149

Kita ditarget Pak Menteri, akhir tahun ini, sudah selesai proyek BKT. Tapi kalau lihat respons relokasi seperti itu, saya agak ragu proyek bisa selesai tepat waktu.

Kepala BWWS Pemali-Juan
Ruhban Ruzziyatno

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Pelaksana proyek normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT)—dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana—mengkhawatirkan tersendatnya relokasi kios PKL Barito ke Kelurahan Karangtempel, Bugangan, Mlatiharjo, dan Rejosari.

Kepala BWWS Pemali-Juana, Ruhban Ruzziyatno saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di ruang kerjanya menyampaikan, jika tidak segera direlokasi, maka bisa dipastikan target penyelesaian normalisasi BKT akan molor. “Katanya kan akhir Agustus ini. Tapi kalau saya lihat kok belum ada tanda-tanda kios-kios Barito direlokasi,” keluh Ruhban Ruzziyatno.

Padahal, kata Ruhban, sejumlah alat berat yang digunakan untuk mengerjakan proyek normalisasi sungai BKT paket 2, sudah siap masuk ke lokasi. “Ini sejumlah alat berat sudah ready masuk, tapi terhambat masuk ke lokasi proyek karena terhalang masih berdirinya kios-kios PKL. Kan jadi sulit untuk proses pengerjaan,” tegasnya.

Jika relokasi PKL Barito yang berada di beberapa kelurahan tidak berjalan sesuai janji Pemkot Semarang, dia memastikan proyek normalisasi BKT tidak bisa selesai tepat waktu. “Kita ditarget Pak Menteri, akhir tahun ini, sudah selesai proyek BKT. Tapi kalau lihat respons relokasi seperti itu, saya agak ragu proyek bisa selesai tepat waktu,” ucap Ruhban dengan nada agak khawatir.

Terpisah, menanggapi kekhawatiran BBWS Pemali-Juana atas lambannya relokasi PKL Barito, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang membantah pihaknya lamban merelokasi PKL Barito. Fajar menyebut, ada dua kendala yang menyebabkan PKL tidak segera direlokasi. Yakni, kendala politis dan belum siapnya kios untuk keseluruhan PKL di tempat relokasi, yakni Penggaron.

“Keberadaan Prabowo Centre yang meminta PKL bertahan dulu, khususnya di Mlatiharjo, Bugangan dan Rejosari sempat jadi kendala bagi kami memindahkan mereka,” kata Fajar Purwoto.

Namun, dia memastikan kendala politis bisa diatasi, setelah pihaknya melakukan komunikasi. Kendala lain, kata Fajar, belum siapnya kios untuk keseluruhan PKL di tempat relokasi, yakni Penggaron.

“Lokasi yang ada, sebelumnya hanya menampung 85-an pedagang. Padahal, jumlah lebih dari tiga ratusan, sehingga kita anggarkan lagi dana sebesar Rp 5 miliar untuk penambahan lahan di depan lahan yang sudah ada,” kata Fajar.

Masih menurut Fajar, akhir September, semua PKL yang berada di proyek paket 3 BKT, sudah bisa dipindah ke tempat baru. Proyek normalisasi BKT paket 3, membentang dari kawasan Citarum sampai jembatan Majapahit sepanjang 2,7 kilometer, dengan nilai kontrak Rp 187.009.224.000. (sls/isk)