Konsumen Dparagon Tuntut Uang Kembali

Ancam Mejahujaukan 

288
MEDIASI : Konsumen Dparagon dan kuasa hukumnya, Bob Horo melakukan audiensi dengan perwakilan perusahaan, Syarif Hidayat di rumah makan di Jalan Setiabudi Semarang, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEDIASI : Konsumen Dparagon dan kuasa hukumnya, Bob Horo melakukan audiensi dengan perwakilan perusahaan, Syarif Hidayat di rumah makan di Jalan Setiabudi Semarang, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Mangkraknya pembangunan apartemen PT Dparagon Labbaika Utama di Jalan Setiabudi Semarang sejak tahun 2015, kini berbuntut panjang. Konsumen yang terlanjur menyetorkan pembayaran apartemen, menuntut uang kembali. Jika tak dipenuhi, mengancam membawa persoalan tersebut ke jalur hukum.

Tuntutan tersebut disuarakan ketika audiensi antara konsumen yang didampingi pengacara dengan manajemen yang diwakili Syarif Hidayat di salah satu rumah makan di Jalan Setiabudi, Minggu (12/8) kemarin.

Kuasa hukum salah satu konsumen, Bob Horo mengatakan itu audiensi terakhir. Dalam audiensi tersebut mengundang berbagai pihak yakni Direktur PT Dparagon Labbaika Utama, Sanny Gunawan, Komisaris PT Dparagon Labbaika Utama, Dendi Nugaraha, M Syarif Hidayat mantan Direktur PT Dparagon Labbaika Utama, PT PP Properti Ahmad Nurohman, dan Angga Marketing dari Dpargaon.

“Dalam audiensi ini, kami ingin mempertemukan pihak-pihak terkait untuk memaparkan bukti tertulis yang dimiliki. Karena mereka saling menyalahkan. Namun yang datang hanya kuasa hukum Syarif Hidayat,” katanya kemarin.

Bob Horo menegaskan pihaknya akan menempuh jalur hukum baik nama bersama ataupun nama kliennya Agnes. Meski begitu, sudah banyak konsumen yang ingin bekerjasama. Ini karena kerugian kliennya cukup besar, mulai Rp 165 juta, Rp 330 juta sampai Rp 1 miliar. “Yang sudah sepakat bergabung dengan kami ada sekitar 10 konsumen dari 180 konsumen dengan kerugian total Rp 33 miliar,” tambahnya.

Menurutnya, jalur hukum yang ditempuh, lanjut dia, fokus memperjuangkan pengembalian uang kliennya. Apalagi dari beberapa kali audiensi, para pihak saling menyalahkan. Pihak Sanny Gunawan menyalahkan pihak Syarif Hidayat atas dugaan membawa uang perusahaan sehingga pembangunan apartemen tidak bisa dilakukan. Sementara versi dari Syarif Hidayat, uang yang diberikan oleh Sanny adalah uang kompensasi mundur dari jabatan direktur sejumlah Rp 15 miliar. “Yang dipermasalahkan tentu perkara pidana dan perdata. Namun secara korporasi, semua pihak harus bertangung jawab termasuk Syarif,” bebernya.

Sementara itu, kuasa hukum Syarif Hidayat, Moch Zulkarnain Al Mufti menerangkan bahwa mundurnya kliennya dari jabatan direktur Dpargon lantaran kliennya diminta melunasi pembelian lahan dan pembangunan proyek. Padahal kesepakan awal dengan Sanny Gunawan, pelunasan dilakukan jika proyek pembangunan berakhir. “Klien kami diminta mundur pada 25 Agustus 2016 lalu. Mundurnya klien kami sah secara hukum sesuai dengan RUPS dan sudah didaftarkan ke Kemenhumham,” ujarnya.

Sebelumnya, antara pihak Syarif dan Sanny, sepakat bekerjasama menggunakan perusahaan miliknya Syarif. Karena sudah tidak sejalan dan tidak sesuai perjanjian, lanjut Zulkarnain, kliennya akhirnya diminta mundur dan diberikan uang kompensasi sebesar Rp 15 miliar. “Jabatan diserahkan ke Sanny. Klein kami tidak punya hak dan kewajiban PT Dparagon termasuk pidana ataupun perdata. Bahkan uang kompenasi yang diberikan tidak bisa dicairkan oleh pihak kami,” tuturnya.

Setelah menjadi direktur, lanjut Zulkarnain, Sanny masih menjual apartemen kepada masyarakat. Selain itu, pasca kliennya mundur, kliennya sudah memberikan akses rekening terkait PT Dparagon kepada Sanny Gunawan. “Uang dari konsumen dulu langsung masuk ke rekening perusahaan, ketika mundur semua akses itu diserahkan kepada direktur yang baru,” tambahnya.

Pihaknya mengaku siap membantu konsumen dan akan kooperatif agar kasus tersebut cepat tuntas. Kliennya dan Sanny harus duduk bersama disatu meja untuk membeberkan bukti-bukti yang ada. Ia menyayangkan pihak Sanny tidak datang dalam audiensi kemarin. (den/ida)