Jatuh Cinta dengan Puisi

237
Hanifa Maylasari (DOKUMEN PRIBADI)
Hanifa Maylasari (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – PUISI bagi Hanifa Maylasari seperti aliran air kehidupan yang mengalir tanpa henti. Karena kehidupan itu begitu dinamis, maka puisi akan terus bergulir setiap saat dalam momen kehidupan. “Puisi akan terus menyertai di kala sedih, hampa, ataupun bahagia,” cetus mahasiswi semester 7 jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Undip ini.

Karena puisi jugalah, finalis Putri Batik Undip 2017 ini berani berbicara di depan umum. Dari setiap apa yang dialami dalam hidup menurut Fafa –sapaan akrabnya–, dapat dituangkan dan diekspresikan melalui puisi.  “Sehingga puisi bukan hanya hobi bagi saya, tapi lebih dari itu. Bahkan sejak  kecil ketika saya baru mengenal puisi,” tandas juara 1 Mas dan Mbak Fisip Undip 2016 ini.

Tak heran bila finalis Citizen Journalist Academy (CJA) cabang News Presenting yang diadakan Pertamina 2017 ini begitu menjiwai bait-bait puisi yang dibacakannya.

Sejak kelas 5 SD, dara yang aktif di BEM Undip tersebut sudah bergelut dengan puisi melalui lomba baca puisi. Kepiawaian Fafa membaca puisi terus diasah dalam berbagai lomba. Terakhir, pada Agustus 2018 ini, ia meraih juara 1 Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Jawa Tengah Tangkai Baca Puisi Putri di Universitas Panca Sakti Tegal yang diselenggarakan oleh BPSMI.

Tahun-tahun sebelumnya prestasi yang diraih antara lain juara 4 Festival Lomba Seni dan Sastra tingkat Nasional (FLS2N) Tangkai Baca Puisi 2014, kemudian juara 3 lomba geguritan tingkat Kota Semarang 2011, serta juara 2 Cipta Puisi tingkat Kota Semarang 2010.

Dari sekian lomba puisi itu yang cukup mengesankan baginya adalah ketika mengikuti Festival Lomba Sastra dan Seni Nasional (FLS2N). Saat itu, peraih juara 2 Lomba Siswa Berprestasi Provinsi Jawa Tengah 2011 ini masih duduk di bangku SMA.

“Saat itu usia saya masih 17 tahun  kelas 2 SMAN 3 Semarang dan harus bersaing dengan 32 peserta lain dari 32 provinsi di Indonesia. Dilatih oleh Agung Hima seorang sastrawan asal Semarang yang sampai detik ini masih melatih saya,” tutur gadis yang juga senang menulis puisi itu.

Kini, setelah berkecimpung di dunia puisi, Fafa semakin paham bahwa puisi merupakan cerminan diri keseharian yang dinamis. Semua puisi tidak bisa disamakan, karena masing-masing memiliki karakternya sendiri. “Ketika saya memahami itu, maka saya semakin jatuh cinta dengan puisi,” pungkas gadis kelahiran 2 Mei 1997 itu sembari tersenyum manis. (lis/aro)