Proyek normalisasi sungai Banjirkanal Timur (BKT) paket 3 dikawasan Barito,membentang dari jembatan Citarum sampai dengan jembatan Majapahit. (ISTIMEWA)
Proyek normalisasi sungai Banjirkanal Timur (BKT) paket 3 dikawasan Barito,membentang dari jembatan Citarum sampai dengan jembatan Majapahit. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pelaksana proyek normalisasi Sungai Banjirkanal Timur (BKT) Semarang, dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, mengkhawatirkan tersendatnya relokasi kios pedagang kaki lima (PKL) Barito, di Kelurahan Karangtempel, Bugangan, Mlatiharjo dan Rejosari.

Kepala BBWS Pemali-Juana, Ruhban Ruzziyatno mengungkapkan, jika tidak segera direlokasi dapat dipastikan target penyelesaian normalisasi Sungai BKT akan molor.

“Katanya kan akhir Agustus ini, tapi kalau saya lihat belum ada tanda-tanda kios-kios Barito direlokasi,”keluh Ruhban Ruzziyatno.

Padahal, tambah dia, sejumlah alat berat yang digunakan untuk mengerjakan proyek normalisasi Sungai BKT paket 2 sudah siap masuk ke lokasi. “Ini sejumlah alat berat sudah ready untuk masuk, tapi terhalang kios-kios PKL, kan jadi sulit untuk proses pengerjaannya” jelasnya.

Jika relokasi PKL Barito yang berada di beberapa kelurahan itu tidak berjalan sesuai janji Pemkot Semarang, dia memastikan proyek normalisasi BKT tidak selesai tepat waktu.

“Kita ditarget pak menteri akhir tahun ini sudah selesai proyek BKT, tapi kalau lihat respon relokasi seperti itu, saya agak ragu proyek bisa selesai tepat waktu” ucap Ruhban khawatir.

Menanggapi kekhawatiran BBWS Pemali-Juana atas lambannya relokasi PKL Barito, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang membantah lamban merelokasi PKL Barito.

Fajar menyebut ada dua kendala yang menyebabkan PKL tidak segera direlokasi. Yakni kendala politis dan belum siapnya kios untuk keseluruhan PKL di tempat relokasi di Penggaron.

“Keberadaan Prabowo Centre yang meminta PKL bertahan dulu khususnya di Mlatiharjo, Bugangan dan Rejosari sempat jadi kendala bagi kami memindahkan mereka,”kilah Fajar Purwoto.

Namun dia memastikan kendala politis itu bisa diatasi, setelah pihaknya melakukan komunikasi. Fajar Purwoto menambahkan kendala lain yakni belum siapnya kios untuk keseluruhan PKL di relokasi Penggaron.

“Lokasi yang ada sebelumnya hanya menampung 85-an pedagang. Padahal jumlahnya lebih dari tiga ratusan, sehingga kita anggarkan lagi dana sebesar Rp 5 miliar, untuk penambahan lahan di depan lahan yang sudah ada,”kata Fajar. Pihaknya menjamin akhir bulan September mendatang semua PKL yang berada di proyek paket 3 BKT sudah dipindah semua ke tempat baru. Proyek normalisasi BKT paket 3 membentang  dari kawasan Citarum sampai Jembatan Majapahit sepanjang 2,7 kilometer, dengan nilai kontrak   Rp 187.009.224.000. (ae1/lis)