Ditemukan Makam Ulama, hingga Kejadian Tak Wajar

Sisi Lain Pemindahan Makam Klampisan, Ngaliyan, Semarang

18296
DIDOAKAN: Jenazah yang sudah dikafani siap dimakamkan di kompleks makam baru. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIDOAKAN: Jenazah yang sudah dikafani siap dimakamkan di kompleks makam baru. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Pemindahan sedikitnya 1.200 makam Klampisan, Jalan Honggowongso, Ngaliyan, Semarang, yang tergusur tol Batang-Semarang ternyata menyimpan cerita tersendiri. Mulai ditemukannya makam penyebar agama Islam, makam tak beridentitas hingga kejadian mistis.

AFIATI TSALITSATI

SUDAH lima hari proses pembongkaran makam dilakukan. Terhitung sejak Rabu (15/8) lalu. Dalam perjalanan pembongkaran tersebut, masyarakat setempat meyakini terdapat lima makam ulama penyebar agama Islam di kompleks makam ini.

Menurut Sutikno, warga Klampisan, lima ulama tersebut terdiri atas seorang guru dan empat muridnya. Keyakinan itu muncul usai Tim Deteksi Makam Klampisan menyatakan ada lima makam ulama penyebar Islam di lokasi yang dibongkar.

Sutikno menyebutkan, ulama yang dianggap sebagai guru itu adalah Syech Abdul Hamid bin Sulaiman Al-Maghribi dari Maroko. Sedangkan dua dari empat muridnya yakni sesepuh Desa Klampisan, Eyang Klampisan dan Simbah Turiyah.

“Ada lima makam sesepuh yang juga ulama di sini (makam Klampisan, Red). Itu berdasarkan dari hasil deteksi tim yang melakukan pemindahan makam,” ungkap Sutikno kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dijelaskan, dari sepengetahuannya, tim pendeteksi yang dipimpin Joko, menggunakan metode metafisika. Selain makam kelima ulama sesepuh Klampisan tersebut, tim deteksi makam juga menemukan sekitar 150 makam tanpa identitas dan tidak diketahui ahli warisnya.

“Antara percaya dan tidak mengenai temuan itu. Sebab, selama berpuluh tahun hidup di daerah sini belum pernah mendengar cerita tentang penyebaran Islam,” ujarnya.

Apalagi satu dari kelima tokoh ulama itu berasal dari Maroko. Ia pun penasaran dengan kabar tersebut, sehingga rela untuk melihat selama proses pemindahan berlangsung.

Pemindahan makam di Klampisan dilakukan oleh Paguyuban Ngarso.

Ketua Paguyuban Ngarso Ngaliyan, Rubiyono, mengatakan, ada sekitar 1.200 makam di lokasi tersebut yang harus dipindahkan. Jumlah tersebut masih bertambah dengan ditemukannya sekitar 150 makam yang tidak diketahui identitas dan ahli warisnya.

“Jumlah jenazah berdasarkan data ada 1.200-an, tapi jumlahnya bisa berkembang karena ada beberapa yang tidak ada ahli warisnya. Makam sudah ratusan tahun jadi banyak yang tidak diketahui ahli warisnya,” katanya.

Banyaknya makam yang tidak diketahui identitasnya tersebut, lanjutnya, dikarenakan sudah sangat lama terkubur. Dilihat dari usia keberadaan lokasi makam yang lebih dari 300 tahun, hal itu memungkinkan terjadi. Untuk sementara, lanjutnya, baru ditemukan sekitar 150 makam tanpa identitas. Namun, Paguyuban Ngarso akan terus mencari makam lain sembari memindahkan makam yang sudah ada.

“Dalam pemindahan ini, kami melibatkan 25 orang untuk penggalian di makam lama, dan 45 orang di makam baru. Target kalau sesuai pembongkaran butuh waktu 30 hari atau sebulan. Mudah-mudahan bisa lebih cepat,” harapnya.

Hanya saja, ia pesimistis pembongkaran bisa selesai tepat waktu. Pasalnya, tim yang diterjunkan terkendala kondisi tanah makam yang cukup keras. Sehingga dalam sehari tidak mampu memindahkan setidaknya 100 makam sebagaimana yang direncanakan.

“Tanahnya keras, kami kesulitan menggali. Padahal kami sudah melakukan penggalian dengan membagi per ring. Karena kalau acak, maka akan menutup makam yang tanpa identitas. Makanya kita buat per ring agar tidak ada yang tertinggal,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, letak makam baru berada sebelah selatan makam lama dengan jarak sekitar 200 meter. Kondisi lokasi makam baru juga jauh lebih baik dari makam lama. Luas makam lama hanya 5.300 meter persegi, sementara luas makam baru sampai 12.400 meter persegi.

Sebagai makam tua, tentunya cerita mistis dialami para penggali kubur yang mengerjakan proses pemindahan. Kejadian tidak wajar masih terjadi meski sebelum dimulainya pemindahan makam, pihak panitia relokasi sudah melakukan ritual.

“Ritual awal kita selamatan tumpengan, pengajian, dan khataman Alquran, termasuk pembacaan ahli waris makam sebagai izin bongkar,” kata koordinator lapangan relokasi makam warga Klampisan, Suyono.

Suyono menceritakan, di makam lama ada makam sesepuh Mbah Klampis, Nyai Klampis, dan makam dua muridnya Mbah Panggeng dan Nyi Turiyah. Awalnya, makam tersebut tak terdeteksi, lalu dilakukan telusur beserta warga sesepuh dan mengerahkan tenaga ahli gaib.

Di makam baru, makam sesepuh tersebut akan dibuatkan sebuah makam pendopo dengan lantai berkeramik sebagai tetenger jasa sesepuh Klampisan.

“Pencarian makam itu juga melibatkan tenaga ahli gaib, termasuk mendeteksi makam no name atau tanpa identitas. Ada 307 buah makam tanpa identitas,” imbuh Suyono.

Makam tanpa identitas tersebut, pihaknya tetap akan menggali meski ada beberapa yang hasilnya nihil sesuai hasil penerawangan ahli gaib.

“Yang nihil baru baru 17 makam no name, mungkin sudah jadi tanah tengkoraknya. Tetap kita perlakukan dengan baik. Karena ‘dunia lain’ kita tetap percaya, apalagi ini dilintasi tol nantinya,” jelasnya.

Sementara, kejadian mistis atau tidak wajar lainnya juga sempat terjadi, yakni saat penebangan pohon beringin yang ada di sisi Timur makam. Penebangan pohon berdiameter 1,5 meter itu dilakukan oleh 15 orang untuk menarik arah jatuh pohon ke sisi timur makam.

“Anehnya saat ditarik 15 orang ke timur, pohon itu malah tumbang ke barat, hampir mengenai saya dan beberapa orang yang akan mengabadikan foto dan video penebangan,” ungkap Suyono.

Alhasil, dokumentasi penebangan pohon beringin raksasa itu tak terdokumentasikan sedikit pun. “Sepertinya ada hal lain yang tak ingin pohon itu diabadikan baik foto dan video, karena kita lari tunggang langgang menghindar pohon jatuh,” ucapnya.

Tak berhenti disitu, usai pohon tumbang, kejadian ganjil berlanjut dengan disertai angin puting beliung yang kencang di sekitar lokasi pohon. “Anginnya kencang sekali, memutar seperti puting beliung, ada sekitar satu menitan,” katanya.

Pihaknya berharap, proses relokasi ribuan makam bisa berjalan lancar tanpa kendala. Dia menargetkan dalam satu hari bisa memindah 100 makam di tempat baru. “Ada tiga lahan kapling, kita langsung makamkan ke tempat baru. Kita akan bekerja selama satu bulan ke depan,” ujarnya. (*/aro)