30 Persen Garam Produksi Pati Kurang Baik

Waspadai Garam Tanpa Yodium Beredar di Pasaran

382
GARAM BERYODIUM: Perlu teliti saat membeli garam dapur. Putih, asin belum jaminan mengandung yodium. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GARAM BERYODIUM: Perlu teliti saat membeli garam dapur. Putih, asin belum jaminan mengandung yodium. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Semarang mengingatkan masyarakat Jateng untuk waspada terhadap konsumsi garam. Pasalnya, hasil penelitian terakhir pada 2018, peredaran garam yang tak memenuhi syarat alias tidak mengandung yodium masih beredar luas di pasaran.

BANYAK konsumen yang tidak sadar, jika garam yang dibeli di pasaran ternyata tak mengandung yodium. Biasanya, konsumen hanya melihat, garam itu berwarna putih bersih dan harganya terjangkau. Pun dengan para pedagang. Umumnya mereka juga tak terlalu mempedulikan garam yang dijual mengandung yodium ataupun tidak. Yang penting laku.

Garam yang dijual oleh para pedagang kebanyakan didapatkan dari para sales. Sejumlah pedagang bahkan tidak tahu darimana garam itu berasal, yang penting garam yang mereka jual banyak diminati pembeli.

Di Pasar Peterongan Semarang, rata-rata pedagang menjual garam dari tiga merek, yakni Kapal, Daun, dan Perahu Layar. Garam merek Kapal dan Daun merupakan garam produksi Surabaya dan Sidoarjo. Sementara merek Perahu Layar produksi Pati.

Garam merek Kapal dan Daun, berbentuk garam bubuk halus, dijual dalam kemasan per 250 gram seharga Rp 2.500. Pada kemasannya, tertera kode BPOM dan tulisan garam beryodium. Sementara untuk garam Perahu Layar, berbentuk kotak (padat) dengan 3 ukuran kemasan, kecil seharga Rp 6.000, tanggung Rp 8.000 dan besar Rp 12.000 juga bertuliskan garam beryodium.

Dari sejumlah merek tersebut, merek Kapal yang paling banyak diminati. Menurut Siti, 35, pedagang sembako di Pasar Peterongan, garam ini diminati karena kandungan yodiumnya dinilai tinggi oleh para pembeli. ”Jualnya ya tiga merek ini. Rata-rata di sini jualnya juga sama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, garam ini oleh para pembeli juga dinilai lebih asin dibandingkan merek lainnya. Meskipun demikian, bukan berarti, garam merek lainnya tidak diminati. ”Saya pakainya juga yang ini. Karena tinggal bawa saja dari sini,” kata dia.

Heri, 48, pedagang lainnya mengatakan, karena untuk konsumsi, dirinya menjual garam yang memang beryodium. Di Pasar Peterongan, lanjut dia, juga ada yang menjual garam krosok. Hanya saja, garam ini biasanya digunakan bukan untuk konsumsi.

”Itu yang yodiumnya rendah. Biasanya untuk es. Dari dinas memang tidak ada sosialisasi untuk jual yang yodium, tapi karena untuk konsumsi ya kita jual yang yodium,” ujarnya.

Danu, 60, mengaku dalam keseharian menggunakan garam lembut/bubuk yang dijual dalam kemasan 250 gram untuk memasak atau dikonsumsi. Namun demikian, tak jarang ia juga membeli garam krosok/garam kasar yang dijual kiloan. Bukan untuk dikonsumsi, garam krosok ini ia gunakan hanya untuk mandi.

”Menghilangkan capek-capek. Garam yang biasanya untuk campuran makanan sapi dan hewan. Biasanya harganya Rp 5 ribuan per satu kantong plastik,” katanya.

Namun demikian, pada kenyataannya garam krosok ini juga digunakan untuk memasak juga. Seperti yang dikatakan Wiyanto, 52, penjual garam krosok. Ia mengatakan, garamnya juga biasa dibeli untuk membuat bumbu. ”Iya untuk campuran bumbu. Karena kalau sudah biasa pakai ini, pakai yang lain jadi beda. Nggak bisa mengukur rasa,” ujarnya.

Ketua LP2K Semarang, Ngargono, mengaku telah melakukan penelitian di 3 kabupaten bukan penghasil garam pada 2018 ini, yakni di Kabupaten Magelang, Kabupaten Jepara dan Kabupaten Tegal. Hasilnya memprihatinkan. Sebab, dari 1.903 sampel garam yang diambil dari 15 pasar tradisional di 3 kabupaten tersebut, hasil uji menunjukkan masih ada 398 sampel (20,91 persen) tidak memenuhi syarat (TMS).  “Hasil pengujian garam Kabupaten Tegal kualitas garamnya paling banyak TMS (29,67 persen) dari pada Kabupaten Jepara (22,85 persen) dan Magelang (9,85 persen),” katanya dalam acara pembahasan rencana tindak lanjut penanganan garam konsumsi di Kabupaten Magelang, Kabupaten Jepara dan Kabupaten Tegal belum lama lalu.

Menurutnya, jenis garam yang banyak beredar di pasaran adalah jenis garam briket. Dari hasil penelitian, garam briket lebih banyak TMS. Sedangkan garam halus relatif banyak yang memenuhi syarat.  “Merek garam yang paling banyak beredar di pasar dengan kualitas jelek atau TMS tinggi di Kabupaten Magelang adalah Kapal Kembang dan Perahu Kencana. Di Kabupaten Tegal Bintang Emas, Bintang, Bandeng Emas dan Bandeng GBM. Dan di Kabupaten Jepara adalah merek GN dan Hewan Laut,” bebernya.

Karena itulah, LP2K merekomendasikan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng melalui tim penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), agar segera melakukan pengawasan dan penindakan terhadap peredaran garam yang tidak sesuai standar SNI  di Jateng. Selain itu, membuat Perda Penanggulangan GAKY  di Provinsi Jateng,  mendorong pemerintah kabupaten/kota yang belum memiliki perda untuk membuat perda, serta mendorong adanya pengawasan mandiri di tingkat desa/ kelurahan (Desa Mandiri Garam Beryodium).

Dijelaskan Ngargono, LP2K tahun 2015 telah melakukan uji garam di pasaran di wilayah Kabupaten Pati dan Kudus.  Dari 175 sampel yang memenuhi syarat 131 atau 74,86 persen dan tak memenuhi syarat 44 sampel atau 25,14 persen. Penelitian berlanjut pada 2016 di Kota Semarang, dari 654 sampel yang memenuhi syarat 509 atau 77,73 persen dan tak memenuhi syarat 45 sampel atau 22,27 persen.

Kemudian pada 2017 di Kabupaten Magelang, dari 1.008 sampel yang memenuhi syarat 682 atau 67,66 persen, dan tak memenuhi syarat 326 sampel atau 32,34 persen.

Menurutnya, garam yang tak memenuhi syarat adalah garam yang di antaranya garam tak dicuci, warnanya coklat, terkontaminasi zat kimia dan tak mengandung yodium. Jika dikonsumsi, efeknya menciptakan generasi yang bodoh.  “Karena itulah, LP2K memiliki misi untuk mengedukasi pedagang sambil membawa hasil uji. Dengan harapan bisa menyadarkan masyarakat dan pedagang,” tandasnya.

Diakui, beberapa merek garam, banyak yang dipalsukan. Namun Ngargono enggan menyebut merek garam palsu yang sampai saat ini juga beredar di pasaran. Total dari riset yang dilakukan sejak 2015 lalu, ada beberapa daerah, di antaranya Tegal, Jepara, Magelang dan Semarang sebesar 30 persennya masih beredar garam tak beryodium. “Permasalahan ini harus diselesaikan, karena dampaknya sangat fatal,”katanya.

Ngargono menjelaskan, sebesar 95 persen garam yang beredar di Jateng diproduksi oleh produsen yang berasal dari Pati. Sisanya harus didatangkan dari Jawa Timur yang cenderung kualitasnya bagus. Lebih parahnya dari 95 produsen di Pati, sebanyak 30 persennya memproduksi garam kurang baik.

“Tentu ini adalah PR bersama, karena Pati merupakan sentra garam. Harus ada penataan di Pati agar garam yang beredar di masyarakat adalah garam yang memiliki yodium. Kalau Pati baik, tentu garam yang beredar di Jateng juga baik,” tambahnya.

Rencananya pada 27 Agustus mendatang, LP2K akan melakukan audiensi  dengan pemerintah dan mengundang asosisasi produsen garam yang ada di Jateng, termasuk produsen dari Pati, Rembang, Semarang dan Brebes terkait kadar yodium yang harus ada dalam garam. “Beberapa pabrik di Rembang sangat baik kualitasnya, pun dengan yang ada di Semarang dan Brebes,” paparnya. (sga/den/ida/aro)