Festival Kali Kuto, Kilas Balik Perjuangan Merebut Kemerdekaan

522
RITUAL : Warga Kampung Potrosaran RT 03 RW 01, Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara melakukan tabur bunga dalam Festival Kali Kota IV memperingati HUT ke-73 RI. (Rizqi Karimatul JP Radar Kedu)
RITUAL : Warga Kampung Potrosaran RT 03 RW 01, Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara melakukan tabur bunga dalam Festival Kali Kota IV memperingati HUT ke-73 RI. (Rizqi Karimatul JP Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG –  Meskipun aliran Kali Kota yang terletak di Kampung Potrosaran RT03 RW01, Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang sedang surut, namun warga dan segenap budayawan tetap khidmat menaburkan bunga dalam rangkaian Festival Kali Tanggul Kota 2018 ke-IV, Rabu (15/8). Festival Kali Kota juga menampilkan keragaman budaya dari lintas daerah dan agama.

Kegiatan ini digelar untuk menyambut HUT ke-73 Kemerdekaan RI yang diawali dengan kirab keliling Kampung Potrosaran menuju tanggul Kali Kota. Kirab keliling diikuti masyarakat setempat, dan juga budayawan, tokoh lintas agama, santri dan pelajar.

Setelah sampai di tanggul Kali Kota, rombongan kirab melakukan ritual tabur bunga di aliran Kali Kota yang saat itu surut. Tabur bunga dilakukan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Selamat, KH Abdul Rosyid Ahmad, pimpinan Padepokan Gunung Tidar yang juga penyair Es Wibowo dan Dr Marten Ballu dari Sekolah Tinggi Theologi Wesleyan Magelang.

Setelah itu, Es Wibowo , KH Abdul Rosyid Ahmad, dan Marten Ballu dari Sekolah Tinggi Teologi Wesleyan Magelang melepaskan dua ekor burung dara sebagai simbol dari kemerdekaan.

Pimpinan Padepokan Gunung Tidar,  ES Wibowo mengatakan, prosesi tabur bunga di atas bantaran tanggul Kali Kota bertujuan  untuk mengenang jasa para pahlawan terhadap nusa dan bangsa.

“Sungai Tanggul Kali Kota ini merupakan salah satu saksi bisu perjuangan dalam melawan penjajah Belanda dan Jepang di saat perang kemerdekaan,” tutur Es Wibowo.

Dikatakan, tema yang diambil pada Festival Kali Kota tahun ini  adalah “Aksara Angka Wijaya” mengandung makna  angka kejayaan bangsa Indonesia 17-8-1945. Es Wibowo menyebutkan, dalam bahasa Jawa, aksara wijaya mempunyai arti kata-kata kejayaan bangsa Indonesia yaitu proklamasi.

Sedangkan angka wijaya, menurut Es Wibowo, adalah angka kejayaan bangsa Indonesia tanggal teks proklamasi dikumandangkan oleh Proklamator RI Ir Soekarno pada 17 Agustus 1945. Sementara, tanggul Kali Kota bagi masyarakat Kampung Potrosaran, mempunyai arti tersendiri.

“Bantaran sungai yang berhulu dari Sungai Progo dan Kali Manggis tersebut tidak pernah membeludak, meskipun ketinggian sungai tersebut lebih tinggi daripada pemukiman penduduk Kampung Potrosaran,” imbuhnya.

Di sepanjang aliran Sungai Kali Tanggul Kota yang membentang dari Kampung Potrosaran, Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara hingga Kampung Jagoan, di Kelurahan Jurang Ombo Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, terdapat tiga bangunan Plengkung.

Es Wibowo menyebutkan, pada zaman perang  kemerdekaan, Plengkung juga berfungsi sebagai benteng perjuangan  para tentara dan rakyat Indonesia dalam memerangi musuh. “Jadi festival Kali Kota juga sebagai upaya kilas balik perjuangan rakyat Indonesia di Magelang dalam memperjuangkan kemerdekaannya,” bebernya.

Selain tabur bunga, dalam festival Kali Kota juga diadakan pementasan kesenian musik angklung dari jemaat Gereja Baptis Indonesia (GBI) Gang Bromo  Kota Magelang, dan pentas musik rebana  dari Ponpes Selamat Perum Depkes, Kelurahan Kramat Utara dan tradisi kepung tumpeng, yaitu makan bersama  tumpeng yang telah disediakan. (mg27/mg32/had/lis)