Pemandu Lagu Pindah ke Luar Kota

1893
RAZIA : Tim gabungan penegak perda Kabupaten Wonosobo menyisir tempat-tempat karaoke di Kabupaten Wonosobo Jumat (17/8) malam. (Sigit Rahmanto/ Radar Kedu)
RAZIA : Tim gabungan penegak perda Kabupaten Wonosobo menyisir tempat-tempat karaoke di Kabupaten Wonosobo Jumat (17/8) malam. (Sigit Rahmanto/ Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Setelah aksi unjuk rasa yang dilakukan Banser terhadap hiburan karaoke beberapa waktu lalu, Bupati Wonosobo Eko Purnomo memerintahkan Tim Penegak Perda untuk menyisir tempat hiburan malam di wilayah Kabupaten Wonosobo.

Dari hasil razia tim gabungan yang terdiri dari polres dan Kodim 0707, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Komunikasi dan Informatika serta Kantor Kesbangpol Kabupaten Wonosobo Jumat ( 17/8), tak ditemui tempat hiburan yang beroperasi.

Alhamdulillah, selama melakukan penyisiran dan razia ke 23 tempat hiburan malam yang masih ilegal, tak kami temui adanya tempat hiburan yang masih dibuka,” ungkap Kepala Bidang Penegakan Perda Satpol PP, Sunarso.

Tim yang berjumlah 25 personel ini melakukan razia pada pukul 20.00 – 23.30. Dimulai dengan menyisir wilayah kota hingga masuk wilayah Kecamatan Leksono.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) One Andang Wardoyo menyebutkan sampai saat ini belum ada yang mendaftar kembali, setelah semua persyaratan yang diajukan pada Disparbud tersebut dikembalikan. “Mereka sudah banyak yang mengajukan TPUD, tapi syaratnya belum lengkap,” katanya.

Sementara itu kuasa hukum Asosiasi Pengusaha Karaoke (Aspara) Kabupaten Wonosobo Joseph Parera saat ditemui beberapa waktu lalu mengungkapkan dirinya sudah berbicara pada kliennya untuk tidak membuka tempat usahanya terlebih dahulu.

Dia mengungkapkan tengah menunggu jawaban surat yang telah disampaikan pada bupati. Isi surat itu adalah meminta bupati agar bersedia duduk bersama membahas kembali aturan yang menurutnya sangat menyudutkan pihak Aspara.

Sementara itu, Susi, (nama samaran), 27, seorang pemandu lagu (PL) di salah satu tempat karaoke di Wonosobo mengungkapkan dirinya masih diliburkan.

”Setelah aksi ormas itu, memang dalam beberapa hari masih sempat dibuka. Namun setelah tiga hari buka, banyak polisi yang datang. Akhirnya ditutup kembali,” ujarnya.

Sementara ini, dari jumlah PL yang Susi kenal, banyak yang beralih ke luar kota. “Ada yang ke Jogja, Semarang, Banjarnegara dan beberapa kota lain. Mereka yang tetap bertahan menjadi PL itu memilih lari ke luar kota,” tandasnya. (cr/lis)