Majukan Pariwisata, Semua Harus Bersinergi

204

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Semua pihak harus bersinergi dalam memajukan dunia pariwisata. Gerakan Sadar Wisata dinilai mampu menggugah seluruh pihak untuk peduli dengan dunia pariwisata.

“Gerakan Sadar Wisata merupakan program untuk menyadarkan masyarakat setempat agar memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh wisatawan,” kata Kepala Bidang Pengembangan Masyarakat Pariwisata pada Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata dan Hubungan Antarlembaga, Kementerian Pariwisata, Hidayat usai Pencanangan Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona 2018 di Candi Gedongsongo, Bandungan, Minggu (19/8).

Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, M Maskuri mengatakan, melalui gerakan tersebut pihaknya optimistis masyarakat setempat bisa lebih siap menerima wisatawan. Sekaligus berperan aktif dalam menciptakan kondusivitas suatu wilayah. “Kabupaten Semarang sebagai daerah penyangga segitiga emas atau joglosemar sudah bersiap diri untuk meningkatan percepatan pengembangan destinasi,” kata Maskuri.

Berbicara sektor pariwisata nasional, berturut-turut dari 2013 tercatat sudah menduduki peringkat keempat sebagai penyumbang devisa, PAD, dan lapangan kerja yang paling mudah sekaligus paling murah. Artinya, hanya dengan berbekal kreativitas sumber daya manusia yang mumpuni pariwisata bisa berkembang. “Misalnya, menciptakan lokasi untuk swafoto saja sudah dapat mendatangkan pengunjung. Namun tetap perlu diperhatikan kelanjutannya untuk selalu berinovasi,” katanya.

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Thomas Suyanto yang juga hadir mengingatkan tentang pentingnya menjaga lokasi wisata dari masalah sampah. “Sehelai daun yang jatuh pun, kalau bisa ya kita bersihkan dan dibuang pada tempatnya,” kata Thomas.

Demikian halnya ketika berbicara bagaimana dan siapa yang harus menjaga kebersihan tempat wisata. Tetap harus melibatkan semua pemangku kepentingan termasuk wisatawan itu sendiri. Jika belum ada tempat sampah sementara, pihaknya berharap instansi terkait segera menyediakan sarana itu. “Ketika tercium keharuman, manusia pasti akan mencintai. Tetapi kalau mencium bau-bau yang kurang harum, itu akan memunculkan terkaan. Misalnya, wah Gedongsongo ambune rak enak,” katanya.

Jika sudah ada kesan yang tidak baik di benak wisatawan ketika berkunjung, ia yakin, pasti akan berdampak panjang. Masyarakat tentu menanyakan peran pemerintah dalam mengelola lokasi wisata yang dimaksud. “Itu akan jadi satu perbincangan yang kurang baik. Jangan sebatas memberikan dukungan, tetapi wajib melaksanakan apa yang sudah disampaikan,” ujarnya. (ewb/ton)