Sempat Ditentang Keluarga, Ingin Banyak Buka Lapangan Pekerjaan

Ririh Ayu Widiyastuti, Alumnus Polines yang Memilih Jadi Enterpreneur

296
PANTANG MENYERAH: Ririh Ayu Widiyastuti di depan kedainya di Taman Kota Weleri. (MUSLIKHATUN AINI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANTANG MENYERAH: Ririh Ayu Widiyastuti di depan kedainya di Taman Kota Weleri. (MUSLIKHATUN AINI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Ririh Ayu Widiyastuti adalah alumnus Politeknik Negeri Semarang (Polines). Begitu lulus kuliah, ia mencoba menciptakan lapangan pekerjaan dengan menjadi seorang enterpreneur. Ia membuka kedai jajanan masa kini. Seperti apa?

MUSLIKHATUN AINI

KETIKA lulus kuliah dari D3 Akuntansi Polines, Ririh Ayu Widiyastuti sempat bingung akan bekerja di mana. Apalagi sekarang masuk dunia kerja sangatlah sulit. Hampir semua lulusan kuliah berlomba untuk menjadi karyawan. Hal itulah yang membuat Ayu –sapaan akrab gadis asal Weleri, Kendal ini untuk berwirausaha. Dengan modal uang tabungan, gadis 21 tahun ini memberanikan diri untuk mulai berjualan.  “Pertamanya saya berjualan delivery  yang saya pasarkan lewat media sosial, sampai saya memberanikan diri membuka kedai,” cerita Ririh Ayu kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hasil berjualan online, dia sisihkan untuk membeli gerobak kayu yang dipermak semenarik mungkin. Hingga saat ini ia sudah mendirikan kedai yang cukup luas di Area Taman Kota Weleri. Kedai itu ia beri nama Welcheks.  Awalnya, Welcheks hanya menjual ayam geprek dan smootie mangga yang pada saat itu sedang digandrungi masyarakat. Saat ini, Kedai Welcheks telah mempunyai beragam menu makanan dan minuman kekinian. Mulai ayam geprek, sate taichan, smootie mangga, steoberi dan alpukat, Thai Tea khas negeri Thailand hingga minuman hits dari negeri jiran, Es Kepal Milo.

Bahan baku pembuatan jajanan keinian yang Ayu jual tidaklah sulit. Karena hampir semua bumbu dan peralatan lainnya ia dapatkan di sekitar Kendal hingga Semarang. “Kalau bahan baku gampang didapat.  Untuk bahan baku sampai saat ini tak ada kendala,” katanya

Awal berjualan, Ayu sempat bingung. Ia sempat dibantu orang tuanya saja.  “Jadi, waktu itu apa-apa saya lakukan sendiri. Untung ada ibu dan bapak yang cukup membantu,” tuturnya.

Semakin lama kedai Welcheks tambah ramai. Gadis cantik ini pun memutuskan merekrut karyawan. Dalam mencari karyawan, ia sangat berhati-hati.  “Cari yang jujur dan bisa dipercaya,” katanya.

Sebenarnya, Ayu lahir dari keluarga yang lebih dari cukup. Kedua orangtuanya seorang PNS. Namun hal ini tidak membuat dara yang tinggal di Dusun Krajansari RT 3 RW 5, Desa Sambongsari, Weleri ini berpangku tangan. Semangat kerja dan sikap pantang menyerah ia tunjukkan agar orangtuanya yakin bahwa dia mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah tanpa harus menjadi pegawai kantoran.  “Dulu awalnya orangtua masih menginginkan saya mencari pekerjaan sesuai jurusan kuliah yang saya ambil, dan usaha ini hanya sebagai sampingan,” katanya.

Diakui, pro kontra datang dari keluarga terdekat saat ia memutuskan berwirausaha. Ada yang mendukung, ada pula yang meremehkan.  Namun hal tersebut tidak pernah dihiraukan. Gadis kelahiran 4 Desember 1996 ini membuktikan dirinya mampu menjadi wirausahawan muda yang terbilang sukses.  Sebab, dalam sebulan, omzet kedai Welcheks lebih dari Rp 75  juta, dan keuntungan puluhan juta rupiah.

Ayu berprinsip jika ingin memulai suatu pekerjaan jangan terlalu banyak memikirkan hal negatif, seperti ketakutan akan gagal. Selain itu, ia jangan selalu berharap akan mendapatkan kesuksesan yang instan. “Jualan rugi itu sudah biasa, sukses dan kepercayaan tidak hanya bisa dibangun dalam semalam saja, jalanin dengan tekun jangan lupa berdoa dan sedekah,” pesannya.  Kini, Ayu terus mengembangkan bisnisnya. Ke depan, ia berharap bisa membuka cabang di tempat lain. “Harapannya bisa membuka banyak lapangan pekerjaan,” harapnya. (*/aro)