Warga 8 Dusun Upacara di Sendang Senjoyo

Di Kendal Upacara Diikuti 1.000 Santri Bersarung

228
BASAH: Puluhan warga Desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran yang menggelar upacara HUT RI ke 73 di sumber mata air Senjoyo. (Inzet) Ribuan santri Manbaul Hikmah, saat mengikuti upacara HUT RI di Lapangan Desa Mororejo, Kaliwungu. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BASAH: Puluhan warga Desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran yang menggelar upacara HUT RI ke 73 di sumber mata air Senjoyo. (Inzet) Ribuan santri Manbaul Hikmah, saat mengikuti upacara HUT RI di Lapangan Desa Mororejo, Kaliwungu. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Warga Desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran rela berbasah-basahan saat melakukan upacara HUT RI ke-73, Jumat (17/8). Upacara bendera yang dilakukan di sumber mata air Senjoyo tersebut nampak khidmat hingga selesai.

Meski warga berbasah-basahan namun mereka tetap antusias dalam melaksanakan upacara bendera tersebut. Masing-masing perwakilan dari delapan dusun di Desa Tegalwaton tumpah ruah di sumber mata air yang biasa disebut warga sebagai Sendang Senjoyo itu.

Meski kedinginan, para peserta upacara tetap khidmat mengikutinya hingga selesai. “Dingin itu pasti, namun tetap semangat mengingat perjuangan pejuang jaman dahulu jika dibandingkan dengan dingin ini tidak terasa,” kata salah satu peserta upacara, Rokhani, 36.

Adapun yang bertindak sebagai inspektur upacara yaitu Kepala Desa Tegalwaton Tri Setyawati. Para peserta terdiri dari PKK, karang taruna dan warga masyarakat. Peserta kebanyakan memakai tema seragam yang ditentukan dari masing-masing dusun dengan ikat kepala pita merah putih.

Selanjutnya mencebur di Kolam Pemandian Senjoyo. Seluruh peserta upacara berada di dalam kolam, kecuali tamu undangan, panduan suara dari PKK dan inspektur upacara yang berada di pinggir kolam.

Sementara di Kendal, sebanyak 1.000 santriwan dan santriwati pondok pesantren (ponpes) Manbaul Hikmah, Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu menggelar upacara HUT RI mengenakan sarung dan sandal jepit. Tak hanya para santri, pembina upacara KH Basyarahman, salah satu pengasuh pesantren juga mengenakan sarung.

Sebelum upacara berlangsung, santri sebelumnya melakukan kirab merah mutih. Yakni dengan melakukan long march dari halaman ponpes setempat sampai lapangan Desa Mororejo, tempat digelarnya upacara. Sambil menyanyikan lagu Syubanul Waton, ribuan santri itu berjalan ke lapangan upacara.

“Sengaja kami gelar upacara sebagai bentuk eksistensi para santri dalam memperingati HUT RI ke-73. Bahwa santri pernah membuat sejarah untuk memerdekakan bangsa ini. Dan sekarang mereka juga memiliki kewajiban untuk mengisi kemerdekaan Indonesia ini,” kata Basyarohman, kemarin (17/8).

Selain santri, upacara juga diikuti oleh puluhan pemotor Tosky (Tour Sowan Kyai) dari Solo Raya dan Surakarta. “Malam peringatan HUT RI kami juga menggelar mujahadah kemerdekaan, dengan doa bersama kepada para pahlawan bangsa,” tuturnya.

Pihaknya juga menekankan kepada seluruh santri untuk tetap ikut menjaga keutuhan NKRI. Jangan mudah terpecah belah dengan isu yang akan merongrong kemerdekaan RI. “Bagi santri NKRI adalah harga mati,” imbuhnya.

Hal senada dikatakan Rifqil Muslim, pengasuh pesantren Manbaul Hikmah lainnya. Ia menambahkan, upacara HUT adalah salah satu bentuk wujud rasa nasionalisme pada Ibu Pertiwi. Harapannya, santri juga bisa memiliki nilai patriotisme dan memiliki rasa kecintaan kepada tanah air.

“Sehingga santri tidak hanya melulu belajar kitab. Tetapi, bisa mengingat bahwa kemerdekaan ini juga tidak lepas dari perjuangan para syuhadak, yang berasal dari pondok pesantren, dan kita wajib mengingat perjuangannya, ” tegasnya. (ewb/bud/bas)