Guru di Era Kemerdekaan

116
Oleh: Usman Roin
Oleh: Usman Roin

RADARSEMARANG.COM – MEMPERINGATI hari ulang tahun (HUT) ke-73 kemerdekaan RI, sebagai insan pendidik (guru) kiranya perlu membangun semangat diri –dengan menjadi pendidik– yang bisa memerdekaan anak didiknya. Yakni dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang abai menjadi responsif, dari yang malas menjadi semangat dalam belajar, dan seterusnya.

Langkah untuk mewujudkan tuntutan sebagaimana di atas, bagi penulis bukanlah sekedar bualan bila guru mau total melaksanakan amanah sebagai guru. Tujuannya tidak lain dalam rangka mempersiapkan SDM yang terarah dan kompetitif dimasa mendatang. Sungguh menjadi indah bila setiap guru menghayati pembelajaran yang ia lakukan. Yakni, penuh dengan dedikasi tinggi mengabdi serta dengan rasa cinta yang dalam mendidik. Adapun kebalikannya, hanya menyelesaikan materi buku ajar yang kering dari penghayatan dan penguasaan, atau juga sekedar menggugurkan kewajiban yang ending-nya mendapatkan uang dari jumlah jam mengajar yang telah diselesaikan.

Secara nalar, lembaga pendidikan manapun tidak menginginkan adanya guru sebagai tenaga pendidik hanya melakukan hal tersebut. Melainkan wujud pengabdian pada lembaga secara total, penuh dengan cinta, penghayatan, sebuah panggilan jiwa dan bukan semata-mata melulu sebagai pekerjaan.

Terlebih akhir-akhir ini, membangun karakter bangsa adalah pekerjaan besar yang harus terselesaikan dan menjadi tanggung jawab setiap lembaga sekolah manapun. Muncullah kemudian pengembangan inovasi pembelajaran yang melahirkan keunggulan prestasi peserta didik serta kredibilitas yang tinggi sebuah lembaga, hingga kemudian menarik animo masyarakat untuk mempercayakan anak didiknya.

Tuntutan mewujudkan hal itu di era kemerdekaan ini tidaklah mudah. Diperlukan guru yang berani mengabdikan diri kepada peserta didik dengan penuh cinta sebagai senjata ampuh dalam menanamkan karakter pada anak. Apalagi ditengah minimnya perhatian orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya. Tentu anak akan terayomi dan terjaga kestabilan emosionalnya. Sebab, dikesehariannya anak diperhatikan dengan seksama setiap perkembangan kognitif maupun kepribadian. Harapannya setelah nanti dewasa, kemandirian dalam mengembangkan diri menjadi nyata tanpa menjadi benalu atas kebesaran bayang-bayang keluarga atau yang lainnya.

Sudut pandang Agama juga menjelaskan, bahwa mengabdi dengan cinta akan melahirkan guru yang memiliki sikap amanah. Tidak akan mengkorupsi terhadap tanggung jawab yang telah diembankan walau tanpa pengawasan. Apalagi menurut Jamal Abdur Rahman dalam bukunya ’Kiat Mendidikan Anak Menurut Rasulullah’, bahwa bercengkerama dan bersikap ramah lemah lembut terhadap anak-anak akan menyalurkan kehangatan dan kasih sayang yang murni ke dalam jiwa anak-anak. Sehingga, anak dimasa dewasa tidak tumbuh menjadi orang yang berhati kasar, keras dan kejam melainkan berahlak sebagaimana digariskan dalam Alquran, surat al-Qolam: 04, yakni benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Secara psikologi, mengabdi dengan cinta akan menjadikan guru lebih memahami dan memperlakukan anak didiknya (siswa) sesuai dengan kadar intelektual dan kesiapan jiwa belajarnya. Nalar psikologis yang dimiliki guru akan melahirkan keterampilan dalam menciptakan metode pembelajaran yang lebih bervariatif, efektif dan sesuai dengan materi pengajaran. Disinipula kepekaan terhadap lingkungan pendidikan akan terwujud. Sebab, guru tahu bagaimana membawa siswa fun saat belajar selama berada di lembaga pendidikan.

Adapun dari kacamata masyarakat, mengabdi dengan cinta akan merubah mindset kedepan yang lebih baik. Yakni, membentuk masyarakat yang respek dan ikut serta merencanakan tindakan-tindakan yang akan dilakukan guna mencapai pengabdian sosial kemasyarakatan yang penuh cinta. Rukun dalam berkeluarga, antar tetangga dan warga, bahkan kampung juga akan terjalin ditengah maraknya aksi tawuran yang masih saja terjadi. Serta yang tidak kalah penting upaya saling menghormati dan saling mengingatkan dengan konsep yang santun dan penuh dengan tolerasi berbangsa dan bernegara menjadi buah yang mulai diperkenalkan dan diasah sejak dini kepada anak.

Berbagai manfaat di atas, tentu akan terasa bila kita sebagai guru tulus dalam mengabdikan diri dan penuh dengan cinta dalam suatu lembaga pendidikan. Tak ada gundah kulana, sebab yang ada hanyalah memberikan yang terbaik dalam rangka mendedikasikan diri hingga kemudian melahirkan sosok manusia yang kontributif untuk diri, lembaga dan disetiap sisi kehidupan sosial, berbangsa, dan bernegara.

Oleh karena itu, prilaku total menjadi guru di HUT kemerdekaan ini akan benar-benar menciptakan sebuah profesonalitas pekerjaan. Bahkan kondisi tersebut juga akan menciptakan produktifitas dalam kegiatan keseharian serta membuat seorang guru memiliki kesehatan ganda (jasmani dan rohani). Artinya, sehat karena guru bisa bekerja sesuai dengan harapan dan mendapatkan hasil yang maksimal berkat totalitas sebuah pengabdian yang ia lakukan. (*/aro)

Guru Ekskul Jurnalistik SMP IT PAPB Semarang dan Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jateng. (roinusman@gmail.com)