Warga Meriahkan Festival Budaya

244
MERIAH: Festival Budaya Curug Jeglong – UPGRIS Culture Festival 2018 yang digelar PPDM UPGRIS di Wisata Curug Jeglong, kemarin. (BUDI SETIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERIAH: Festival Budaya Curug Jeglong – UPGRIS Culture Festival 2018 yang digelar PPDM UPGRIS di Wisata Curug Jeglong, kemarin. (BUDI SETIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Ribuan warga Plantungan tumplek blek dalam helatan Festival Budaya Curug Jeglong – UPGRIS Culture Festival 2018 yang digelar ditempat wisata Curug Jeglong. Kegiatan yang digelar oleh Program Pemberdayaan Desa Mitra (PPDM) UPGRIS itu ditujukan pemberdayaan masyarakat sekitar wisata guna memajukan SDM dan ekonomi.

Festival tersebut menampilkan kesenian Kumidi dan Kuntulan, Barongan, Rebana, Kuda Lumping, Tari-tarian dan peresmian pasar rakyat. Sedangkan untuk pasar rakyat disediakan berbagai aneka jajanan khas Kendal serta souvenir yang dapat dijadikan oleh-oleh oleh pengunjung.

Ketua Tim Pelaksana PPDM UPGRIS, Ngasbun Egar mengatakan kegiatan  ini sudah berjalan dua kali. Tujuannya tidak lain adalah untuk pemenbrdayaan remaja melalui pendampingan dan pelatihan ekonomi kreatif dan sadar wisata.  “Salah satunya dengan pembuatan papan informasi wisata dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Sehingga memudahkan pengunjung yang datang ke Wisata Curug Jeglong ini,” katanya.

Selain remaja, juga dilakukan pemberdayaan terhadap kelompok wanita tani (KWT).  Yakni melalui pendampingan dan pelatihan usaha olahan pangan inovatif. “Sehingga mereka bisa menciptakan makanan dari bahan baku lokal yang dikemas menarik sehingga menarik pembeli,” tuturnya.

Pihaknya juga memberikan pelatihan pengurusan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Sehingga makanan mereka bisa terjamin mutu dan kualitasnya. “Pembeli juga mendapatkan jaminan bahwa jajanan yang mereka itu memiliki rasa dan kualitas yang bagus,” jelasnya.

Tim PPDM UPGRIS juga menyasar pemberdayaan terhadap kelompok tani melalui pendampingan dan pelatihan pertanian. “Ini kami lakukan dengan mengajarkan pertanian berbasis kearifan lokal, seperti kopi exelsa,” imbuhnya. (bud/bas)