa makanan itu dinilai tidak layak untuk dijadikan hewan kurban. Pasalnya, sapi-sapi itu memiliki kandungan timbal senyawa sampah dan cairan yang dihasilkan dari endapan sampah dalam perutnya. Hal tersebut ditakutkan dapat menurunkan kualitas kesehatan sapi itu sendiri.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Wahyu Permata Rusdiana, mengatakan, sapi TPA Jatibarang yang hendak dijual harus dikarantina terlebih dahulu minimal selama 4 bulan, dan harus melalui proses pengecekan laboratorium untuk mengetahui kandungan sampah plastik yang berada di dalam perut. Setelah proses tersebut, akan dikeluarkan surat keterangan kesehatan hewan, dan sapi itu layak diperjualbelikan.

“Warga yang hendak membeli sapi harus menanyakan terlebih dahulu apakah si penjual sudah memiliki surat keterangan kesehatan dari Dinas Pertanian yang menyatakan bahwa sapi tersebut sudah layak digunakan sebagai hewan kurban,” jelas Rusdiana pada Jawa Pos Radar Semarang.

Seorang pedagang sapi di Manyaran, Nicko Dermawan, menyampaikan dirinya tidak berani membeli sapi-sapi yang berasal dari TPA Jatibarang karena dianggap terlalu berisiko apabila diperjualbelikan ke masyarakat umum.

“Saya kira kalau orang Semarang jarang ada yang berani beli sapi dari TPA Jatibarang, karena mereka sudah tahu kalau sisa-sisa makanan yang dikonsumsi sapi berdampak buruk pada kesehatan. Otomatis kalau ada apa-apa kan pedagang bakal diprotes dan pembeli jadi kabur karena kecewa dengan kualitas sapi yang dijual,” kata Nicko.

Nicko juga menjelaskan, sapi yang mengonsumsi sisa-sisa makanan di dalam perutnya akan ditemukan gumpalan plastik, dan warna daging akan mudah menjadi hitam. Berbeda dengan warna daging sapi sehat yang berwarna merah. Sapi pemakan sampah biasanya akan berontak ketika didekati manusia, dan berusaha menolak ketika ingin diikat oleh tali.

“Hanya segelintir orang yang nekat dan berani beli sapi di TPA Jatibarang, memang untungnya besar, tapi sama saja kalau kepercayaan konsumen setelah itu menurun dan berdampak pada daya beli masyarakat yang lain,” jelas Nicko.

Petugas lapangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Suprapto menjelaskan, pihaknya juga kurang menyetujui apabila sapi-sapi di TPA Jatibarang diperjualbelikan ke masyarakat umum, karena dianggap memiliki standar kesehatan di bawah rata-rata.

“Sejak 1998 ada banyak warga yang beternak sapi di TPA Jatibarang, memang ini suatu problematika yang sulit diselesaikan, karena sapi-sapi ini merupakan salah satu sumber mata pencaharian dari warga sekitar sini,” jelas Suprapto.

Salah seorang pemilik sapi TPA Jatibarang, Munjiatun, mengatakan, dalam beberapa minggu terakhir sudah ada sejumlah transaksi yang terjadi dengan para blantik atau perantara jual beli sapi. “Kami sering berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Semarang untuk memastikan kesehatan sapi, dan setiap menjelang Idul Adha kami para peternak selalu menjual sapi-sapi jantan,” kata warga Bambankerep, Ngaliyan ini. (cr2/aro)