Pemkot Salatiga Upayakan Peningkatan Kualitas SDM Kota Salatiga

DKK Sosialisasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

307
Walikota Salatiga Yulianto, SE., MM saat menandatangani komitmen pelaksanaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Lapangan Pancasila.
Walikota Salatiga Yulianto, SE., MM saat menandatangani komitmen pelaksanaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Lapangan Pancasila.

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) merupakan gerakan nasional yang digencarkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Gerakan ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat hidup lebih sehat.

Pemkot Salatiga melalui Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga memberikan dukungan dalam berbagai aksi nyata agar menciptakan masyarakat Kota Salatiga yang sadar akan pentingnya kesehatan. Tiga program awal utama yang giat disosialisasikan adalahh melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, mengonsumsi buah dan sayur, serta memeriksakan kesehatan secara rutin.

Aktifitas Fisik 30 Menit Per Hari

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga Siti Zuraidah mengatakan, teknologi yang berkembang di kalangan masyarakat mengarah ke dalam kemudahan dan berimbas kepada malasnya masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik. ”Mengenai pola hidup sehat sendiri, orang Indonesia dipandang masih kurang memperhatikan kesehatan. Dengan teknologi, kemudahan yang di dapat masyarakat berimbas mengurangi aktivitas fisik pribadi mereka. Padahal aktivitas fisik itu sangat diperlukan, setiap hari minimal 30 menit,” kata Siti Zuraidah.

Di Kota Salatiga sendiri, Siti Zuraidah menuturkan jika 60 persen masyarakat Salatiga tidak melakukan aktivitas fisik. “Padahal mereka berbuat untuk diri sendiri. Berbuat untuk diri sendiri kok merasa sulit. Jika tidak mau olahraga dan mangane sakkarepe dewe, itu berakibat obesitas juga bisa terkena penyakit tidak menular seperti jantung, hepertensi, paru-paru dan lain sebagainya. Kemarin kita mengadakan acara mengundang sekitar 3.000 orang lebih untuk memberikan edukasi aktivitas fisik setiap hari,” paparnya.

Konsumsi Buah dan Sayur

Selain itu, program yang dilakukan DKK dalam menyehatkan warga Salatiga yaitu memberikan edukasi terkait makan buah dan sayur. Menurut perempuan berhijab ini, masyarakat cenderung memilih jenis buah yang mewah – mewah untuk dikonsumsi. “Pisang itu juga buah lho, tidak harus apel atau anggur. Selain buah, sayur juga tidak kalah penting. Semua besar manfaatnya. Sebenarnya cara makan nenek moyang kita dulu itu bagus, tapi kita juga tidak bisa memungkiri pengaruh dari dunia luar sudah mengubahnya,” jelas dia. Buah dan sayur bagus karena mengandung banyak serat. Fungsi bagi kesehatan juga banyak antara lain melancarkan pembuluh darah, membersihkan kerak kotoran di usus. Salah satu tantangannya bahwa anak muda jaman sekarang yang kurang suka makan buah dan sayur serta lebih memilih junkfood.

Lebih jauh dijelaskan Zuraidah, menu seimbang empat sehat lima sempurna yang dulu dikenal masyarakat, sekarang sudah diganti menjadi Isi Piringku, Sekarang bukan kenyang perut tapi kenyang gizi. Pertama makan buah dan sayur kemudian lauk, jika sudah kenyang tidak usah dilanjut makan nasi. Orang barat tidak makan nasi juga hidup, malah badannya lebih tinggi daripada kita. Kita ketinggalanya disitu. “Orang kita masih memiliki pola yakni belum disebut makan jika belum makan nasi. Kita sekarang harus bisa memilih, demi kesehatan. Itulah yang sedang digalakkan pemerintah pusat di semua kabupaten/kota seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Periksa Kesehatan Secara Rutin

Program DKK lainnya yaitu masyarakat diharapkan memeriksa darah minimal satu bulan sekali untuk screening mencegah dari penyakit tidak menular. Pemeriksaan terdiri dari asam urat, kolestrol dan gula darah. “Karena sekarang banyak penyakit tidak menular yang disebabkan pola hidup tidak sehat, maka dari itu kita screening untuk mencegah. DKK sudah menyediakan Pusat Pelayanan Terpadu (Pospandu) di tiap puskesman untuk memeriksa darah secara gratis,” tuturnya.

Penanggulangan Stunting

Pemerintah Kota Salatiga juga berperan dalam penanggulangan stunting yaitu bayi pendek karena terhambat gizi. Stunting ini tubuhnya pendek namun bukan cebol. Biasanya keadaan bayi untuk tumbuh terhambat karena terdapat gangguan. Bayi yang dikategorikan stunting yaitu tinggi badan kurang dari 45 cm. Kecerdasan balita juga berpengeruh karena kurangnya tinggi badan.

Jika tidak ditangani dengan baik maka kecerdasan sang bayi juga terganggu. Ini menjadi prioritas nasional. Pada saat anak dilahirkan sampai dua tahun, perkembangan sel-sel mencapai 80 persen kemudian 10 persen sampai umur 5 tahun dan kemudian 5 persen.  Jika di dua tahun tidak tertangani dengan baik, maka perkembangan tidak maksimal 80 persen. Jadi pencegahan stunting tidak hanya dilakukan sejak anak lahir dan anaknya saja, namun juga ibunya.

Mulai dari usia remaja SMP sampai SMA, sudah berikan pil penambah darah atau pil cantik. Setiap seminggu sekali khusus bagi perempuan secara gratis. Dilakukan edukasi kalau mengandalkan gizi yang setiap hari dimakan itu tidak cukup, oleh karena itu diberikan suplemen tersebut.

“Yang paling penting pada saat kehamilan menginjak bulan ke 4-6 bulan, pada masa itu bayi itu mengalami pertumbuhan tinggi badan dan sel otak yang sangat pesat. Jadi pada masa itu ibu hamil harus mengonsumsi gizi yang menunjang pertumbuhan tulang dan gigi”.

Walikota Yuliyanto dan Wakil Walikota terus mengupayakan peningkatan kesehatan masyarakat. Kasus gizi buruk di Kota Salatiga pada tahun 2018 sudah turun mejadi 3 kasus dari tahun 2017 sebanyak 5 kasus. “Dinas Kesehatan Kota Salatiga beserta OPD terkait harus terintegrasi mengatasi kasus stunting yang ditemukan. Masih ada kasus stunting (kerdil) pada anak-anak yang ditemukan. Meski ini hanya 2,5 persen dari jumlah penduduk tapi mereka adalah anak-anak kita semua jadi tidak boleh diabaikan,” ajak Wawali Muh Haris.(mg10/mg11/mg14/sas)