Penuh Drama Menuju Olimpiade Sidney 2000

Sri Indriyani, dari Atlet Angkat Besi Beralih ke Kantor Pos

388
MEMBANGGAKAN: Sri Indriyani bersama medali yang pernah diraihnya. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)
MEMBANGGAKAN: Sri Indriyani bersama medali yang pernah diraihnya. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

RADARSEMARANG.COM – Sri Indriyani, perempuan kelahiran Solo, Jawa Tengah ini pernah menorehkan prestasi membanggakan di ajang Olimpiade 2000. Ia meraih medali perunggu pada cabang olahraga angkat besi. Bagaimana pengalaman Indri—sapaan intimnya–bertanding di kasta tertinggi kejuaraan olahraga dunia itu? Bagaimana pula kehidupannya saat ini?

MEMASUKI rumah Sri Indriyani, kita seolah diajak untuk kembali menengok masa-masa kejayaannya sebagai atlet angkat besi. Di beberapa bagian dinding, terpasang fotonya kala memenangkan sebuah kejuaraan. Ada pula fotonya saat bersalaman dengan Presiden Indonesia, Soeharto (kala itu) yang menyambut para atlet sepulang berlaga.

Sri Indriyani menyambut ramah Jawa Pos Radar Kudus yang menyambangi rumahnya. Ia tampak bersemangat ketika berbagi pengalamannya berlatih hingga berlaga di kejuaraan dunia. Indri bahkan sempat mengeluarkan beberapa tumpukan album kuno yang semuanya berisi foto-foto dirinya. Baik saat berlaga di kejuaraan nasional hingga internasional. Tak kurang dari 10 album foto ia tunjukkan.

Piala dan medali yang menjadi kebanggaannya juga masih tersimpan rapi. Dulu ada lemari kaca khusus yang digunakan untuk memajang semua piala dan medali. Namun, usai pindah rumah, Sri menyimpan medali-medali itu di salah satu kamarnya. Ada puluhan medali. Namun, dia hanya mengeluarkan beberapa saja. Medali yang dipilihnya, yakni medali-medali yang memiliki kesan mendalam. Salah satunya, medali perunggu Olimpiade Sydney tahun 2000.

Nama Sri Indriyani mungkin tak lagi populer di dunia angkat besi. Namun, belasan tahun lalu, perempuan kelahiran Solo, 12 November 1978 ini, pernah mengharumkan nama Indonesia. Dia tercatat sebagai salah satu atlet angkat besi perempuan yang berlaga di Olimpiade Sidney tahun 2000 dan berhasil membawa pulang perunggu.

Istri dari Murdoko ini menceritakan, dia berlatih angkat besi sejak duduk di kelas III SD. Saat itu, dia diminta oleh ayahnya untuk berlatih. Latihan yang dijalaninya cukup ketat. Tengah hari pukul 12.00 hingga 13.00 WIB, Indri harus berlari dengan rute cukup jauh. Baru kemudian berlatih angkat besi. Karenanya, dia sempat merasa terpaksa. Terlebih, saat melihat teman-temannya bisa bebas bermain. ”Awalnya saya hanya mematuhi perintah ayah saya. Karena saya takut kalau dimarahi,” ucapnya.

Saat kelas VI SD sekitar tahun 1990, dia diikutkan kejuaraan wilayah Jawa-Bali. Ketika itu, Indri menjadi peserta paling kecil. Toh, dia berhasil menyabet predikat juara III. ”Pulang kejuaraan, piagamnya saya bawa ke sekolah dan dilihat teman-teman. Di situ mulai muncul kebanggan dan saya termotivasi untuk giat berlatih,” ungkapnya.

Tak hanya Indri. Dua adik perempuannya juga menekuni bidang yang sama. Mereka juga menorehkan prestasi yang tak kalah gemilang.

Ibu dari Riko Christianto Putra Murdoko itu melanjutkan, karena prestasinya yang gemilang, pada 1992, dia berhasil masuk Pelatnas. Saat itu, ia masih kelas 1 SMP. Dua tahun kemudian, saat duduk di kelas 3 SMP, Sri memutuskan pindah ke Lampung. ”Karena di Lampung pembinaan angkat besi bagus. Saya tidak banyak kenal orang sana, hanya beberapa teman saat di Pelatnas,” ujarnya.

Di Lampung, perempuan yang saat ini tinggal di RT 14 RW 1 Jalan Kyai Ronggomulyo Kelurahan Ujungbatu Kecamatan Jepara ini berlatih lebih keras. Prestasinya pun semakin moncer. ”Saya mulai dapat emas dan bisa mengikuti kejuaraan internasional, misalnya SEA Games,” ujarnya.

Enambelas tahun di Lampung, jatuh bangun sebagai atlet angkat besi ia rasakan. Sri sempat empat kali ikut PON di kelas 48 kilogram. Yakni PON 1993 (raih perak), PON 1996 (raih emas), PON 2000 (raih perak) dan PON 2008 (raih perak). Untuk SEA Games, Sri pernah ikut pada 3 kali. Yakni, SEA Games Thailand 1995 (raih perak), SEA Games Jakarta (raih emas) dan SEA Games Malasiya (raih perunggu). Dia juga pernah ambil bagian dalam Asean Games 1998 di Bangkok dan berhasil meraih perunggu.

Satu lagi yang paling berkesan buatnya, yakni ambil bagian dalam Olimpiade Sidney tahun 2000. Saat itu, dia meraih medali perunggu.

Bagi Indri, berlaga di Olimpiade Sidney memiliki kesan tersendiri. Dia mengaku melakukan persiapan mati-matian. Beragam drama pun mewarnai persiapannya.

Dari Indonesia, Indri menyebut, ada tiga atlet angkat besi perempuan yang ikut serta. Dia dan satu atlet di kelas 48 kilogram serta satu atlet lain di kelas 53 kilogram. ”Sebelumnya saya sudah berlaga di kejuaraan dunia junior. Tahun 1996 dan 1997 saya dapat emas di kejuaran junior yang dilaksanakan di Polandia dan Afrika Selatan. Saya juga ikut pra olimpiade kejuaraan dunia di Yunani dan berhasil meraih perak,” tuturnya.

Karenanya, dia optimis bisa kembali menorehkan prestasi saat beradu kemampuan di Olimpiade Sydney. Namun nasib berkata lain. Setelah meraih perak di Pra Olimpiade pada November 1999, pada Februari 2000, dia mengalami cedera saat berlatih. ”Saya terlalu bersemangat dan mengalami cedera lutut, pilihannya operasi atau tidak boleh ikut angkat besi lagi,” ujarnya.

Dia dan tim pelatih lantas memutuskan untuk operasi pada Maret. Satu bulan setelah itu, Indri mencoba berlatih sembari duduk. Nah, pada Mei, kondisinya mulai pulih, sehingga ia bisa berlatih normal. Pada Juni, dia diminta pelatih ikut PON. Hal itu untuk menunjukkan bahwa dia siap ikut Olimpiade pada September. ”Di sana saya dapat perak. Namun, cobaan belum berakhir. Satu bulan sebelum olimpiade yakni Agustus saat berlatih saya keseleo lagi.”

Ketika itu, Indri mengaku sempat turun semangat. Beruntung pelatihnya mendukung penuh. Indri pun berupaya keras menyembuhkan kaki dan mempertahankan angkatan. ”September saya bisa berangkat. Namun, saya hanya mampu meraih perunggu. Angkatan yang saya lakukan di bawah saat Pra Olimpiade.”

Pada Olimpiade, dia berhasil mengangkat snacth 82,5 kilogram dan menduduki posisi dua. Namun, pada clean and jerk, dia hanya mampu mengangkat beban 100 kilogram, itu pun pada kesempatan ketiga. Hal itu berbeda dengan Pra Olimpiade, di mana dia berhasil mengangkat sampai 110 kilogram. ”Saat ditotal, saya ada di peringkat tiga.”

Disinggung mengenai hadiah yang didapat, Indri menceritakan, pemerintah memberinya hadiah senilai Rp 150 juta. Bupati dan Gubernur juga turut menyumbang hadiah. Tak hanya itu, dia juga mendapat seperangkat alat elektronik dari Samsung. ”Dapat kulkas, microwave dan barang elektronik lainnya. Saat itu saya minta dikirim ke rumah Solo,” jelasnya.

Tak hanya meraih hadiah uang tunai dan barang, dia juga diberikan pekerjaan di Kantor Pos. ”Itu pencapaian yang berarti bagi saya. Karena kondisi setelah menang kejuaraan dibandingkan sebelumnya sangat berbeda,” imbuhnya. (femy.noviyanto/isk)