Medali Dibagikan ke Tetangga, Kini Jadi Sopir Truk Sampah

Masadi, Eks Atlet Dayung SEA Games XV

6743
PANTANG MENYERAH : Masadi dengan truk sampah yang dikemudikannya tiap hari. (SIGIT ANDRIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANTANG MENYERAH : Masadi dengan truk sampah yang dikemudikannya tiap hari. (SIGIT ANDRIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Masadi, pria kelahiran Semarang pada 3 Desember 1961, pernah membanggakan Indonesia. Ia mampu berjaya di SEA Games XV Kuala Lumpur, 1989, merebut medali emas.

JANGAN bayangkan kehidupan Masadi bergelimang harta. Tidak sama sekali. Yang ada, ia justru hidup sederhana. Menekuni profesi sebagai sopir truk sampah Pemkot Semarang. Di usianya menginjak 57 tahun, tubuh Masadi masih terjaga. Hanya saja, gurat-gurat keriput kulitnya, sudah menggurita di sekujur tubuhnya.

Pada 1989 silam, barangkali tubuh Masadi seperti anak pertama dan keduanya saat ini: tegap, besar, dan berotot. Tahun 1980-an hingga awal 1990, Masadi masih tercatat sebagai atlet dayung andalan Indonesia. Bersama tim dayungnya, Masadi pernah meraih emas di ajang SEA Games XV Kuala Lumpur 1989. Tak tanggung-tanggung, dua medali emas, ia bawa pulang sebagai hadiah untuk Indonesia. Itu baru SEA Games. Masih banyak medali emas yang ia hasilkan dari berbagai kejuaraan (selengkapnya lihat grafis).

Kepada koran ini yang menemuinya akhir pekan lalu, Masadi menyampaikan, setahun lagi, ia akan pensiun dari pekerjaannya sebagai sopir truk sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang. Dengan segudang prestasi yang ia raih, oleh Pemerintah Orde Baru ketika itu, Masadi diangkat menjadi pegawai di Dinas Kebersihan pada 1989. Sampai saat ini, ia masih setia dengan pekerjaannya. “Tapi ya golongan rendah, wong saya pendidikannya cuma SD,” ucap Masadi.

Menjadi atlet, kata Masadi, bukan cita-citanya. Ia yang terlahir sebagai anak nelayan, hanya berpikiran untuk bisa meneruskan pekerjaan orang tuanya. Namun, nasib berkata lain. Suatu hari, kenang Masadi, ia diajak oleh seorang temannya, melihat kejuaraan nasional dayung di Semarang. ”Saya senang lihat kejuaraan itu. Kemudian, diajak untuk latihan dan mengikuti lomba,” ucap Masadi saat menemui Jawa Pos Radar Semarang di depan rumahnya, di Jalan Kencono Wungu Selatan III/15.

Dari situ, ia lantas mengikuti lomba dayung. Hasilnya, Masadi kerap meraih predikat jawara. Karenanya, ia didapuk mewakili Indonesia mengikuti berbagai ajang kejuaraan dayung.

Masadi tercatat sudah 3 kali ke Hongkong, Singapura 4 kali, Malaysia 5 kali, Thailand sekali, dan ke Brunai sekali. ”Ke Jepang juga waktu itu. Yang lucu, kan saya nggak tahu bahasa Inggris, waktu bilang ”Go” peserta lain sudah mendayung, tapi saya diam saja. Lha wong ndak tau,” ucapnya. ”Tapi akhirnya menang juga. Saya berhasil menyusul. Dan dapat emas waktu itu,” sambungnya.

Ia menyampaikan, prestasi-prestasi yang ia raih, merupakan buah kerja kerasnya berlatih. Dalam satu minggu, ia berlatih hingga lima kali. Saking seringnya, sampai bulan madu dengan istrinya pun tidak terurus. ”Dulu yang melatih Pak Yatmono, dari Angkatan Laut. Latihannya di Banjir Kanal,” bebernya.

Lantas, ke mana medali-medali yang selama ini ia raih? Masadi menggeleng pelan. Semua medali sudah tidak ada pada dirinya. Banyak yang diminta oleh penggemar maupun tetangganya saat pindah ke rumah yang saat ini ditempati. Bahkan, ada juga yang dijual di pasar loak. ”Karena nggak tahu kalau sekarang akan menjadi berharga. Kalau ditanya ya pasti gela (menyesal,Red),” ujarnya.

Kini, yang tersisa hanya foto-foto saat Masadi menjadi juara. Beberapa piagam juga masih ia simpan. Termasuk, sejumlah koran hasil liputan media yang merekam jejak karirnya di cabor dayung. ”Kalau piagam, banyak yang terkena banjir kemudian saya buang,” kata suami Nurmayanti itu.

Sang istri, kata Masadi, selalu mensupport dirinya. Ia mengenang, suatu hari, ketika bertanding di Singapura, Nurmayanti tidak memberitahukan kondisi anaknya yang masuk rumah sakit. Tujuannya, agar tidak mengganggu konsentrasi dan pikiran suami. ”Dia kasih tau ketika saya pulang,” ucapnya.

Saat ini, bakat atlet menurun kepada anak dan orang-orang di sekitarnya. Anak pertamanya, sempat mengukir prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional pada cabang olahraga yang sama. Sedangkan anak keduanya akan mengikuti Porprov. ”Dulu memang melatih. Tapi sekarang sudah tidak,” kata bapak empat anak ini.

Meskipun perhatian dari pemerintah masih kurang, toh Masadi masih memperhatikan olahraga dayung di Semarang. Ia berharap, pemerintah memberikan perhatian kepada olahraga ini, dengan memberikan bantuan peralatan. Dengan demikian, atlet di Semarang, dapat berlatih dengan lebih baik lagi. ”Soal hadiah, dulu waktu SEA Games, satu emas dapat Rp 2,5 juta. Saya belikan motor Astrea Star waktu itu. Kemudian, pas menterinya masih Andi Malarangeng, dapat hadiah rumah seharga Rp 125 juta,” pungkasnya. (sigit.andriyanto/isk)