Empat Desa Krisis Air Bersih

211

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Kemarau panjang tahun ini mengakibatkan sejumlah desa mengalami kekeringan. Setidaknya ada empat desa di Kecamatan Patebon yang mengalami kesulitan air bersih, yakni Desa Wonosari, Kumpulrejo, Bangunsari dan Kartikajaya.

Akibat kekeringan tersebut, warga di empat desa harus  mengambil air di sumber mata air yang jaraknya hingga dua kilometer. Selain itu warga ada yang membeli air untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

“Kalau warga yang mampu biasanya membeli air. Satu  jerigen kapasitas 20 liter warga membeli seharga Rp 3.000. Air sendiri diambil dari sumur mata air di Desa Wonosari,” kata Rohanah pengelola sumur Desa Wonosari.

Empat desa tersebut kebanyakan  sumurnya  kering. Jika tidak mengering, kebanyakan airnya  berwarna kekuningan dan rasa asin akibat pengaruh dari air laut. “Ada juga sebagian warga yang sudah memasang air dari PDAM Kendal, namun kebanyakan warga masih membeli dari air dari sumur ini,” katnaya.

Salah satu  penjual air bersih, Sumari  warga  Kumpulrejo, mengatakan musim kering ini diakuinya menjadi berkah bagi dirinya. Setidaknya ia bisa menjual air kepada warga yang memang tidak mau mengambil air sendiri.

Dalam sehari ia bisa mengantongi uang Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Ia mulai berjualan air sejak pukul 05.00-18.00. “Sebab sumur ada jam operasionalnya, yakni pagi sampai sore. Sementara malam hari, sumur ditutup oleh pengelola,” katanya.

Kamsijah warga Bangunsari mengatakan, sumur Desa Wonosari tersebut menjadi satu-satunya sumber air yang digunakan warga empat desa. Sehingga setiap hari slelau ramai didatangi warga. “Warga setiap hari antri untuk mengambil air bersih,” tuutrnya.

Ia mengaku setiap hari harus membeli empat jerigen untuk kebutuhan minum dan memasak.  Sedangkan untuk mencuci maupun mandi, ia memakai air sumur meskipun rasanya agak asin. Sumur tersebut diakuinya, merupakan milik Desa yang dilekola Lembaga Pemasyarakatan  Desa Wonosari. (bud/bas)