Kasus Kekerasan Seksual Meningkat

378

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Tren kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Semarang di 2018 cenderung meningkat. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) Kabupaten Semarang menyebutkan jika di 2018 sudah menangani 80 kasus.

Padahal sudah ada tindakan tegas dari petugas kepolisian namun kasus seperti ini masih saja terjadi. “Itu hingga Agustus 2018 ini. 13 diantaranya merupakan kekerasan seksual. Konten pornografi acap kali menjadi penyebab terjadinya kasus kekerasan seksual,” ujar Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Semarang, Romlah, Jumat (17/8).

Pihaknya secara khusus memberi perhatian terhadap pemulihan fisik dan psikis korban pasca mengalami kekerasan seksual. Pemkab Semarang juga menggandeng jaringan relawan serta tokoh-tokoh masyarakat untuk mendukung pemulihan trauma korban secara sosial agar dapat diterima keluarga dan masyarakat.

Disisi lain, dari pihak kepolisian hingga kini juga berupaya untuk menekan angka kekerasan tersebut. “Kalau sudah kejadian seperti ini rehabilitasinya itu ya dari keluarga kembali, janganlah anak ini ketika pada proses rehabilitasi kemudian ditolak sendiri oleh keluarganya,” katanya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Yusi Andi Sukmana mengungkapkan sejak awal 2018 hingga saat ini unit Pelayanan Perempuan dan Anak, Satreskrim Polres Semarang telah memproses secara hukum delapan kasus kekerasan seksual.“Jumlah ini meningkat dibanding tahun lalu yang mencapai enam kasus,” kata Yusi.

Terkait kasus pencabulan anak tiri akibat konten pornografi oleh guru sekolah dasar yang baru-baru ini diungkap, Satreskrim Polres Semarang akan melakukan tes kejiwaan pada pelaku.

Tes kejiwaan ini menjadi hal yang wajib untuk memberikan gambaran menyeluruh kondisi kejiwaan pelaku saat proses persidangan. “Tes (kejiwaan) ini yang kami lakukan, nantinya bisa menjadi bahan dalam pemeriksaan tersangka,” tuturnya.

Kemudian pemberkasan sampai pada proses persidangan nanti. Sehingga pihak Polres Semarang mendapatkan gambaran apakah perilaku penyimpangan seksual yang dilakukan oleh tersangka ini secara medis seperti apa penyebabnya.“Kemudian kategorinya apa, ini akan menjadi masukan bagi jaksa penuntut umum maupun hakim nanti dalam memutus perkara penyimpangan seksual,” katanya.

Selain tindakan tegas pada pelaku kekerasan seksual, Polres Semarang juga melakukan tindakan pencegahan melalui patroli dunia maya. Tidak hanya menyasar konten hoax dan ujaran kebencian, patroli ini juga menyasar konten pornografi di internet. “Kita berpatroli mencari dan menemukan untuk konten-konten yang berbau porno, termasuk kerjasama dengan Kominfo,” ujarnya.

Menurutnya, kasus kekerasan seksual yang terus meningkat memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Selain perlindungan dari berbagai aparatur negara, peran keluarga dan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya melindungi perempuan dan anak dari kekerasan terutama seksual. (ewb/bas)