PKL Terboyo Pilih Mangkang

Tolak Pasar Banjardowo

584
SEGERA DIBANGUN : Kondisi Terminal Terboyo yang semakin memprihatinkan akan segera dirobohkan, seiring dengan perubahan fungsi Terminal Terboyo menjadi terminal barang. (ADITYO DWI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEGERA DIBANGUN : Kondisi Terminal Terboyo yang semakin memprihatinkan akan segera dirobohkan, seiring dengan perubahan fungsi Terminal Terboyo menjadi terminal barang. (ADITYO DWI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
JEBOL : Meski bangunan Terminal Mangkang terlihat masih megah, namun atapnya sudah banyak yang jebol. (ADITYO DWI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
JEBOL : Meski bangunan Terminal Mangkang terlihat masih megah, namun atapnya sudah banyak yang jebol. (ADITYO DWI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) di Terminal Terboyo mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Kamis (16/8) kemarin. Kedatangannya dalam upaya audiensi terkait keputusan pemindahan para PKL tersebut ke Pasar Banjardowo, Genuk. Para pedagang resah lantaran Pasar Banjardowo dinilai sepi. Mereka menganggap sebagai pasar mati.

Perwakilan Paguyuban Pedagang dan Jasa (PPJ) PKL Terminal Terboyo, Endro Cahyono dalam kesempatan tersebut menjelaskan keinginan para PKL. Salah satunya adalah keresahan pedagang yang akan dipindah ke Pasar Banjardowo. “Padahal, sosialisasi Dinas Perhubungan Kota Semarang, sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Yatmin, kami akan dipindahkan ke Terminal Mangkang dan tersedia 70 kios disana. Kami bersedia. Tapi seiring berjalannya waktu, jumlah kiosnya menyusut tinggal 35 unit saja,” ungkap Endro usai audiensi di Kantor DPRD Kota Semarang, Kamis (16/8).

Menurut Endro, keputusan yang disampaikan awal sosialisasi dulu, pihaknya setuju pemindahan ke Terminal Mangkang. Namun, pada sosialisasi berikutnya, jumlah kios yang tersedia menyusut tinggal 35 unit. Kendati begitu, para PKL Terboyo mengaku tidak keberatan dangan syarat satu kios disekat menjadi dua kios.

“Kami sudah membuat surat dan proposalnya. Saat itu, untuk perbankan supaya mau membantu kami. Dan dengan dibantu ketua DPRD Kota Semarang. Ketika sudah ada CSR dari perbankan yang mau, kami diberitahu oleh pejabat baru bahwa kiosnya tinggal 15 unit dan kami akan dipindah ke Pasar Banjardowo. Kami kecewa, lalu nasib kami bagaimana?” katanya.

Keresahan Endro dan para PKL lainnya bukan tanpa sebab, lantaran sebelumnya telah muncul surat edaran yang menyebut jika per 1 September mendatang sudah tidak ada lagi bus yang masuk dan Terminal Terboyo segera dirobohkan.

“Jelas kami menolak. Padahal kami dari PKL Terboyo selama ini juga membayar PBB, tidak hanya retribusi. Kok digusurnya tidak seperti PKL yang ada di bantaran Sungai BKT, direlokasi bahkan dibuatkan tempat baru,” tegasnya.

Endro berharap, dengan upaya audiensi perwakilan PKL Terboyo yang berjumlah kurang lebih 130 PKL dengan DPRD Kota Semarang dapat diberikan solusi terbaik. Menurutnya, para PKL hanya berharap keputusan pemindahan tetap seperti semula dan tidak ada lagi perubahan keputusan dengan dalih oknum yang menjabat sudah berganti.

“Keinginan dari kami ya dikembalikan sesuai dengan komitmen awal. Karena kami mempunyai notulen rapat mulai dari sosialisasi awal. Tidak mungkin kan tahu-tahu ada orang yang menempati kios yang dijanjikan kepada kami tanpa izin,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi mengatakan bahwa pihaknya dalam hal ini berusaha memfasilitasi dan menampung apa yang menjadi keinginan para PKL Terboyo. Menurutnya, keresahan yang dialami para PKL Terboyo itu wajar.

“Mereka itu pedagang terminal, yang menjual mulai dari oleh-oleh, ada juga yang warung makan, dan memang ada kelontong. Kurang pas kalau dipindahnya ke pasar tradisional, apalagi Pasar Banjardowo notabene-nya mangkrak,” katanya.

Lebih lanjut, Supriyadi menambahkan, ke depan pihaknya akan memfasilitasi audiensi antara Dinas Perhubungan dan PKL Terboyo. Tujuannya meluruskan kesimpangsiuran putusan pemindahan para PKL Terboyo tersebut. Pihaknya juga berusaha supaya dapat menyampaikan permasalahan sehingga dapat diketahui secara utuh oleh Wali Kota Semarang.

“Persoalan di masyarakat bawah, Pak Wali harus tahu. Saya berharap, nanti ada titik temu. Jangan sampai berlarut-larut, jangan sampai ada oknum yang bermain disitu, karena yang jadi korban pedagangnya,” tegas Supriyadi.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan PKL Terboyo juga sempat ditemui oleh Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu. Ita, sapaan akrab Wawali Kota Semarang menjelaskan, keluhan yang disampaikan akan dibahas mendalam dalam Rapat Koordinasi. Persoalan ini akan dibahas lebih lanjut dalam audiensi yang rencananya akan digelar pada Selasa (21/8) mendatang.

Namun demikian, saat pertemuan dengan PKL Terboyo, Ita sempat menghubungi Kepala Balai Pengelolaan Transportasi Darat Wilayah X Provinsi Jateng dan DIJ, Prasetyo sebagai pihak terkait pengelolaan Terminal Mangkang yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan.

“Kami tidak bisa asal memasukkan pedagang dari Terminal Terboyo ke Mangkang, karena itu wilayahnya pusat. Jadi kalau apa-apa ibaratnya ya kita harus izin kesana. Tadi sudah saya hubungi yang berkaitan, beliau menjelaskan saat ini di Mangkang akan dibongkar dan dilelang,” jelasnya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi juga menegaskan bahwa PKL Terboyo tidak bisa serta merta menempati Terminal Mangkang, karena terminal tersebut milik pusat. “Kami akan mencari solusi terbaik bagi semua pihak, agar pedagang bisa tetap berjualan dengan nyaman, dan penataan atau pembangunan kota bisa berjalan pula,” katanya. (tsa/ida)