Kaki Bagas Renggang, Bagus Pernah Mati Suri

Bagas-Bagus, Matahari Kembar Asal Magelang yang Bersinar

2105

RADARSEMARANG.COM – Bagas dan Bagus, si kembar asal Secang, Kabupaten Magelang, menorehkan prestasi gemilang pada gelaran Piala AFF U-16 tahun 2018. Pemilik nama lengkap Amiruddin Bagus Kaffi Alfikri dan Amiruddin Bagas Kaffa Arrizqi itu, menjadi matahari kembar di Timnas U-16. Bagus bahkan menjadi pencetak gol terbanyak selama gelaran Piala AFF U-16.

RUMAH tua berukuran luas 850 meter per segi itu, lengang. Sejumlah mobil terparkir rapi di halaman rumah. Di area rumah berwarna krem itu, lahan kosong dibiarkan hijau dengan tebaran rumput. Sisanya, berupa tanah. Ya, rumah di Jalan Elo Jetis RT 01/RW 09 Sindas Pancuranmas, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, itu milik orang tua Bagas-Bagus.

Ayah si kembar Bagas-Bagus, Yuni Puji Istiono, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang akhir pekan lalu, masih tak menyangka, matahari kembarnya telah ikut membawa Timnas U-16 merengkuh gelar juara Piala AFF U-16.

Gelar juara yang tidak hanya dinanti-nantikan oleh seluruh punggawa Timnas U-16. Tetapi juga oleh seluruh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia begitu menaruh harapan pada Timnas U-16, mengingat Timnas U-19 hingga Timnas senior tak merengkuh prestasi moncer. Mantan Kepala Desa Pancuranmas itu merasa takjub dengan level permainan Bagus yang tegas dan dingin menjadi predator gol.

Yuni mengenang, Bagas-Bagus lahir dari rahim ibunya, Dewi Kartikasari. Tepatnya, di RSI Kota Magelang melalui persalinan normal, dibantu oleh dr Sunarko. Keduanya lahir pada 16 Januari 2002, dengan berat 2,6 kg. Selisih kelahiran keduanya hanya berselang waktu 5 menit. “Yang pertama Bagas. Kemudian, baru Bagus. Saat kelahiran Bagas, kaki Bagas agak renggang atau tak begitu lurus,” ucap Yuni.

Saat itu, Yuni sempat khawatir dengan posisi kaki Bagas. Karena itu, kaki bayi Bagas akhirnya sering dipijat di dukun bayi agar bisa lurus. “Saat itu, nenek Bagas-Bagus mengatakan, ndak apa-apa kalau kaki Bagas seperti itu. Besok pasti akan menjadi pemain bola andal,” kenang Yuni.

Yuni juga mengenang, memasuki usia 8 bulan, suatu hari Bagus tiba-tiba demam dan diare. Satu minggu lebih Bagus dirawat di RS Harapan Kota Magelang. Sore harinya, ucap Yuni, Bagas tiba-tiba panas dan muntah, sehingga dirujuk ke rumah sakit yang sama. “Mungkin ini ikatan batin yang kuat antara Bagas-Bagus. Sehingga jika satu sakit, maka lainnya ikut sakit. Karena memang dari keturunan saya dan ibunya ada garis kembar, sehingga sudah paham kondisi si kembar.”

Ketika duduk di bangku TK A, Bagus pernah menderita penyakit aneh. Ia pernah koma (mati suri) selama 6 hari. Sempat dirawat di RS Harapan Kota Magelang, sebelum akhirnya dirujuk ke RS Sardjito Yogyakarta. Data rekam medik menyatakan, Bagus tidak menderita sakit secara ilmu kedokteran.

Untuk itu, Bagus kecil, terpaksa dirawat di rumah sambil mencari pengobatan alternatif. Setelah menjalani rawat jalan di rumah, tutur Yuni, suatu pagi, Bagus bisa bangun sendiri seperti orang sehat dan meminta makan. “Entah saat itu Bagus seperti hidup kembali, normal layaknya anak lain.”

Saat dalam pengasuhan neneknya, Bagas-Bagus selalu diberi mainan bola plastik, sejak usia satu tahun hingga bersekolah di TK Assyifa Kampung Tulung Kota Magelang. Bagas-Bagus kecil juga selalu ditempatkan ke dalam boks mainan berukuran 1,5 meter x 2 meter dan diberi bola.

Pernah suatu hari, Bagas jatuh dari boks bayi dan luka sobek di pelipis kanan. Luka itu, sambung Yuni, tidak hilang, sehingga bisa menjadi pembeda antara Bagas dan Bagus. “Kemudian, Bagus pun ikut terjatuh. Anehnya, keduanya tidak menangis, tapi justru asyik main bola. Ibunya malah yang menangis melihat kondisi Bagas-Bagus.”

Kesenangan Bagas-Bagus terhadap bola, berlanjut ketika usia 6 tahun. Keduanya bersekolah di SDN 1 Pancuranmas. Guru olahraga si kembar, almarhum Maksum, pernah mengatakan bahwa si kembar akan menjadi pemain bola andal. Bersamaan dengan itu, Yuni memasukkan Bagas-Bagus di SSB Putra Harapan, di bawah asuhan Marsudi, Teguh Sutrisno, dan Yeyen.

Selain menuntaskan kesenangannya bermain bola, Bagas-Bagus, dalam kesehariannya, selalu bermain di lapangan maupun sawah tanpa alas kaki alias nyeker. Kesukaan bermain bola dengan cara nyeker, berlanjut hingga kelas 4 SD. Sehingga kulit kaki keduanya tebal. Satu sisi, faktor keluarga dan tetangga yang menyukai sepak bola, turut membentuk si kembar semakin cinta pada kulit bundar. “Tidak hanya pola jam berlatihnya, tapi juga asupan gizi dan jam istirahat saya perhatikan. Namanya juga masih anak-anak kadang masih kurang bisa membagi waktu,” kata Yuni.

Bakat sepak bola Bagas-Bagus pun semakin tampak. Keduanya rajin berlatih sendiri di lapangan bola dekat rumah. Kadang, di dalam rumah pun, main tendang-tendangan hingga mengakibatkan kaca jendela, kaca lemari, maupun barang-barang lainnya, menjadi rusak.

Bagas-Bagus tercatat pernah bergabung dengan SSB Gelora Putra Deltras (Sidoarjo), SSB Bromo, SSB Pesat Karanganyar, SSB Bogowonto, SSB Barito, SSB Blue Eagle (Jakarta), SSB Undip, dan SSB Putra Kalimantan Tengah. Juga tampil dalam tim sepakbola POPDA hingga akhirnya masuk dalam Tim PPSM Junior.

Keduanya juga menambah pengalaman dengan bergabung di klub Fren United Malaysia dan Chelsea Singapura, hingga resmi dimiliki oleh Akademi Chelsea Soccer serta menjadi brand ambassador Adidas.

Bagas dan Bagus juga pernah masuk Timnas U-13 dan meraih juara 1 di Filipina. Prestasi individu juga ditunjukkan Bagas, ketika menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejumlah turnamen. Seperti Piala Danrem 074, WRT Cup U-15 tahun 2017 dan Piala Menpora 2016. Sedangkan Bagus menjadi pencetak gol terbanyak Arema tahun 2016.

Bagas-Bagus sebenarnya memiliki kemampuan cukup lengkap, baik sebagai bek maupun penyerang. Hanya saja, lanjut Yuni, Bagas lebih sering menjadi bek dan gelandang tengah. Sedangkan Bagus menjadi penyerang. “Keduanya tidak pernah berpisah klub, karena ikatan di antara mereka begitu kuat. Terkadang, keduanya bertukar posisi dan memahami pergerakan masing-masing. Sehingga dalam setiap pertandingan, jika keduanya berduet, akan memberikan kombinasi serangan yang dahsyat.”

Yuni mengenang, pengalaman dan kemampuan Bagas-Bagus selama pertandingan U-13 menarik minat pelatih Timnas U-16, Fahri Husaini. Bagas-Bagus, kata Yuni, akhirnya ikut seleksi pemilihan pemain Timnas U-16 dan lolos. (agus.hadianto/isk)