MEMBATIK : Nafa Urbach ikut belajar membatik di komunitas batik ‘Batik Rajah’ di Jalan Perintis Kemerdekaan, Ngembik, Kota Magelang, Senin (13/8) malam. (IST)
MEMBATIK : Nafa Urbach ikut belajar membatik di komunitas batik ‘Batik Rajah’ di Jalan Perintis Kemerdekaan, Ngembik, Kota Magelang, Senin (13/8) malam. (IST)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Artis asal Magelang, Nafa Urbach, pulang kampung. Selama 3 hari, 13-15 Agustus, Nafa menyambangi Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Temanggung dan Wonosobo. Ia mengunjungi Komunitas Batik Rajah Kota Magelang dan petani kopi di Grabag Kabupaten Magelang.

Nafa tertarik mengunjungi ‘Batik Rajah’ di Jalan Perintis Kemerdekaan, Ngembik, Kota Magelang yang 75 persen anggotanya ibu rumah tangga karena menghasilkan berbagai motif batik tulis khas Magelang. “Motif setiap kecamatan diambil dari ciri khas kecamatan tersebut mulai dari motif yang merupakan simbol atau benda yang menggambarkan nama hingga ikon khas tiap kecamatan. Sungguh kreatif dan inovatif,” tutur Nafa, Senin (13/8) malam.

Sebelumnya, Nafa juga bertemu dengan masyarakat di Balkondes Kebonsari, Desa Kebonsari, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Desa Kebonsari merupakan penghasil kerajinan bambu pertama di daerah Kabupaten Magelang. Mulai dari bolpoin, tirai, gantungan kunci hingga tas dari bambu diproduksi oleh masyarakat Desa Kebonsari. Nafa juga membagikan kiat-kiat agar produk kerajinan bambu bisa lebih dikenal. Mulai dari inovasi produk yang harus mengikuti perkembangan zaman, yang disukai oleh generasi millenial serta packaging yang menarik dan kekinian.

Sedangkan saat mengunjungi petani kopi Desa Ngrancah, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Selasa (14/8) lalu, Nafa ikut merasakan proses penanaman dan panen kopi di kebun warga. Penyuka kopi ini juga mengikuti proses menyangrai hingga peracikan atau penyajian kopi sampai ke gelas untuk diminum. “Ternyata tidak mudah proses pengolahan kopi. Membutuhkan perjuangan, kesabaran, keuletan serta keterampilan khusus agar bisa menyajikan segelas kopi,” ungkap Nafa.

Pencetus Komunitas Batik ‘Batik Rajah’ Kota Magelang, Kaji Habeeb menerangkan, kegiatan membatik diminati ibu-ibu karena dapat dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang sembari meningkatkan pendapatan. “Selain menguntungkan dari segi finansial, daya fokus dan kesabaran mereka pun bisa dikontrol karena sudah terbiasa melakukannya ketika membatik,” jelasnya.

Salah satu pengarjin bambu Desa Kebonsari Borobudur, Rohmadin, mengaku memanfaatkan tenaga anak-anak pondok untuk produksi. Ia mempunyai kesulitan tentang peralatan produksi yang konvensional dan pemasaran yang kurang maksimal. (sct/had/ton)