SIAP TANDING :11 Atlet UTI Pro asal Kota Semarang bersiap bertanding ke event dunia di Malaysia. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIAP TANDING :11 Atlet UTI Pro asal Kota Semarang bersiap bertanding ke event dunia di Malaysia. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Bersamaan dengan pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta, 11 atlet Universal Taekwondo Indonesia Profesional (UTI Pro) asal Kota Semarang didelegasikan untuk berlaga dalam event dunia bernama CK Classic Internasional Open Taekwondo Championship 12th, Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada 24 -26 Agustus 2018 mendatang.

Adapun 11 atlet tersebut adalah Muhammad Fayiz Adesyifa, Muhammad Farras Gesyar S, Ibrahim Maulana Pasthyka A, Hilza Aidasyifara, Mohammad Zidan Fahmi M, Afita Ardian Kusnanda, Najwa Alya Putri Rahmadhani, Bertram Edria Arkana, Gayatri Shalsabilla Widia Putri, Ghani Ayang Arjuna, dan Belinda Ayu Widia Putri.

Ketua UTI Pro Jateng, Theodorus Yosep Parera mengatakan bahwa bukan prestasi semata, tapi diharapkan bisa mengharumkan nama Indonesia dan Kota Semarang. “Kami dorong untuk seluruh atlet agar menanamkan jiwa Pancasila,” kata Yosep Parera saat melepas ke sebelas atlet di halaman rumah pribadinya, Ngesrep Barat Dalam, Tembalang, Semarang, Sabtu malam (18/8) kemarin.

Yosep selaku Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang menjelaskan bahwa Pancasila adalah historico political gentleman agreement, yakni kesepakatan dari orang-orang dan kelompok-kelompok yang saling menghormati, meskipun disadari masih banyak  sulit dipertemukan. Tuntutan paling utama dari Pancasila adalah komitmen kuat untuk merawat kebersamaan, kebhinekaan, tanpa ulah penyesatan, penghianatan, dan pemaksaan di antara semua orang yang menjadi penghuninya.

“Artinya konsistensi menghormati Pancasila sebagai historico political gentleman agreement, menentukan kehormatan dan harga diri sebagai pewaris sah rumah Indonesia,” kata Yosep diharapan para atlet tersebut.

Di tempat terpisah, Yosep secara resmi meluncurkan wadah bernaung bagi masyarakat luas dengan nama Rumah Pancasila dan Klinik Hukum. Bahkan sudah dijadwalkan ada segudang agenda kegiatan sosial yang telah dirancang. Salah satunya memberikan tali asih bagi warga masyarakat yang butuh bantuan, tapi belum tersentuh pemerintah, sebagai bentuk nilai gotong royong.

“Inilah bagian dari ideologi Pancasila. Gotong royong. Kami harus ada di tengah masyarakat untuk saling membantu,” jelasnya.

Sementara itu, peresmian tersebut diramaikan dengan kegiatan berbagi. Yakni memberikan bingkisan berupa peralatan sekolah seperti tas, buku tulis, dan alat tulis kepada 25 anak-anak yang membutuhkan uluran tangan.

Salah satu pengurus Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Andreas Hijrah Aerudin menambahkan bahwa pihaknya sengaja mengambil bagian gotong royong, dengan harapan warga kurang mampu perlu mendapatkan perhatian.

“Yang ingin kami bangun, mereka bisa paham di Indonesia tidak sendirian. Karena ada orang lain yang memerhatikan. Kami berharap ketika ada warga yang sukses, bisa ikut bantu yang membutuhkan begitu sebaliknya,” jelasnya. (jks/ida)