Gardu Pandang Selesai Akhir Tahun

448
TAMBAH WAHANA : Wisatawan berada di Gunung Tidar yang akhir tahun 2018 ini mendapat tambahan wahana baru berupa gardu pandang dan monumen Tanah Air. (DOK RADAR KEDU)
TAMBAH WAHANA : Wisatawan berada di Gunung Tidar yang akhir tahun 2018 ini mendapat tambahan wahana baru berupa gardu pandang dan monumen Tanah Air. (DOK RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Dua wahana baru, yaitu monumen Tanah Air dan gardu pandang di Gunung Tidar akan siap difungsikan akhir tahun ini. Pemkot Magelang sudah mulai mengerjakan kedua wahana baru tersebut sejak awal Juli 2018.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Kota Magelang, Chrisatrya Yonas Nusantrawan Bolla menjelaskan, gardu pandang mulai dikerjakan pada 2 Juli dengan jangka waktu 180 hari kalender. Sementara monumen Tanah Air dikerjakan mulai 4 Juli selama 150 hari kalender.

Bentuk gardu pandang ini tidak seperti bangunan di tempat lain yang berupa menara. “Tidak seperti bangunan vertikal, tapi seperti rumah sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan seolah seperti rumah sendiri,” papar Yonas.

Yonas menjelaskan, sumber dana pembangunan gardu pandang berasal dari Bantuan Provinsi (Banprov) Jawa Tengah sebesar Rp 1.867.173.000. Sedangkan monumen Tanah Air dari APBD Kota Magelang sebesar Rp 911.384.000.

Tambahan dua objek wisata baru di area Gunung Tidar ini akan memberikan sarana dan prasarana baru kepariwisataan di Kota Magelang. Selama ini Gunung Tidar dikenal sebagai wisata religi, namun ke depannya pengunjung bisa menikmati empat wahana sekaligus. “Keempat itu antara lain wisata religi, wisata edukasi, wisata budaya, dan wisata panorama. Peziarah misalnya ingin belajar tentang edukasi, bisa karena di sana terdapat tanaman, habitat, sejarah, dan juga adanya monumen,” beber Yonas.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang, Jarwadi menuturkan, pembangunan gardu pandang dan monumen Tanah Air bertujuan untuk menambah fasilitas para pengunjung. “Monumen Tanah Air Persatuan ini sangat sakral karena berasal dari tanah dan air se-Nusantara yang dibawa peserta gowes, saat Hari Olahraga Nasional (Haornas) tahun 2017 lalu,” ujar Jarwadi.

Dengan adanya penambahan fasilitas di Gunung Tidar, kata Jarwadi, maka besaran retribusi perlu dikaji ulang. Sebab akan ada penambahan biaya pemeliharaan sarana-sarana tersebut. “Kami harapkan agar besarannya ideal, mengingat biaya pemeliharaan juga akan bertambah jika fasilitas yang disediakan semakin banyak,” imbuh Jarwadi. (had/ton)