Sekaleng Lem, Habis Dihirup Tiga Hari

Anak Jalanan Ngelem Kembali Marak

326

RADARSEMARANG.COM – Membeli narkoba mahal. Pil koplo juga tidak murah. Anak-anak jalanan pun memilih menghirup lem agar bisa ngefly. Pemandangan ini sering kita jumpai di kawasan Tugu Muda, jembatan Kaligarang, Sukun Banyumanik, dan kawasan Metro Johar.

MALAM itu, arus lalu lintas di kawasan Tugu Muda  Semarang cukup ramai. Sejumlah anak berusia belasan tahun  sambil menenteng beberapa eksemplar koran menawari para pengguna jalan saat lampu bangjo menyala merah. Begitu traffic light menyala hijau, bocah dengan pakaian sedikit lusuh itu memilih berdiri dan terdiam di bawah pohon besar sembari tengok kanan kiri untuk memastikan setiap orang yang jalan di sekitarnya tidak memperhatikan dirinya.

Saat itulah, anak jalanan tersebut mulai ngelem. Tangannya dimasukkan ke dalam baju dan memegang kaleng kecil yang dikalungkan di lehernya. Sesekali kaleng yang bergantung di lehernya tersebut didekatkan ke hidungnya. Hal itu sering kali dilakukannya. Satu kaleng kecil berisi lem atau perekat kayu beralkohol untuk sepatu atau plastik, dicium oleh bocah kecil tersebut.

Lem yang biasa digunakan merek AA-Bon kaleng kecil seharga Rp 3.000, sementara untuk Aica Aibon ukuran besar seharga Rp 11.500 per kalengnya. Untuk satu kaleng biasa mereka habiskan dalam kurun waktu 3 hari.

Ketika didekati Jawa Pos Radar Semarang, bocah yang tidak pernah sekolah itu terlihat gugup dan ketakutan. Seketika itu dia mengeluarkan tangannya dari dalam baju yang dikenakan. Bahkan dia langsung memutuskan untuk berjalan cepat dan pindah ke tempat yang lain, seakan dia tahu kalau yang dilakukannnya adalah perbuatan yang salah atau dilarang. Perbuatan semacam itu dikenal masyarakat dengan sebutan ngelem. Awalnya, saat ditanya soal lem tersebut, dia hanya membisu. “Rahasia,” ucap bocah sebut saja Iwan tersebut singkat.

Saat ditanya, Iwan sedang ngelem. Bocah tersebut sama sekali tidak mau menjelaskan dan malah asyik main batu-batu kecil yang ada di depannya. Namun ketika ditanya mengenai kebiasaan ngelem, dia mangakui masih banyak anak yang melakukan hal tersebut. Bukan hanya anak jalanan, tetapi juga beberapa anak rumahan, ada yang melakukan hal itu. Barulah bocah kecil dengan wajah bengis itu mau sedikit bercerita. “Enak ngelem, rasanya pikiran jadi plong aja, bikin perut jadi kenyang juga, lagian harganya juga murah,” kata Iwan.

Sama halnya dengan Rizal, bocah asal Kendal yang kedapatan ngelem di kawasan Tugu Muda. Bocah 10 tahun itu sudah sedari kecil ngelem, berawal dari ajakan temannya. “Enakan ngelem dari pada makan,” tandasnya .

Ngelem juga dilakukan oleh beberapa siswa SMP di Semarang. Pernyataan ini dibenarkan oleh salah satu mantan “pengelem”.

“Saya hanya ikut teman-teman saja, dan kamar mandi menjadi bescame kami saat melakukan ngelem,” ujar Rian (bukan nama sebenarnya) , 17.

Ternyata ngelem tidak hanya dilakukan oleh anak jalanan yang tidak tersentuh pendidikan. Ngelem juga dilakukan oleh beberapa anak sekola. Bahkan sempat teman Rian menghirup lem hingga tidak sadarkan diri.

Dengan kejadian itu, Rian memutusakan untuk menghentikan hal bodoh tersebut. Karena dia juga takut jika orang tuanya sampai mengetahui. “Setelah kejadian itu wis berhenti, nggak mau lagi, soale takut.”ujarnya kembali

Menurut Rian hal itu hanya rasa penasaran kalangan remaja yang ingin coba-coba. Kini Rian menjalani hidup dengan tenang, dan tidak berpikir untuk berbuat hal itu kembali. Ia berharap agar tidak ada lagi remaja yang melakukan itu, terlebih dalam lingkungan sekolah.

Fenomena anak jalanan menghirup lem warna kuning memang bukan hal yang baru. Mereka akan mudah dikenali di bangjo jalan protokol, dan di bawah jembatan Banjir Kanal Barat.

Wahono (bukan nama sebenarnya), warga yang bermukim di sekitar Lawang Sewu mengatakan, anak-anak yang menghirup lem kebanyakan berasal dari kalangan pengamen dan anak-anak punk. Mereka akan mudah dikenali karena memiliki ciri-ciri khusus.  “Kalau teman-teman yang menghisap itu punya ciri-ciri seperti sedang memasukkan salah satu tangannya ke dalam baju, mendekatkan bajunya ke hidung, menutupi hidung seolah sedang menghisap sesuatu. Mereka bisa menghirupnya di mana-mana, soalnya ditaruh di baju. Biasanya lem ada tempat tersendiri di bajunya,” jelasnya.

Anak-anak yang menghirup lem biasanya tidak tahu akibat negatif dari lem ini. Yang dikehendaki mereka hanyalah perasaan senang dan tidak ada beban pikiran, setelah mereka menghirupnya akan merasa fly.

Dia menambahkan, merek Aica Aibon adalah lem yang sering digunakan untuk dihirup.”Biasanya mereka hirup lem merek itu. Tapi merek Fox juga bisa. Biasanya aibon yang lebih keras efeknya, ” ungkapnya.

Diakui, orang yang menghirup lem akan berhalusinasi, memiliki pikiran yang keras dan mati rasa. “Saya dulu pernah ngomik, efeknya kayak minum alkohol. Kliyengan. Tapi waktu saya ngirup lem, efeknya lebih dari ngomik. Saya gak sadar nonton TV cuma dihidupin lalu dimatiin, terus-menerus. Saya jalan biasa, ditonjok orang gak kerasa. Waktu ngirup lem itu, pertama yang dirasain itu mata, terus ke otak, lalu ngefly. Caranya, lem dicampur air, diaduk, kemudian langsung dihirup. Dihirup lagi, ditambahi air lagi. Begitu seterusnya. Pokoknya, hirupnya sampai air habis,” ujarnya.

“Paling banyak di daerah Sukun, Banyumanik. Dua orang teman saya meninggal karena menghirup lem. Dia gak sadar benturkan kepala ke tembok. Meski berdarah, tapi mereka gak merasa sakit. Ada penggumpalan darah di kepala mereka. Dari menghirup lem, akhirnya meninggal,” bebernya.

Salah satu penyebab maraknya penyalahgunaan lem ini adalah penjualan lem bersifat legal. Hal ini karena penjual tidak tahu penyalahgunaan lem oleh pembeli untuk dihisap, bukan digunakan untuk mengelem. “Saya tahunya lem untuk mengelem, bukan dihirup. Saya gak tahu kalau lem bisa digunakan buat ngefly begitu,” tutur pedagang lem, Suharsono.

Dokter Aditya Doni Pradana menjelaskan, dalam ilmu kedokteran, ngelem merupakan sebuah kegiatan pemanfaatan zat adiktif. Zat ini jika dikonsumsi akan menimbulkan rasa ketergantungan, serta adanya adiksi yang sulit dihentikan dan berefek menggunakannya secara terus-menerus. Ciri khas pengguna zat adiktif akan merasakan tingkat halusinasi yang tinggi. Selain halusinasi, zat yang terkandung di dalamnya dapat menimbulkan Euforia (Rasa senang dan sedih yang berlebihan).

“Selama belajar hingga menjadi dokter, belum pernah ada kasus seperti ini yang saya tangani langsung, mungkin karena hal ini belum mereka (pengguna) merasakan efek samping dari menghirup lem, terlebih mereka juga merasa baik-baik saja,” kata dr Aditya Doni Pradana.

Selain itu, dokter yang berdinas di Puskesmas Ungaran menambahkan, efek dari ngelem ada dua, yakni efek jangka pendek dan jangka panjang. “Efek jangka pendek dari kegiatan ngelem ini biasanya pelaku akan pusing-pusing lalu berhalusinasi, dan jika membicarakan soal efek jangka panjang tentu banyak sekali, terutama dalam paru-paru hingga mempengaruhi sistem hormon dalam otak,” tegas dr Aditya.

Menurut pakar Psikologi Rumah Sakil Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro, ngelem merupakan pelampiasan mereka untuk mengaktualisasikan diri, namun mereka tidak memiliki kemampuan. Mereka ingin memiliki rasa berani yang lebih. Anak-anak yang ngelem memiliki rasa paranoid yang tinggi. Mereka cenderung mudah curiga dengan orang baru. Efek samping yang cukup signifikan adalah daya pikir  mereka mulai melemah karena sudah terpengaruh oleh zat dari lem itu sendiri. “Efek dari ngelem itu sendiri, tubuh tidak bisa menerima makanan sehat, sehingga menyebabkan susah tidur dikarenakan otak mereka yang terus bekerja,” jelasnya.  (mg15/mg16/mg7/mg18/mg19/mg20/mg21/mg8/mg9/mg10/mg11/mg12/aro)