BIKIN BANGGA : Abdul Faqih saat tampul dalam ajang Munasabaqah Hifzil Quran (MHQ) tingkat internasional di Arab Saudi. (ISTIMEWA)
BIKIN BANGGA : Abdul Faqih saat tampul dalam ajang Munasabaqah Hifzil Quran (MHQ) tingkat internasional di Arab Saudi. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Muhammad Abdul Faqih, remaja asal Lopait, Tuntang, Kabupaten Semarang, membawa harum nama Indonesia di ajang Munasabaqah Hifzil Quran (MHQ) tingkat internasional di Arab Saudi, beberapa waktu lalu. Ia menjadi jawara III di ajang tersebut.

PANGGILANNYA singkat: Faqih. Usianya, kini 22 tahun. Remaja berkacamata minus pecinta Alqur’an ini, berkulit sawo matang dan berambut pendek. Ditemui di rumahnya yang tengah direnovasi, Faqih tengah bersantai. Ciri khas pemuda ini mudah dikenali. Ke mana-mana selalu berpeci dan bersarung.

Ia merenovasi rumahnya, dari uang hasil menjuarai lomba MHQ di Arab Saudi. Sebuah musala kecil berwarna hijau, tampak mencolok di area rumah Faqih. Juga sejumlah petak bangunan yang menjadi satu dengan bangunan PAUD.

Ditanya sejak kapan belajar Alquran, Faqih mengaku sejak berusia 8 tahun. Artinya, sejak kecil, ia kerap mengikuti lomba baca Alquran. Mulai dari lomba tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional. “Yang mengajari ya orang tua sampai usia saya dua belas tahun,” ucapnya. Seperti proses, langkah demi langkah ia tempuh. “Tidak langsung 30 juz, saya mengikuti lomba MHQ dari 1 juz, 5 juz, 10 juz, 15 juz, sampai 30 juz,” sambungnya.

Faqih menghafal Alquran seperti santri pada umumnya. Dari kebiasaan membaca hingga akhirnya hafal dengan sendirinya. “Awalnya dibiasakan dari membaca. Kalau sudah membaca, nanti dihafalkan itu mudah. Ibaratnya, kalau sepak bola kan harus sering latihan. Nah, begitu pun saya, harus sering berlatih. Berlatih saya, ya itu, sering membaca,” akunya.

Dituntut untuk menjadi santri seperti kakak-kakaknya, Faqih tak menempuh pendidikan umum. Selepas MI, ia mondok di Bentengan, Demak sekitar dua tahun. Kemudian, pindah di Kediri, di Pondok Al Falakh selama lima tahun. Saat ini, ia juga tengah mondok di Krapyak, Yogyakarta. Berpindah-pindah pondok pesantren, membuat pengetahuan keagamaan Faqih semakin luas.

Terkait keikutsertaannya di ajang MHQ di Arab Saudi, Faqih mengaku tak berjalan mulus. Tiga bulan sebelum ke Arab Saudi—tepatnya pada Juli 2017—Kementrian Agama berencana mengirimnya ke Mesir untuk mengikuti lomba MHQ. Namun, hal itu urung dilakukan. Padahal, ia sudah kadung berangkat ke Jakarta.

“Saya sudah berangkat ke Jakarta, ternyata dari pihak Kementerian Agama belum mengonfirmasi ke panitia di Mesir. Jadi, setelah saya sampai Jakarta, saya pulang lagi, karena tidak jadi berangkat ke Mesir. Sebagai gantinya, saya dijanjikan diberangkatkan ke MHQ Saudi Arab pada Oktober 2017,” katanya, mengenang. Janji Kemenag pun direalisasikan.

Sebelum berangkat ke Saudi, Faqih digembleng.Tiga minggu sebelum terbang, ia dikarantina di tingkat provinsi. Tepatnya di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) selama seminggu. Ia dibimbing langsung oleh dua orang kiai di sana. Ia juga mengasah kosa kata Arab, agar lebih mudah menghafal. “Jadi, kalau ada pertanyaan tentang meneruskan ayat, berarti kata ini, mengisahkan tentang cerita ini. Selain itu, juga mempelajari tafsirnya.”

Bagaimana penilaian saat lomba? Faqih mengaku, penampilan dibagi menjadi tiga. Pertanyaan pertama juz 1 sampai 10. Pertanyaan kedua juz 10 sampai 20. Sedangkan pertanyaan terakhir, dari juz 20 sampai 30. “Pertanyaannya diacak, tidak selalu dari awal halaman. Kadang dari tengah, bahkan dari akhir halaman juga.”

Seperti pepatah sambil menyelam minum air, ketika berada di Arab Saudi, Faqih memanfaatkan momen itu untuk umrah. Karena lokasi lomba berada di Masjidil Harom. Ia juga melakukan haji yang didapat dari Kerajaan Arab Sebagai hadiah untuknya.

Ditanya lawan terberat, Faqih menyebut sang juara 1 dan 2 yang berasal dari Banglades dan Nigeria. Jika di tingkat nasional, lawan berbobot kebanyakan dari Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten. Anak ketiga dari lima bersaudara ini, awalnya tak memiliki angan-angan bisa sampai ke Arab Saudi dan meraih juara III. “Tidak kepikiran jadi juara, karena tujuan ke sana saya bukan untuk menjadi juara. Hanya untuk mensiarkan agama perwakilan Indonesia. Kalau niat awalnya untuk jadi juara, nanti malah enggak baik. Seperti cita-cita saya yang penting bermanfaat untuk mensyiarkan Alquran bagi masyarakat.” (ida.fadilah/lakna.tulas/isk)