Kuliah sambil Bekerja, Terinspirasi dari Ayah

Lebih Dekat dengan Gilang Wicaksono, Public Relations Hotel Pandanaran Semarang

296
SAYANG KELUARGA: Gilang Wicaksono bersama keluarganya. (Dokumen Pribadi)
SAYANG KELUARGA: Gilang Wicaksono bersama keluarganya. (Dokumen Pribadi)

RADARSEMARANG.COM – Lika-liku kehidupan dijalani Gilang Wicaksono sebelum menduduki jabatan sebagai Public Relations Hotel Pandanaran Semarang. Sejak masih kuliah, pria kelahiran Pati ini sudah nyambi bekerja. Dia juga pernah bekerja di bank swasta nasional. Berikut kisahnya?

Triawanda Tirta Aditya

MENYELESAIKAN S1 Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro (Undip) selama 7 tahun, sejak 2007-2014, adalah hal yang tidak normal bagi kebanyakan mahasiswa. Sebab,  pada umumnya kuliah S1 diselesaikan dalam jangka waktu 4 tahun. Namun kondisi ekonomilah yang memaksa Gilang Wicaksono harus menyelesaikan kuliah dalam waktu yang lebih lama. Sebab, saat itu, pria 29 tahun ini berada di antara 2 pilihan hidup yang harus ditempuh. Ia harus memilih harus berhenti kuliah untuk fokus bekerja, atau memilih kuliah sambil bekerja. Akhirnya Gilang memutuskan untuk tetap melanjutkan perjuangannya sebagai mahasiswa sambil bekerja serabutan.

Berbagai pekerjaan dilakukan saat itu untuk dapat membiayai hidupnya di Kota Semarang. Mulai dari bekerja sebagai tukang kayu yang menjual produk kerajinan tangan, bekerja sebagai penjual kaos, bekerja sebagai Event Organizer (EO), hingga mendirikan bisnis tour and travel.

Gilang menceritakan awal mula dirinya bekerja sebagai EO adalah karena adanya tawaran menarik dari teman kuliahnya kala itu yang memiliki modal besar untuk membuka usaha tersebut. “Saya yang waktu itu butuh penghasilan akhirnya bekerja sama dengan teman saya yang memiliki modal cukup besar, akhirnya saya dan dia bersama 20 teman seangkatan merintis bersama event organizer itu pada tahun 2009,” kata Gilang kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengakui banyak suka duka dirasakan saat merintis usaha EO. Mulai kebanggaan bertemu dengan banyak kalangan artis, hingga  direndahkan  dan dianggap remeh oleh brand EO lainnya. “Dulu setelah kami presentasi di depan klien, banyak orang yang mencibir kami, karena menganggap EO kami hanya kelas teri. Namun dari situ justru membakar semangat dan membuat kami semua sangat termotivasi untuk membuktikan bahwa cibiran itu tidaklah benar,” jelas Gilang.

Setelah merasa jenuh berbisnis di bidang EO, Gilang dan kawan-kawannya memutuskan untuk membuat usaha lain, yakni jasa tour and travel yang dirintis sejak 2011 hingga saat ini. Adanya investor yang mendanai sejumlah kebutuhan membuat Gilang dan teman-temanya bersemangat dalam mengembangkan bisnis tersebut. “Dulu pertama kali buka tour and travel investor kami yang juga teman kuliah saya langsung membeli 1 bus pariwisata dengan jumlah kursi 33. Kami bahkan pernah membawa rombongan mahasiswa KKL Undip dalam jumlah yang sangat banyak ke Palembang kala itu,” ungkap Gilang.

Namun setelah lulus 2014, ia memutuskan untuk resign dari bisnis tour and travel tersebut dikarenakan ingin mencari pengalaman kerja yang baru. Ia pun mencoba mencari pengalaman di salah satu bank swasta nasional di Kota Semarang. Tapi, tak sampai setahun bekerja di bank, ia kembali memutuskan untuk mengundurkan diri karena terdapat sejumlah tuntutan pekerjaan yang dirasa kurang cocok dengan kepribadiannya. “Karena ayah saya bekerja di bank, maka saya juga pengin mencoba mengikuti jejaknya, ternyata setelah dicoba justru saya merasa tidak cocok dengan berbagai hal yang tidak bisa saya ceritakan,” jelasnya.

Semua pekerjaan itu sempat ia jalani, sebelum menjabat sebagai Public Relations Hotel Pandanaran, Kota Semarang sejak 2017. Ia haus akan pengalaman kerja karena masih merasa muda dan enerjik. Gilang merasa masih harus menempa diri lebih jauh lagi agar mempunyai cukup keahlian untuk mencapai cita-citanya sebagai pengusaha di bidang kuliner. “Saya sudah pernah kerja di banyak perusahaan dengan berbagai bidang, namun sejujurnya cita-cita saya adalah menjadi pengusaha. Saya ingin buka usaha kuliner di Kota Semarang. Alasannya sederhana, karena semua orang pasti butuh makan dan itu membuat potensi bisnis kuliner tidak akan pernah mati,” katanya.

Selama menjalani seluruh pekerjaan tersebut, Gilang selalu berpegang teguh terhadap dua prinsip favoritnya. Pertama, seorang manusia jangan pernah menyerah dengan segala keterbatasan yang dipunyai, dan yang kedua adalah setiap orang harus ‘berkarya’ apabila tidak ingin merana.

Perjuangan panjang Gilang yang mampu menghidupi dirinya sendiri saat kuliah hingga saat ini, tidak lepas dari peran keluarganya di Pati. Terutama sosok sang ayah, Bambang Sunaryo yang dianggap selalu memberikan inspirasi dan semangat pantang menyerah saat menghadapi berbagai macam cobaan dan kesulitan hidup. Gilang sendiri adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Adiknya yang pertama dan kedua perempuan, sedangkan adik terakhir laki-laki. Adik pertama lulus Undip, dan telah berkeluarga di Jakarta. Adik keduanya masih kuliah di Undip, sedang yang terakhir masih duduk di bangku SMA.  “Ayah itu orang yang paling sabar, beliau sangat jarang marah kepada kami. Berbagai cobaan pernah beliau hadapi, namun dirinya sama sekali tidak pernah menyerah bahkan selalu bangkit setiap kali mengalami kegagalan,” jelas Gilang.

Ia menceritakan, ayahnya yang bekerja di salah satu bank, memiliki sejumlah usaha yang dijalankan oleh saudara-saudaranya di Pati. Namun karena terlalu mempercayai mereka, petaka menghampiri kala ayah Gilang ditipu oleh sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab, dan mengakibatkan usahanya bangkrut. “Walaupun usahanya bangkrut, ayah saya tetap bangkit dan bertarung dengan kerasnya kehidupan. Baginya kehidupan ini memang sangat keras, tapi kita sebagai manusia harus lebih keras daripada kehidupan itu sendiri,” ungkap pria yang suka sepak bola dan futsal ini.

Gilang juga mengatakan, ayahnya selalu berpesan pada dirinya bahwa dalam setiap pekerjaan akan selalu ada pihak yang merasa tidak puas. Namun ketidakpuasan tersebut harus ditanggapi secara positif, walaupun bisa saja pihak yang bersangkutan memang secara sengaja ingin menjatuhkan kondisi psikologisnya. (*/aro)