Kawal Ambulans, Biasa Kena Semprot Pengguna Jalan

Lebih Dekat dengan Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Semarang

583
TUGAS SOSIAL: Sejumlah anggota Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Semarang siap mengawal perjalanan ambulans. (DOKUMENTASI IEA SEMARANG)
TUGAS SOSIAL: Sejumlah anggota Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Semarang siap mengawal perjalanan ambulans. (DOKUMENTASI IEA SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Raungan sirene ambulans seringkali tidak diindahkan oleh pengguna jalan raya untuk memberi jalan. Begitu juga kemacetan yang sulit ditembus. Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Semarang memberikan pendampingan pada ambulans sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

KEMACETAN menjadi salah satu permasalahan di kota-kota besar yang seringkali tidak terelakkan. Sayangnya, hal tersebut juga seringkali tidak dibarengi oleh kesadaran dalam mendahulukan ambulans yang akan melintas.

“Ambulans yang terjebak kemacetan, dan pengguna jalan lain yang tidak mau mengalah. Kondisi semacam ini tidak sekali dua kali kita dapati di jalan raya. Bahkan ada juga malah ambulans yang ditabrak” ujar Humas IEA Korwil Semarang, Khafidz Mahendra Putra kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hal ini yang lantas mendasari sejumlah pengendara sepeda motor dalam menginisiasi Indonesia Escorting Ambulance (IEA). Mereka secara sukarela mendampingi perjalanan ambulans agar lebih lancar sampai tujuan.

“Awalnya ada di Bekasi, kemudian gerakan pendampingan ambulans ini menyebar ke berbagai daerah, termasuk Semarang yang terbentuk pada 29 Juli tahun lalu,”kata Khafidz.

Pria yang berdomisili di Ungaran ini mengaku tertarik bergabung karena ia sering mendapati kondisi semacam tersebut selama perjalanan pulang dan pergi bekerja. Dari Ungaran ke Semarang dan sebaliknya.

“Saya suka merasa iba, sirene sudah meraung-raung, tapi ambulans tetap tidak dapat jalan. Padahal, bisa jadi yang di dalam situ dalam keadaan darurat, entah korban kecelakaan, entah karena apa dan butuh penanganan segera di rumah sakit. Karena itu bergabunglah saya di sini,”ungkapnya.

Kini, lanjut Khafidz, setidaknya terdapat 30 anggota yang bergabung dalam IEA Semarang. Terdiri atas berbagai kalangan dan tidak dibatasi. Selama sukarela dalam membantu dan tidak mengedepankan arogansi di jalan raya.

Ya, diakuinya, selama mengawal ambulans tak jarang mereka mendapat respon negatif dari sesama pengguna jalan. Mulai dari yang enggan memberikan muka masam hingga mengeluarkan kata-kata kasar.

“Pendampingan harus dilakukan dengan cara yang sopan dan tidak arogan. Kami beri kode ke pengemudi, minta tolong beri jalan. Meski begitu, tetap ada pengendara lain yang kadang tidak terima, kemudian ngedumel sampai mengeluarkan kata-kata kasar. Tapi bagaimanapun kami harus tetap sabar dan fokus melakukan pendampingan,”ujar pria kelahiran Jakarta ini.

Hal ini, lanjutnya, juga sebagai bentuk edukasi pada masyarakat. Sehingga diharapkan, ke depan meski tanpa adanya pengawalan dari IEA, para pengguna jalan dapat dengan otomatis memberikan jalan bagi ambulans yang akan melintas.

“Sebagai organisasi sosial, kami membantu secara sukarela, free. Saat bertemu ambulans di jalan, atau kadang dikabari melalui HT maupun grup WA,”katanya.

Ia menambahkan, dalam melakukan pendampingan ambulans, para anggota juga diwajibkan menggunakan kelengkapan berkendara. Baik dari segi kendaraan dengan kelengkapan standar seperti spion dan lampu, maupun dari sisi pengendara harus menggunakan helm standar, celana panjang, sepatu dan jaket.

“Keselamatan kita juga harus diperhatikan. Dengan penggunaan standar keselamatan, meninggalkan arogansi di jalan raya, selain membantu sesama, kami pun dapat menepis citra miring anak-anak motor,”ujarnya. (*/aro)